24 Jan – Neh 8:3-5a.6-7.9-11; 1Kor 12:12-30; Luk 1:1-4; 4:14-21

“Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik”

 Mg Biasa III: Neh 8:3-5a.6-7.9-11; 1Kor 12:12-30;  Luk 1:1-4; 4:14-21


Setiap pengikraran, janji, peresmian, pelantikan, pengukuhan, dst..pada umumnya merupakan kabar baik, misalnya saat-saat pembaptisan, saling menerimakan Sakramen Perkawinan, tahbisan imam, kaul membiara, sumpah jabatan, dst.. Di balik kabar baik yang menggembirakan tersebut terkandung harapan atau dambaan bahwa mereka akan melalukan sesuatu yang berguna bagi kebahagiaan dan kesejahteraan mereka sendiri maupun sesamanya, karena dalam pengikraran, janji, peresmian, pelantikan, pengukuhan tersebut mengandung panggilan atau tugas perutusan yang harus dihayati dan dilaksanakan. Hemat saya semuanya itu dapat mengambil inspirasi dari apa yang terjadi dalam diri Yesus sebagaimana diwartakan dalam Warta Gembira hari ini :”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”(Luk 4:18-19). Maka marilah kita yang telah berjanji, diresmikan, dilantik dst. mawas diri dengan bantuan kutipan Warta Gembira di atas ini; kita diutus untuk meneladan Yesus sebagai pewarta-pewarta kabar baik:

 

1)      Menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Jika kita cermati masyarakat kita, kiranya masih banyak mereka yang miskin, entah secara material maupun spiritual. Baik kepada yang miskin secara material maupun spiritual, kita dipanggil untuk menyampaikan kabar baik. Kabar baik bagi yang miskin secara material berarti materi atau harta benda dan uang, yang mereka butuhkan untuk hidup layak dan sejahtera, maka baiklah kita berani menyisihkan sebagian harta kekayaan kita dan kemudian kita sumbangkan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan secara material tersebut. Penyampaian sumbangan dapat secara pribadi dan langsung atau melalui lembaga-lembaga sosial pemerhati orang-orang miskin. Miskin secara spiritual berarti berdosa atau tidak/kurang bermoral, maka kepada mereka kita sampaikan kasih pengampunan serta tuntunan atau bimbingan untuk bertobat dan memperbaharui diri. Hendaknya dengan rendah hati dan lemah lembut kita bersikap terhadap mereka yang miskin secara spiritual.

2)      Memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan. Orang-orang tawanan berarti mereka yang ditawan secara phisik maupun spiritual; secara phisik adalah mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakatan atau penjara, sedangkan secara spiritual adalah mereka yang terikat oleh nafsu-nafsu yang tak teratur, terkait dengan aneka kenikmatan duniawi seperti makan, minum, narkoba, seks, dst., sehingga cara hidup mereka tak teratur alias amburadul. Kepada mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakatan baiklah kita kunjungi jika mungkin dan kalau tidak mungkin kita doakan. Sedangkan mereka yang tertawan oleh kelekatan atau nafsu tak teratur, baiklah dengan rendah hati kita tegor dan peringatkan. Kita beritahu bahaya-bahaya yang mengancam hidup mereka karena kenikmatan atau kelekatan tak teratur dan kemudian kita bimbing mereka ke cara hidup yang baik dan benar.   

3)      Memberitakan penglihatan bagi orang-orang buta. Yang dimaksudkan orang buta disini kiranya baik buta secara phisik maupun spiritual. Kepada mereka yang buta secara phisik mungkin sulit bagi kita untuk menyembuhkan agar mereka dapat melihat, maka baiklah kita beri perhatian mereka yang buta secara spiritual. Buta secara spiritual antara tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk  maupun benar dan salah. Kebutaan macam ini dapat terjadi karena yang bersangkutan tidak pernah mawas diri atau melakukan pemeriksaan batin. Maka baiklah kepada mereka ini kita bimbing untuk mawas diri atau pemeriksaan batin, tentu saja kita sendiri telah terbiasa mawas diri atau memeriksa batin kita sendiri, syukur mahir dalam mawas diri atau pembedaan roh. Salah satu cara awal yang baik untuk membimbing dalam hal mawas diri dan pemeriksaan batin antara lain yang bersangkutan hendaknya diperlihatkan apa yang baik dan benar dan kemudian diajak untuk melaksanakan atau menghayatinya. Dengan membiasakan diri untuk melakukan apa yang benar dan baik, maka yang bersangkutan akan terbantu untuk mawas diri atau pemeriksaan batin dengan baik dan benar juga. 

4)      Membebaskan orang-orang yang tertindas. Ada orang yang tertindas secara phisik maupun spiritual. Untuk membebaskan mereka yang tertindas secara phisik kita harus menegor dan mengingatkan mereka yang menindas untuk tidak menindas; mereka yang menindas pada umumnya mereka yang berada ‘di atas’ seperti pemimpin, manajer, direktur, ketua, orangtua, kakak, dst… Yang cukup banyak terjadi hemat saya adalah mereka yang tertindas secara spiritual alias dikuasai oleh cita-cita, impian, harapan, dambaan yang mustahil untuk dicapai. Maka kepada mereka ini kita bimbing untuk lebih mengenal diri sendiri dengan tepat dan benar, dan kemudian menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada. Mereka kita tuntun dan ajak untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada; menerima diri apa adanya dan kemudian berusaha mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan.    

5)      Memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Rahmat Tuhan adalah hidup mulia, damai sejahtera, selamat dan bahagia, maka memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang berarti  menyampakan apa yang membuat orang lain hidup mulia, damai sejahtera, selamat dan bahagia, berarti hidup berbudi pekerti luhur atas cerdas spiritual. Kita beritakan nilai-nilai yang terkandung dalam berbudi pekerti luhur, yaitu “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)

 

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27)

 

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Korintus di atas ini merupakan peringatan atau ajakan bagi kita semua untuk hidup dalam persaudaraan dan persahabatan sejati atau persatuan. Kita semua sama-sama anggota dan kepala kita adalah Kristus. Sebagai sesama saudara atau sahabat kiranya kita prihatin atau sedih dan menderita jika di antara saudara atau sahabat kita ada yang miskin, buta, tertawan dan  tertindas. Marilah kita buka mata dan telinga kita untuk melihat dan mendengarkan apakah ada saudara atau sahabat kita yang miskin, buta, tertawan dan tertindas; jika ada marilah kita sampaikan ‘rahmat Tuhan’ kepada mereka. Kami berharap kehadiran dan kedatangan kita dimanapun dan kapanpun dapat meneladan atau menghayati apa yang disabdakan oleh Yesus “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." (Luk 4:21), artinya kehadiran dan kedatangan kita senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan orang lain. Tentu saja hal itu mengandaikan kita sendiri selamat dan bahagia, Roh Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita; kita menghayati diri sebagai yang telah ‘terurapi’, setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan, menghayati aneka aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita. 

 

“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya” (Mzm 19:8-10)

 

Jakarta, 24 Januari 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: