21 Mar – Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11

0
33

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Mg Prapaskah V : Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11


Pagi-pagi benar, dimana kebanyakan orang pada umumnya masih tidur nyenyak, dikumandangkan adzan, suatu panggilan atau ajakan bagi umat Islam untuk berdoa. Mendengar suara adzan tersebut ada beberapa atau sementara orang merasa terganggu dan marah, serta mungkin sambil mengeluh “mengganggu orang tidur”. Yang lain berdoa dan ada yang marah-marah juga, itulah yang terjadi. Bagi saya yang menarik adalah bahwa pagi-pagi terbangun langsung marah-marah, dan rasanya hal ini mirip dengan apa yang terjadi dalam kisah, kutipan Injil Yohanes hari ini : “Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh 8:2-5)  Pagi-pagi  benar di depan bait Allah/tempat beribadat Yesus harus menghadapi serangan fajar dari musuh-musuhNya, suatu pertanyaan yang memang sulit dijawab. Jika Yesus menyetujui usul mereka berarti Yesus sama dengan mereka, sebaliknya jika Yesus melawan usul mereka berarti Ia tidak taat pada hukum Taurat, maka Yesus menjawab :”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7). Mendengarkan jawaban Yesus ini “pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua” (8:9b). Maka baiklah kita renungkan sabda atau jawaban Yesus tersebut.

 

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh 8:7)

 

Cukup menarik reaksi orang-orang Farisi setelah mendengarkan sabda ini, yaitu mereka meninggalkan Yesus mulai dari yang tertua, dengan kata lain semakin tua, tambah usia, tambah pengalaman dst.. berarti juga bertambah dosa-dosanya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa kita adalah orang-orang berdosa, terutama yang lebih tua hendaknya semakin menyadari dosa-dosanya. Tentu saja kita tidak berhenti pada kesadaran saja, tetapi kemudian bertobat dan memperbaharui diri. Semakin tua, tambah usia, pandai, cerdas, kaya dst. hendaknya juga semakin rendah hati, sebagaimana dikatakan oleh pepatah “tua-tua keladi/padi, makin tua dan berisi semakin menunduk’.

 

“Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kita tidak saling ‘melemparkan batu’, artinya saling melecehkan dan merendahkan. Hendaknya juga disadari dan dihayati bahwa yang lebih muda berarti pada umumnya juga lebih suci, lebih-lebih anak-anak balita. Maka kami berharap kepada anak-anak kita beri penghormatan selayaknya dengan semangat pelayanan. Tanda bahwa kita, orangtua, sungguh melayani anak-anak antara lain anak-anak kelak tumbuh berkembang menjadi lebih baik atau bermutu daripada orangtuanya, demikian juga generasi tua terhadap generasi muda. Dengan ini kami angkat rumor tahun tujuh-puluhan dari para mahasiswa, yaitu “Kera Kentot” (=Kenakalan remaja terjadi karena kenakalan orangtua). Sebagai anggota Gereja, kami berharap kepada kita semua untuk mendukung dan meneladan para gembala kita, yang senantiasa berusaha dan menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina.

 

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:13-14)

 

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Filipi di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Marilah kita bersama-sama mengarahkan diri kita ke masa depan untuk semakin menghayati panggilan Allah, dengan kata lain marilah berlomba dalam kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997 hal 24). Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua, guru, pemimpin, atasan dan pejabat dapat menjadi teladan dalam kegairahan menghayati kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan.

 

Selain mengarahkan diri ke depan, kita juga diajak untuk ‘melupakan apa yang telah di belakangku’. Hal ini tidak berarti apa yang telah kita alami atau kita lalui musnah, lenyap, melainkan tetap ada serta menjadi bahan mawas diri agar kita dapat mengarahkan diri ke masa depan dengan tepat atau lebih memadai. Pengalaman akan menjadi pelajaran yang bermanfaat jika sungguh direfleksikan. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua pentingnya kebiasaan berrefleksi di dalam hidup sehari-hari. Baiklah secara konkret kami mengajak anda sekalian untuk selama kurang lebih 15 menit setiap hari mawas diri, misalnya tiap menjelang istirahat malam. Tinggalkan aneka sarana-parasarana alat alat-alat media dan berdiamlah selama kurang lebih lima belas menit sambil memutar film kehidupan sejak pagi hari sampai saat ini menjelang istirahat malam. Lihat dan cermati cara hidup dan cara bertindak macam apa saja yang baik atau buruk, kecenderungan hati yang baik dan buruk, dst.., kemudian mohon kasih pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan serta membuat niat bahwa besok pagi akan memperbaiki apa yang salah dan buruk serta meningkatkan dan memperdalam apa yang benar dan baik.

 

"Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yes 43:18-21). Seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini hendaknya menjadi pedoman atau pegangan jalan hidup kita dalam rangka memperbaiki apa yang salah dan buruh serta meningkatkan dan memperdalam apa yang baik dan benar, sehingga sebagai umat Allah kita “akan memberitakan kemasyhuran Tuhan”, mewartakan kebaikan-kebaikan kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita saling memuliakan dan berbuat baik, saling menghormati dan melayani, bukan saling melecehkan dan merendahkan.

 

“Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya

 (Mzm 126:2-6) .

 

Jakarta, 21 Maret 2010  

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here