21 Maret – Dan 9:4b-10

“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati."

(Dan 9:4b-10)

 

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.""Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Luk 6:36-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Murah hati” secara harafiah kiranya dapat diartikan ‘hatinya dijual murah’ alias memberi perhatian kepada siapapun dan dimanapun tanpa pandang bulu, sebagaimana Allah juga memperhatikan semua ciptaanNya di bumi ini. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima perhatian dari Allah secara melimpah ruah melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita, memperhatikan kita dengan atau melalui aneka cara dan bentuk. Entah telah berapa ribu orang yang telah memperhatikan kita, kita tak sempat atau tak mampu menghitung atau mengingatnya., maka selayaknya kita memperhatikan semua orang alias meneruskan kemurahan hati tersebut kepada saudara-saudari atau sesama kita. Maka baiklah kita perhatikan lebih-lebih atau terutama mereka yang kurang menerima perhatian, misalnya yang miskin dan menderita, sakit, terasing atau terpenjara atau tinggal di daerah terpencil, yang kesepian, dst.. Jika mungkin pertama-tama kita kurbankan waktu dan tenaga kita untuk mendatangi mereka yang harus diperhatikan, dan ketika melihat apa yang mereka butuhkan untuk hidup sehat dan sejahtera, baiklah kita menyisihkan sebagian harta benda atau uang kita guna membantu mereka. Namun jika tak mungkin memberi perhatian secara phisik, baiklah di masa Prapaskah ini kita mendoakan mereka yang harus atau minta kita doakan. Kami berharap keutamaan ‘bermurah hati’ ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan contoh atau teladan dari para orangtua, dan kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah. Tidak bermurah hati berarti tidak beriman atau tidak percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Para pemuka agama atau masyarakat dan Negara kami harapkan juga dapat menjadi teladan bermurah hati serta membina warganya untuk bermurah hati.

·   “Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau. Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia, dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya“(Dan 9:8-10), demikian pengakuan dosa Daniel. Masa Prapaskah adalah masa mawas diri, menyadari kelemahan, kerapuhan dan dosa serta kasih karunia atau pengampunan  Allah. “Dengan kata ‘dosa’ dimaksudkan bahwa yang diganggu adalah hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah yang ‘seharusnya’ ada, ternyata tidak ada. Itu bisa kesalahan manusia sendiri, atau kesalahan oran lain” (KWI: IMAN KATOLIK: Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 282). Manusia sebagai ciptaan Allah tidak ada hubungan dengan Allah berarti berdosa, atau hubungan dengan Allah tidak mulus atau lancar. Memang kemesraan hubungan dengan Allah hemat saya juga menjadi nyata dalam kemesraan hubungan dengan sesama  manusia. Dengan kata lain mengakui diri sebagai orang beriman, yang berhubungan dengan Allah, seharusnya senantiasa berhubungan mesra dengan siapapun, alias tidak memusuhi orang lain, meskipun dirinya dimusuhi. Maka baiklah di masa Prapaskah ini kita mawas diri: apakah kita memusuhi orang lain dengan bentuk atau cara apapun. Jika kita memusuhi orang lain marilah dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita serta mohon kasih pengampunannya. Pada masa Prapaskah ini kiranya kita juga baik jika mawas diri perihal sikap kita terhadap aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan atau pekerjaan kita. Ingatlah dan sadarilah bahwa aneka macam tata tertib merupakan sarana bagi kita semua agar tetap setia berhubungan mesra dengan Allah maupun sesama atau saudara-saudari kita.

 

Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh! Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun

(Mzm 79:8-9.11.13)    .

Jakarta, 21 Maret 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. contoh renungan singkat tentang masa prapaskah
  2. khotbah katholik tentang masa prapaskah
  3. Renungan alkitab pra paskah
  4. renungan masa prapaskah
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: