21 Juli – Yer 1:1.4-10; Mat 13:1-9

“Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!”

(Yer 1:1.4-10; Mat 13:1-9)


Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”(Mat 13:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini,

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Indera pendengaran hemat saya merupakan indera pertama kali yang berfungsi, bahkan anak yang masih ada di dalam rahim ibu sudah dapat mendengarkan aneka macam suara di lingkungan hidupnya, terutama suara dari sang ibu yang sedang mengandungnya. Di dalam perjalanan hidup kita hemat saya indera pendengaran juga merupakan yang paling utama berpengaruh dalam perkembangan dan pertumbuhan kepribadian kita masing-masing, maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk memperhatikan keutamaan ‘mendengarkan’ dalam hidup dan pekerjaan kita. Mendengarkan (to listen) berbeda dengan mendengar (to hear), mendengarkan butuh kerendahan hati, keutamaan dasar dan utama. Kegiatan berdoa yang utama adalah mendengarkan, para pelajar/murid/mahasiswa jika mendambakan sukses dalam belajar harus dapat mendengarkan dengan baik, entah ketika sedang menerima pengajaran maupun sedang belajar sendiri atau membaca. Dapat mendengarkan dengan baik juga penting bagi para pemilik kendaraan bermotor atau sopir, artinya jika anda tidak mampu memperbaiki kerusakan kendaraan sendiri, silahkan mendengarkan suara mesin dan jika ada suatu suara yang kurang beres hendaknya kendaraan segera diperiksakan ke bengkel. Tantangan untuk mendengarkan dengan baik pada masa kini memang sungguh berat, apalagi dengan maraknya kecanduan HP (hand  phone) bagi sementara orang, misalnya dalam rapat dengan seenaknya orang meninggalkan rapat karena HP-nya berbunyi alias ada panggilan. Kami berharap pembinaan mendengarkan dengan baik ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan dari para orangtua atau bapak-ibu. Barangsiapa dapat menjadi pendengar yang baik, maka ia akan menghasilkan buah berkelimpahan yang berguna bagi keselamatan jiwa.


·   "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."(Yer 1:5), demikian firman Tuhan kepada Yeremia. Baiklah firman ini juga kita kenakan pada diri kita masing-masing. Selama di dalam rahim ibu kita semua kudus atau suci adanya, dan diharapkan kita menjaga, merawat dan memperdalam atau memperteguh kesucian hidup itu di dalam perjalanan hidup dan tugas pekerjaan setiap hari dimanapun dan kapanpun. Dalam kesucian hidup kita semua dipanggil untuk “menjadi nabi bagi bangsa-bangsa”. Nabi adalah ‘corong Tuhan’, pembawa dan pewarta kebenaran yang diangurahkan oleh Tuhan. Marilah kita hayati dimensi kenabian hidup iman dan keagamaan kita! Masing-masing dari kita hendaknya tetap suci dan benar; suci berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan demikian mau tak mau harus melaksanakan atau menghayati perintah-perintah Tuhan alias senantiasa berbuat baik kepada orang lain dan berbudi pekerti luhur. Kutipan di atas kiranya juga menyadarkan kita semua bahwa dalam kenyataan ternyata semakin tambah usia dan pengalaman juga bertambah dosa-dosanya, dengan kata lain kita kurang setia pada kesucian kita masing-masing. Mengingat bertambah usia dan pengalaman berarti juga bertambah dosanya, maka mereka yang lebih tua hendaknya menghormati mereka yang lebih muda, orangtua menghormati anak-anak, guru menghormati para peserta didik, senior menghormati yunior. Mengapa? Di dalam hidup beriman atau beragama hemat saya yang layak untuk lebih dihormati adalah mereka yang lebih muda karena  yang lebih muda lebih suci dan yang selayakanya dihormati adalah mereka yang suci. Kami berharap kepada para orangtua maupun pendidik untuk menjaga dan memperdalam kesucian anak-anak atau para peserta didik.


“Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku. Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeraman orang-orang lalim dan kejam.” (Mzm 71:1-4)

Jakarta, 21 Juli 2010

   .

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: