21 Juni – Kej 13;2.5-18; Mat 7:6.12-14

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu”

(Kej 13;2.5-18; Mat 7:6.12-14)

 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”(Mat 7:6.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Aloysius Gonzaga, biarawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada masa yang ditandai dengan kecepatan perkembangan dan pertumbuhan teknologi saat ini ada kecenderungan orang untuk melakukan segala sesuatu secepat mungkin, karena ada motto ‘ siapa cepat dapat, siapa terlambat tersesat’. Memang kalau hal itu dikenakan dalam mengikuti perkembangan teknologi benar adanya, tetapi jika dikenakan dalam kehidupan lainnya malapetaka buahnya, misalnya ada muda-mudi yang ingin cepat-cepat menikmati gairah seksual dengan hubungan seksual, ada pelajar atau mahasiswa  ingin cepat-cepat lulus dan untuk itu ‘membeli nilai’, ada orang ingin cepat  kaya dengan korupsi, dst…Mereka berusaha menempuh jalan bebas hambatan, menuju ke kenikmatan sesaat, yang berakhir dengan malapetaka atau celaka. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup dan bertindak mengikuti proses yang benar, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan.  Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya”, demikian sabda Yesus. Sabda Yesus ini kiranya menjiwai motto UNESCO dalam memasuki Millenium Ketiga, yaitu “learning to learn, learning to be, learning to do, learning to live together”. Semangat belajar terus-menerus melalui proses benar dan baik, itulah yang harus kita hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Secara khusus kami berharap kepada rekan muda-mudi, siswa-siswi/pelajar maupun mahasiswa-mahasiswi untuk dengan semangat belajar mengkuti proses kehidupan. Para siswa-siswi/pelajar dan mahasiswa-mahasiswi hendaknya dalam belajar lebih mengutamakan agar terampil belajar. Rekan muda-mudi kami harapkan dalam bergaul lebih diutamakan agar terampil bergaul. Jauhkan semangat atau budaya instant alias cepat-cepat atau tergesa-gesa. Ikuti dan telusuri proses kehidupan dengan sabar, tekun, matiaraga, pengorbanan dan perjuangan, sesuai dengan kehendak Tuhan. Santo Aloysius Gonzaga yang kita kenangkan hari ini kiranya dapat menjadi teladan bagi generasi muda dalam mengkuti proses pembelajaran kehidupan.

·   Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”(Kej 13:7), demikian firman Tuhan kepada Abram.  Baiklah firman Tuhan kepada Abram ini kita jadikan bahan permenungan atau refleksi kita bersama sebagai umat beriman. Kita semua memiliki cita-cita, dambaan atau harapan untuk hidup bahagia, damai sejahtera, sehat wal’afiat lahir maupun batin; maka baiklah kita jalani dengan baik, benar dan tekun segala sesuatu yang harus kita lalui agar kita dapat hidup bahagia, damai sejahtera, sehat wal’afiat. Di dalam kehidupan dan kerja bersama ada aneka tata tertib yang harus kita lakukan atau hayati, ada petunjuk atau arahan praktis yang sering disampaikan kepada kita, maka hendaknya semuanya itu kita hayati secara utuh. Semangat yang menjiwai semua tata tertib hemat kami adalah cintakasih, dengan harapan atau sasaran agar siapapun yang menghayati tata tertib tersebut kemudian dapat hidup saling mengasihi. Kasih sungguh panjang, lebar, dalam dan luas alias tak terbatas, dan kita semua dipanggil untuk saling mengasihi sampai mati. Karena begitu panjang, lebar, dalam dan luas cintakasih, maka kiranya tidak ada orang di dunia ini yang secara sempurna dalam saling mengasihi, kita semua serba terbatas. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk saling mengasihi dengan rendah hati, yang secara konkret pada masa kini kiranya perlu diperdalam dan ditingkatkan sikap hidup yang senantiasa siap sedia untuk dikasihi. Dikasihi berarti antara dituntun, dibimbing, dibina, dididik, dst.. termasuk juga ditegor, dikritik, dimarahi, dilecehkan dst.. Siap sedia dikasihi itulah yang hendaknya kita hayati dan sebarluaskan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.

“Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya

 (Mzm 15:1-3)

Ign 21 Juni 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: