21 Feb – Mg Prapaskah I : Ul 26:4-10; Rm 10: 8-13; Luk 4:1-13

“Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis”

Mg Prapaskah I : Ul 26:4-10; Rm 10: 8-13; Luk 4:1-13

 

Padang gurun di daerah Timur Tengah sungguh luas: di siang hari panas terik dan di malam hari dingin, ada perbedaan suhu begitu tajam antara siang dan malam. Di padang gurun juga tidak ada pohon, tidak ada air. Sebatas mata memandang hanya melihat hamparan pasir dan debu di bawah dan di atas langit membentang luas bagaikan atap. Selama kurang lebih 40(empat puluh) hari Yesus berada di padang gurun macam itu untuk berpuasa. Sebagaimana dialami banyak orang  selama berpuasa pasti akan menghadapi aneka godaan atau rayuan untuk menggagalkan puasanya, demikian juga dialami oleh Yesus. Baiklah kita refleksikan bersama godaan setan terhadap Yesus, yang mungkin juga kita alami atau hadapi dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. , sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini.

 

"Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”(Luk 4:3)

 

Harta benda, uang, makanan dan minuman merupakan rahmat sekaligus godaan. Cukup banyak orang jatuh, kurang beriman, kurang setia pada panggilan dan tugas pengutusan karena harta benda, uang, makanan dan minuman.  Demi atau karena gila akan ‘harta benda, uang, makanan dan minuman’ orang melakukan korupsi, entah korupsi uang, waktu maupun tenaga. Untuk menjadi ‘yang terpilih dan terkasih’ orang membagi-bagikan harta benda atau uang, yang mungkin diperoleh melalui korupsi, kepada orang lain, misalnya dalam rangka pemilu, entah di tingkat daerah maupun pusat.  Dan  banyak orang pun dengan mudah taat dan setia kepada mereka yang suka memberi harta benda atau uang.

 

Harta benda atau uang memang dapat menjadi ‘jalan ke sorga’ atau ‘jalan ke neraka’, untuk semakin beriman dan suci atau semakin berdosa dan tak bermoral/jahat. Sebagai orang beriman kiranya kita mendambakan bahwa harta benda atau uang dapat menjadi ‘jalan ke sorga’ bagi kita, maka  baiklah kita memfungsikan atau memanfaatkan harta benda atau uang dengan benar, sesuai dengan tujuannya atau ‘ad intentio dantis’ (=maksud pemberi). Harta benda pada dasarnya bersifat sosial, maka semakin memiliki banyak harta benda atau uang berarti semakin sosial, semakin memiliki banyak sahabat atau saudara sejati, dan dengan demikian juga semakin bersahabat dengan Tuhan: cara hidup dan cara bertindaknya dijiwai oleh syukur dan terima kasih serta rendah hati. Dengan ini kami berharap kepada kita semua: janganlah ‘gila harta atau uang’, karena ketika tiada harta atau uang lagi, maka tinggal ‘gila’nya alias anda akan menjadi gila.

 

Manusia hidup bukan dari roti saja.”(Luk 4:4), demikian tanggapan Yesus terhadap godaan setan. Ketika digodai setan perihal harta benda atau uang atau untuk menghindari jatuh ke semangat materialistis, marilah kit meneladan Yesus. Hendaknya kita tidak hanya mengandalkan hidup kita kepada harta benda, uang, makanan dan minuman, tetapi juga kepada sabda-sabda Tuhan. Dengan kata lain marilah memgfungsikan atau memanfaatkan harta benda, uang, makanan dan minuman sesuai dengan aturan dan tatanan yang terkait dengan harta benda, uang, makanan dan minuman tersebut.       

 

"Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.”(Luk 4:6-7)

 

Orang kaya akan harta benda atau uang akan memiliki kecenderungan untuk disembah dan dipuji, alias gila kuasa atau kehormatan duniawi. Memang melalui atau dengan harta benda dan uang orang dapat menghendaki apapun demi kepuasan dan kenikmatan di dunia ini: beli ini dan itu sesuai selera pribadi, bahkan termasuk ‘beli orang’ alias pelacur. Cita-cita atau dambaan hatinya adalah ‘seluruhnya itu akan menjadi milikku’.  Para pejabat tinggi atau pemimpin pada umumnya memiliki kecenderungan untuk selalu dihormati, dan menghayati kepempinannya dengan menguasai bukan melayani.

 

“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Luk 4:8), demikian tanggapan Yesus atas godaan setan perihal kuasa dan kehormatan duniawi. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menyembah atau berbakti kepada Tuhan. Tanda bahwa kita sungguh menyembah atau berbakti kepada Tuhan antara lain kita hidup dan bertindak dengan semangat pelayanan, dan dengan demikian kita hidup saling melayani. Maka kami berharap kepada mereka yang menjadi pemimpin, pejabat tinggi atau atasan untuk hidup dan bertindak dengan semangat pelayanan. Hayatilah kedudukan dan jabatan anda dengan melayani sesama atau saudara-saudari kita. Tuhan hidup dan berkarya di dalam saudara-saudari kita, maka berbakti kepada Tuhan berarti juga membaktikan diri bagi saudara-saudari kita.   

 

"Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (Luk 4:9-11)

Orang kaya akan harta benda dan uang serta berkedudukan akan dengan mudah untuk menjadi sombong. Kesombongan itulah sasaran godaan setan; ia menggoda kita semua untuk sombong. Orang sombong pada umumnya begitu percaya pada diri sendiri dan melecehkan atau merendahkan yang lain, dan dengan demikian juga kurang beriman atau percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Ia merasa diri paling hebat, dan tanpa dia orang lain tidak dapat berbuat apa-apa, begitulah sikap mental orang sombong.

 

Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Luk 4:12), demikian tanggapan Yesus atas godaan setan untuk menjadi sombong. Kebalikan dari sombong adalah rendah hati, dan orang yang rendah hati akan menghayati apa yang dikatakan oleh Paulus ini: “Tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya” (Rm 10:12), dan dengan demikian hidup dan bertindak dengan penuh persaudaraan atau persahabatan sejati.  Kita sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama beriman, sama-sama manusia, sama-sama mendambakan hidup damai, bahagia dan sejahtera, maka dengan rendah hati kita sama-sama menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam.

Manusia diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan, maka mencobai dan melecehkan sesama manusia berarti mencoba dan melecehkan Tuhan. Orang sombong memang juga berarti menjadikan dirinya ‘tuan’ atas sesamanya, sebaliknya orang rendah hati akan menjadikan dirinya ‘pelayan’ bagi sesamanya.  Marilah kita saling rendah hati dan saling melayani, agar tidak jatuh ke kesombongan.

 

“TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga

(Mzm 91:9-13).

 .

Jakarta, 21 Januari 2010

  

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: