21 Jan – 1Sam 18:6-9; 19:1-7; Mrk 3:7-12

“Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia”.

(1Sam 18:6-9; 19:1-7; Mrk 3:7-12)

 

“Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya.Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah."Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.” (Mrk 3:7-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Agnes, perawan dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “`Agnes' dalam bahasa Latin berarti `anak domba' atau `kurban', sementara dalam bahasa Yunani berarti `murni, suci'. Agnes seorang gadis remaja yang cantik jelita dan berasal dari keluarga kaya. Banyak pemuda bangsawan Romawi terpikat padanya; mereka saling bersaing agar dapat memperisteri Agnes. Tetapi Agnes menolak mereka semua dengan halus dan mengatakan bahwa ia telah mengikatkan diri pada seorang Kekasih yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.” (www.indocell.net/yesaya). Yang disebut ‘seorang Kekasih’ disini tidak lain adalah Tuhan, maka terikat mesra dengan Tuhan tak akan terpengaruh oleh aneka macam rayuan kenikmatan duniawi, yang didambakan banyak orang. Menghayati semangat kemartiran masa kini kiranya dapat berupa kesetiaan dan keterikatan sepenuhnya kepada Tuhan, yang menjadi nyata dalam hidup sehari-hari; bersatu mesra dengan Tuhan akan mampu mengalahkan aneka macam godaan dan rayuan setan yang menggejala dalam tawaran-tawaran kenikmatan duniawi ini serta mampu menangkal aneka macam penyakit maupun menyembuhkan mereka yang sakit. Persatuan mesra dengan Tuhan ini pertama-tama nampak dalam cara hidup dan cara bertindak atau perilaku, bukan kata-kata atau omongan; pewartaan kabar baik melalui dan dengan parilaku bukan dengan omongan. Orang yang hidup baik, berbudi pekerti luhur dan suci kiranya akan menarik, memikat dan mempesona, dan siapapun yang berdekatan atau bersama dengannya pasti akan merasa sungguh hidup, segar bugar, bergairah serta semakin tergerak untuk membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Marilah meneladan St.Agnes, yang bersatu mesra dengan Tuhan, sehingga tetap tegar, segar, ceria dan bergembira meskipun harus menghadapi siksaan, tantangan dan hambatan.  

·   "Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu! Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?"(1Sam 19:4-5), demikian kata Yonatan kepada Saul, yang hendak membunuh Daud., dan Saul pun melaksanakan peringatan tersebut. Kita semua dipanggil untuk meneladan Yonatan, yaitu tanpa takut dan gentar untuk mengingatkan apa yang benar dan baik yang harus dilakukan dalam berbagai kesempatan dan kemungkinan. Marilah kita ingatkan dan tegor dengan rendah hati mereka yang sering dengan mudah ingin menghabisi ‘orang yang tak bersalah’, demi gengsi, kedudukan, jabatan atau kehormatan duniawi. Mengingat dan mempertimbangkan masih maraknya aneka bentuk kekerasan terhadap anak-anak, yang tak bersalah, yang dilakukan oleh orangtuanya, marilah kita bersama-sama mengingatkan dan menegor mereka. Ketika anak-anak dibiarkan menerima kekerasan dari orangtuanya atau orang dewasa, maka kelak kemudian hari ketika anak-anak menjadi dewasa pasti juga dengan mudah melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak para orangtua, ayah dan ibu, untuk tidak bertindak keras apalagi sampai melukai hati anak-anak; hendaknya janji saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, juga dihayati dalam mengasihi anak-anaknya, yang mungkin merepotkan dan nakal. Ingat anak kalau tidak nakal bukan anak lagi, dengan kata lain anak nakal atau kurangajar adalah biasa, yang tidak biasa adalah orangtua/dewasa nakal atau kurangajar.

 

“Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku! Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong ….. Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?. Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.”

(Mzm 56:2-3.11-13)

Jakarta, 21 Januari 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: