23 spt

"Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”
(Hag 2:1b-10: Luk 9:19-22)

” Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia,
ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah
bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku
ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka
dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa
pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak
penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli
Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk
9:19-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Padre Pio,
imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
•        Padre Pio menerima anugerah Tuhan berupa stigmata, yaitu luka-luka
berdarah pada kaki, tangan dan lambungnya. Namun apa yang dialami
tersebut mendapat tantangan dan ancaman dari saudara-saudarinya, para
imam bahkan dari Vatikan. Ia dituduh kerasukan setan. Memang mujizat
pada awalnya senantiasa mendapat kecurigaan dan ketidak-percayaan dari
orang lain, termasuk dari mereka yang berkuasa atau berwenang.
Anugerah Tuhan secara khusus memang menimbulkan pertanyaan dan
kecurigaan, sebagaimana banyak orang kurang percaya kepada Yang
Tersalib. Dalam Warta Gembira hari ini Petrus menyatakan imannya
kepada Yesus bahwa Ia adalah “Mesias dari Allah”, namun Yesus melarang
untuk memberitahukan hal itu kepada siapapun, karena para pengikut
atau pendengarNya belum siap untuk mengimani seutuhnya. Setia beriman
kepada Yesus atau Allah berarti harus siap sedia dan rela menanggung
banyak penderitaan karena kesetiaannya. “Setia adalah sikap dan
perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian
yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman
Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Kami mengajak
kita semua, segenap umat beriman atau beragama, untuk setia pada
ajaran utama dari agamanya masing-masing, yang tidak lain adalah sama,
yaitu saling mengasihi. Semua agama(cq pendiri agama!) pasti
mengajarkan cintakasih dan mendambakan para pemeluk atau pengikutnya
hidup saling mengasihi dengan siapapun dan dimanapun. Ketika dihina,
dilecehkan atau direndahkan tetap  mengasihi mereka yang menghina,
melecehkan atau merendahkan, memang untuk itu secara phisik,
psikologis maupun sosial merasa sakit dan menderita; jika demikian
adanya hayatilah sakit dan derita tersebut dengan gembira dan
bergairah, dan secara khusus kepada  yang beriman kepada Yesus Kristus
hendaknya berbahagia karena telah diperkenakan untuk berpartisipasi
dalam penderitaan dan sengsaraNya.
•       “Sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman
TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN;
bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN
semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada
waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di
tengah-tengahmu. Janganlah takut” (Hag 2:5-6). Kutipan ini kiranya
dapat menjadi pegangan atau pedoman hidup dan bertindak kita dimanapun
dan kapanpun. Marilah tetap teguh hati dalam melakukan apapun asal
baik dan menyelamatkan serta membahagiakan, terutama keselamatan atau
kebahagiaan jiwa, meskipun untuk itu harus bekerja keras dan
menderita. “Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut”,
inilah firman yang hendaknya menjadi pedoman dan pegangan kita dalam
hidup dan bertindak. Tuhan senantiasa menyertai dan menjiwai siapapun
yang berkehendak dan bertindak baik, maka bersama dan bersatu dengan
Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka tantangan, hambatan dan
penderitaan. Rekan-rekan ibu atau perempuan yang pernah melahirkan
anak kiranya memiliki pengalaman dalam menghadapi dan mengalami
penderitaan, maka kami berharap untuk meneguhkan dan mengembangkan
pengalaman tersebut dalam hidup sehari-hari serta kemudian
menyebarluaskan kepada sesamanya. Bukankah ketika sedang melahirkan
anak mengalami penderitaan dan meskipun demikian tidak takut
sedikitpun? Penderitaan yang lahir dari kesetiaan pada iman, panggilan
dan tugas pengutusan adalah wahana atau jalan menuju ke keselamatan
dan kebahagiaan sejati yang tak akan luntur. Maka tetap bersyukur dan
berterima kasihlah ketika setia pada panggilan dan tugas pengutusan
harus menderita!.
“Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku
kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir. Engkau
yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada
bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya.
Ikatlah pedangmu pada pinggang, hai pahlawan, dalam keagunganmu dan
semarakmu!” (Mzm 45:2-4)

Ign 23 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: