24 Okt

“Datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat."
(Rm 8:12-17; Luk 13:10-17)
Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.  Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh."  Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.  Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?  Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?"  Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya. ” (Luk 13:10-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·    Cintakasih nilainya lebih tinggi dari pada aneka tata tertib atau peraturan apapun, karena cintkasih menjiwai aneka tata tertib dan peraturan, sebaliknya sasaran utama dari tata tertib dan peraturan adalah agar mereka yang melaksanakan hidup saling mencintai. Memang mereka yang telalu bersikap mental legalistis pada umumnya kurang memperhatikan cintakasih dalam cara hidup dan cara bertindaknya atau bahkan melanggar dan melecehkan cintakasih. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita dapat hidup, tumbuh-berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena cintakasih, tanpa cintakasih kita tidak ada, tidak tumbuh-berkembang. Maka marilah kita senantiasa mengutamakan dan mengedepankan cintkasih dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Perkenankan pertama-tama saya mengajak dan mengingatkan para orangtua dan pendidik atau guru untuk mendidik dan mendampingi anak-anak dengan semangat cintakasih dan kebebasan sejati. Cintakasih itu bebas, tak terbatas, sedangkan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Kita dengan bebas merdeka melakukan apapun asal tidak melanggar atau melecehkan cintakasih. Penghayatan cintakasih tertinggi adalah hormat dan menjunjung tinggi semua ciptaan Allah, terutama manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Silahkan melalukan apapun asal tidak melecehkan harkat martabat manusia demi keselamatan jiwa manusia.
·   Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:16-17). Sebagai orang beriman atau beragama kita adalah ‘anak-anak Allah’, artinya orang yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah dimanapun dan kapanpun, maka marilah kita mawas diri apakah kita layak disebut sebagai anak-anak Allah. Memang sebagai orang yang taat dan setia kepada kehendak dan perintah Allah kita tak akan terlepas dari aneka macam tantangan, hambatan, masalah dan penderitaan. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, marilah kita renungkan bahwa demi keselamatan jiwa seluruh umat manusia Yesus telah rela menderita dan wafat di kayu salib. Hal itu terjadi karena kesetiaanNya pada tugas pengutusan yang harus dilaksanakanNya. Maka ketika dalam melaksanakan tugas pengutusan kita menghadapi tantangan berat dan harus menderita, tataplah dengan rendah hati dan hormat Salib Yesus, maka anda akan menerima kekuatan dan rahmat untuk mengatasi tantangan dan derita tersebut, dan dengan demikian sukses dalam melaksanakan tugas pengutusan. Marilah dengan ulet kita hadapi dan kerjakan tugas pengutusan yang diserahkan kepada kita. “Ulet adalah sikap dan perilaku yang tetap bertahan meskipun menghadapi hambatan-hambatan yang sangat besar atau sulit, tidak  mudah putus asa” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 29)
“Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan” (Mzm 68:2.6-7b)
Ign 24 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply