21 spt

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa”
(Ef 4:1-7.11-13; Mat 9:9-13)

” Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama
Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku."
Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan
di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan
makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang
Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus:
"Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang
berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang
memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah
arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan
persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa.”(Mat 9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.
Matius, rasul dan pengarang Injil, hari ini saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       Yesus adalah Penyelamat Dunia, artinya Ia datang di dunia untuk
menyelamatkan bagian dunia yang tidak selamat, menyembuhkan yang
sakit, membimbing orang tersesat, mengampuni orang berdosa, mendidik
mereka yang kurang terdidik, dst.. “Yang Kukehendaki ialah belas
kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil
orang benar, melainkan orang berdosa”, demikian sabdaNya. St Matius
yang kita kenangkan hari ini memang termasuk dalam kalangan
orang-orang berdosa (dosa structural), yaitu sebagai kepala pemungut
pajak. Kiranya sejak dahulu sampai sekarang sudah menjadi kebiasaan
bahwa para petugas pajak senantiasa terjebak untuk manipulasi atau
korupsi; orang-orang berkehendak baik sering tak mampu lagi bertahan
diri sehingga terbawa arus dalam manipulasi atau korupsi demi memenuhi
kebutuhan hidup sosial-ekonominya. Matius kiranya termasuk orang yang
berkehendak baik, maka ketika mendengar panggilan Yesus ia langsung
meninggalkan jabatannya sebagai kepala pemungut pajak. Orang-orang
Farisi bersungut-sungut atas apa yang dilakukan oleh Yesus. Sebagai
orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk
meneladanNya, yaitu berpartisipasi dalam karya penyelamatan. Maka
baiklah jika saudara-saudari kita bersalah hendaknya dengan rendah
hati diampuni, yang frustrasi kita dekati dalam kasih untuk bangkit
dan bergairah, yang bodoh kita dampingi dengan kesabaran, ketekunan
dan pengorbanan agar cerdas atau pandai, yang kurangajar kita beri
ajaran-ajaran sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya, dst.. Kami
percaya bahwa di sekolah atau tempat kerja/usaha kita pasti ada yang
kurangajar, kurang bermoral dst.., maka baiklah mereka kita tolong dan
dampingi agar terbebaskan dari kekurangajarannya maupun kenakalannya.
Secara khusus kami berharap kepada para orangtua untuk lebih
memperhatikan anak-anaknya yang lemah, bodoh, nakal, kurang sehat
dst.., dan untuk menghindari hal itu hendaknya sedini mungkin
anak-anak diberi gizi yang baik serta perhatian yang memadai dari
orangtua.
•       “Aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan,
supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan
dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut,
dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.Dan
berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Ef
4:1-3), demikian nasihat Paulus kepada umat di Efesus, yang hendaknya
kita hayati juga sebagai nasihat bagi kita semua yang beriman kepada
Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk senantiasa hidup dan bertindak
dengan rendah hati, lemah lembut dan sabar untuk membangun dan
memperdalam hidup bersama yang damai sejahtera. Telah berkali-kali
saya mengingatkan agar kita hidup dan bertindak dengan rendah hati.
Rendah hati merupakan keutamaan dasar kebalikan dari kesombongan.
Orang yang rendah hati senantiasa hati, jiwa, akal budi dan tubuhnya
terbuka atas berbagai ajakan, sentuhan, nasihat, ajaran, informasi
dst.., dengan kata lain senantiasa siap sedia dan rela untuk dididik,
dibina, ditumbuh-kembangkan, diajar, diberi tahu, dituntun dst… Dengan
lain orang bersikap mental belajar terus-menerus sampai mati. Kami
berharap semakin tua/tambah usia, semakin berpengalaman, semakin
pandai/cerdas, semakin berkedudukan dan berpengaruh dalam hidup
bersama berarti semakin rendah hati, lemah lembut dan sabar. Kita
dipanggil untuk membangun dan memperdalam kesatuan hidup bersama dalam
ikatan Roh, semangat, visi-misi dst.. Maka perkenankan kami mengajak
dan mengingatkan segenap anggota lembaga hidup bakti untuk memperdalam
penghayatan semangat atau karisma pendiri, sedangkan kita semua yang
beriman kepada  Yesus Kristus hendaknya memperdalam penghayatan iman
kepada Yesus Kristus, sehingga layak disebut sebagai sahabat-sahabat
Yesus.
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan
malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan
tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka
terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.
Ia  memasang kemah di langit untuk matahari,”
 (Mzm 19:2-5) Ign 21 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: