22 Juni – Kej 15:1-12. 17-18; Mat 7:15-20

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka”

(Kej 15:1-12. 17-18; Mat 7:15-20)

 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.  Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?  Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.  Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Mat 7:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kacang mongso tinggalo lanjaran”, demikian peribahasa bahasa Jawa yang maksudnya tidak lain adalah anak-anak pasti mewarisinya sikap hidup dan cara bertindak orangtuanya, dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak orangtua dapat dikenali melalui anak-anaknya, cara hidup pemimpin atau atasan dapat dikenali melalui anggota atau bawahannya dst.. Kita semua kiranya berkehendak untuk mewariskan apa yang baik, indah, luhur dan mulia kepada anak-cucu kita, generasi penerus atau muda-mudi kita, rakyat atau bangsa kita, dst.. Maka kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga mempengaruhi mereka yang kena pengaruhnya. Sabda Yesus hari ini juga mengingatkan kita semua agar kita bertindak sebaik mungkin sesuai dengan kehendak Tuhan. Keunggulan keutamaan hidup beriman terletak pada tindakan bukan omongan, perilaku bukan wacana. Apa yang akan kita lakukan atau perbuat sangat tergantung pada apa yang kita pikirkan atau cita-citakan, maka marilah kita senantiasa berpikir baik, mencita-citakan apa yang baik dan berbudi pekerti luhur. Hal ini kiranya dapat kita latih atau biasakan setiap hari ketika bangun tidur di pagi hari: hendaknya begitu bangun langsung berdoa dan bersyukur kepada Tuhan bahwa masih dianugerahi kehidupan seraya mohon agar hari ini dapat hidup baik sesuai dengan kehendakNya, menghayati panggilan sebaik mungkin, melaksanakan tugas pekerjaan dan kewajiban seoptimal mungkin. Mungkin baik juga di pagi hari langsung berkata dengan mantap “Success in my life”, sebagaimana dicanangkan oleh Andrie Wongso, promotor Indonesia. Kita semua juga dipanggil untuk cermat dalam memilah dan memilih aneka tawaran yang disampaikan kepada kita, dan hendaknya memilih apa-apa yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan jiwa manusia.    

·    "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat” (Kej 15:18), demikian firman Allah kepada Abram. Yang harus menjadi tugas dan kewajiban berat dan mulia adalah Abram, namun yang menikmati hasilnya adalah keturunannya, itulah isi firman Allah kepada Abram. Firman ini kiranya baik menjadi bahan permenungan bagi  para pemimpin, orangtua, guru atau pendamping. Marilah kita laksanakan panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban kita dengan sungguh-sungguh, pengorbanan dan kerja keras; mungkin kita tidak akan langsung menikmati hasilnya, melainkan mereka yang kita layanilah yang akan menikmati hasilnya. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak para orangtua untuk dengan sungguh-sungguh, dengan pengorbanan dan kerja keras mewariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan bagi anak-anaknya alias hendaknya dalam mendidik atau mendampingi anak-anak yang menjadi tujuan utama dan pertama-tama adalah agar anak tumbuh berkembang menjadi pribadi baik, dan hal ini hendaknya juga diteruskan dan diperdalam di sekolah-sekolah. Mendidik atau mendampingi anak-anak atau peserta didik untuk menjadi pribadi baik memang lebih sulit daripada menjadi pribadi pintar; mendidik agar anak cerdas secara spiritual lebih sulit dan berat daripada agar anak cerdas secara intelektual. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika orangtua atau guru/pendidik lebih mengutamakan atau mengedepankan pentingnya pendidik nilai atau budi pekerti, maka anak-anak atau peserta didik dalam perjalanan  tugas belajar berikutnya akan sukses, melebihi apa yang telah dicapai sebelumnya. Anak-anak atau peserta didik hendaknya dibekali sikap mental ‘climber’ (pemanjat), yang berarti terus menerus meningkatkan dan memperdalam kemampuan, kepribadian dan keterampilannya sampai mati atau dipanggil Tuhan.

“Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah namaNya, perkenalkanlah perbuatanNya di antara bangsa-bangsa. Bernyanyilah bagiNya, bermazmurlah bagiNya, percakapkanlah segala perbuatanNya yang ajaib” (Mzm 105:1-2)

Ign 22 Juni 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: