22 Jan -Ibr 9:2-3.11-14; Mrk 3:20-21

“Kata mereka Ia tidak waras lagi”

(Ibr 9:2-3.11-14; Mrk 3:20-21)

 

“Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.”(Mrk 3:20-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kegiatan dalam rangka menyambut kunjungan pastoral Paus Yohanes Paulus II di Indonesia, antara lain di Yogyakarta, wilayah Keuskupan Agung Semarang, cukup menyita tenaga dan waktu saya. Maklum waktu itu saya sebagai Ekonom KAS sekaligus bertanggungjawab perihal pembeayaan dll, sehingga saya harus cukup banyak menghadiri rapat dan mengerjakan aneka tugas, lebih-lebih minggu-minggu/hari-hari terakhir menjelang hari ‘H”. Dengan kata lain selama kurang lebih dua minggu terakhir menjelang hari ‘H’ saya kurang istirahat dan tidur, serta makan pun sering terlupakan. Senior kami, seorang Yesuit, yang kebetulan menjadi staf Provinsi SJ di Indonesia, memperhatikan saya, maka ia memberi nasihat:”Nanti setelah kunjungan Paus kamu harus istirahat/libur, supaya jangan jatuh sakit”. Setelah kunjungan Paus saya tak istirahat atau libur serta tetap bekerja seperti biasa, dan tidak jatuh sakit. Pengalaman pribadi ini saya angkat setelah merenungkan kutipan di atas dimana karena Yesus bekerja keras dalam rangka menjalankan tugas pengutusanNya sehingga ‘makan pun mereka tidak dapat’ , dinilai tidak waras lagi. Bekerja atau melaksanakan tugas pengutusan dengan gembira, ceria dan bergairah memang tak merasa lelah, meskipun kurang istirahat, makan atau tidur, itulah pengalaman saya pribadi. Nikmati saja apa yang ada di depan anda, yang harus dikerjakan atau dilaksanakan: nikmati dengan gembira, gairah dan ceria. Menghadapi atau mengerjakan segala sesuatu dengan gembira, ceria dan gairah berarti ‘otak sadar’ dan ‘otak bawah sadar’ kita berfungsi secara prima, sehingga kita tetap tegar dan tabah serta sehat wal’agiat, segar bugar, tak akan merasa lelah serta kemungkinan jatuh sakit kecil sekali. Sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk mewartakan kabar gembira, maka selayaknya kita hayati dengan gembira dan ceria pula. Nikmati dan cintailah segala sesuatu yang harus anda hadapi dan kerjakan.


·   Jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup“(Ibr 9:13-14). Yesus, Penyelamat Dunia, telah mempersembahkan Diri seutuhNya kepada Allah, dengan menyelamatkan dunia seisinya sampai Ia wafat di kayu salib. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, dan iman harus menjadi nyata dalam perbuatan. Perbuatan nyata hidup beriman berarti dengan sukarela dan sepenuh hati mempersembahkan diri kepada saudara-saudari kita maupun aneka macam pekerjaan, tugas pengutusan atau kewajiban. Maka kami berharap kepada anda sekalian untuk menghadapi dan mengerjakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Hadapi dan kerjakan segala sesuatu dengan positif, gigih dan sungguh-sungguh. Hendaknya jangan melakukan pekerjaan yang sia-sia. Bekerja keras perlu diimbangi atau disertai dengan doa: “Ora et Labora” (Berdoalah dan bekerjalah). Berdoa hendaknya menjiwai bekerja dan sebaliknya bekerja menjiwai berdoa, sehingga entah berdoa atau bekerja sungguh berkwalitas, bermakna atau bernilai. Dengan kata lain hayati bekerja bagaikan sedang berdoa, sehingga suasana kerja bagaikan suasana doa, rekan bekerja bagaikan rekan berdoa, sikap bekerja bagaikan sikap berdoa, perawatan sarana kerja bagaikan perawatan sarana doa dst.. Temukan atau hayati kehadiran dan karya Tuhan dalam segala sesuatu, hayati segala sesuatu dalam dan bersama dengan Tuhan.

 

“Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah ” (Mzm 47:2-3.6-7)

 

Jakarta, 22 Januari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: