22 nov – Why 14:1-3.4b-5; Luk 21:1-4)

“Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

(Why 14:1-3.4b-5; Luk 21:1-4)

 

“Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (Luk 21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Cesilia, perawan dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang kaya pada umumnya penuh dengan perhitungan untung-rugi alias apakah akan ada keuntungan yang menjanjikan dalam melakukan segala sesuatu. Misalnya ada ajakan untuk melakukan sesuatu, yang sebenarnya baik, terlalu banyak berpikir dan akhirnya mangkir. Sebaliknya orang-orang miskin ketika menerima ajakan untuk melakukan sesuatu, tanpa pikir dan aneh-aneh, segera melakukannya dengan sepenuh hati. “Mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” , demikian sabda Yesus menanggapi apa yang dilakukan oleh orang-orang kaya dan janda miskin dalam memberi persembahan. Kebetulan hari ini kita juga merayakan St.Cesilia, perawan dan martir, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, meskipun untuk itu harus menghadapi tantangan dan ancaman untuk dibunuh. Pembunuhan Cesilia merupakan peneguhan atas persembahan diri seutuhnya kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk meneladan janda miskin atau St.Cesilia, yang “memberi dari kekuranganya, bahkan memberi seluruh nafkahnya”. Dengan kata lain kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk menghayati segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, dan kemudian kita persembahkan kembali kepadaNya melalui saudara-saudari kita, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Hendaknya jangan memberi dari kelimpahannya yang berarti membuang sampah, dan dengan demikian memperlakukan penerima sebagai tempat sampah. Memberi dari kekurangaan itulah yang indah, mulia, luhur dan membahagiakan.


·   Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu“(Why 14:3). Baiklah kutipan ini kita fahami bahwa kita sebagai ‘yang telah ditebus dari bumi’  dipanggil untuk menghayati hidup baru, hidup dan bertindak hanya mengikuti kehendak Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Dengan kata lain saya mengajak kita semua untuk mawas diri perihal rahmat baptisan yang telah kita terima, dimana pada saat dibaptis kita berjanji untuk hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan. Rahmat baptis merupakan dasar hidup beriman bagi kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Apakah kita setia menghayati janji baptis tersebut? Jika kita dengan rendah hati serta bantuan rahmat Tuhan dapat menghayati janji baptis dengan baik dan benar setiap hari, maka saya percaya kita akan mampu menghayati panggilan khusus kita masing-masing dengan baik juga. Sebagai suami-isteri yang telah dibaptis, jika masing-masing setia pada janji baptis maka mereka akan setia pada janji perkawinan untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Sebagai imam atau anggota lembaga hidup bakti (bruder atau suster) jika setia menghayati janji baptis, maka akan semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesamanya atau mereka yang harus dilayani dalam tugas pengutusan. Secara khusus saya mengingatkan mereka yang berkeluarga atau para suami-isteri untuk saling memberi dari kekurangan atau seluruh pribadinya, sehingga dapat menjadi teladan bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka berdua.  Hal ini saya ingatkan karena apa yang terjadi atau dialami di dalam keluarga akan menjadi dasar dan modal untuk dikembangkan lebih lanjut di sekolah atau di masyarakat. Semoga janda miskin atau St.Cesilia sungguh dapat menjadi teladan bagi kita semua sebagai orang beriman.

 

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan” (Mzm 24:1-4)

 

Jakarta, 22 November 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: