21 Agustus – Yeh 43:1-7a; Mat 23:1-12

“Barangsiapa terbesar hendaklah ia menjadi pelayan”.

(Yeh 43:1-7a; Mat 23:1-12)

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat 23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Pius X, Paus, dengan ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para Uskup ketika mendoakan Doa Syukur Agung senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’, sedangkan Paus menyatakan diri sebagai ‘hamba dari para hamba yang hina dina’. Dengan pernyataan tersebut baik para Uskup maupun Paus, yang terbesar di dalam Gereja Katolik, berhasrat untuk sungguh melayani umat Allah yang menjadi tanggungjawabnya, menghayati panggilan dengan semangat melayani dengan rendah hati yang mendalam. Sebagai umat Allah kita hendaknya mendukung para gembala kita tersebut, antara lain sering mendoakannya dan kita sendiri senantiasa juga berusaha untuk hidup dan bertindak yang dijiwai oleh semangat melayani yang rendah hati dan mendalam. Cirikhas seorang pelayan atau pembantu rumah tangga/ komunitas yang baik antara lain: tanggap terhadap yang harus dilayani, siap sedia melakukan apa saja demi kebahagiaan yang dilayani, sehat wal’afiat, ceria/gembira, kerja keras, hidup sederhana dst… Apa yang menjadi cirikhas pelayan yang baik tersebut hendaknya juga menjadi cirikhas kita sebagai umat Allah, umat yang percaya kepada Yesus Kristus, yang datang ke dunia untuk melayani bukan dilayani. Kami berharap semangat melayani ini sedini mungkin ditanamkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua. Demikian juga kami berharap kepada para pemimpin dalam bidang kehidupan atau pelayanan apapun untuk menghayati kepemimpinannya dengan semangat melayani yang rendah hati dan mendalam.

·   “Kemuliaan TUHAN masuk di dalam Bait Suci melalui pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur, Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran dalam, sungguh, Bait Suci itu penuh kemuliaan TUHAN” (Yeh  43:4-5), demikian penglihatan yang dialami oleh Yeheskiel. “Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran yang penuh kemuliaan Tuhan”, inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Apakah kita senantiasa dibawa ke tempat yang penuh dengan kemuliaan Tuhan, tempat Tuhan lebih dimuliakan dari segala sesuatu?  Ad maiorem Dei gloriam” = Demi bertambah besarnya kemuliaan Tuhan, itulah salah satu spiritualitas St.Ignatius Loyola. Marilah kita senantiasa mengusahakan apapun yang kita kerjakan atau dimanapun kita berada guna bertambah besarnya kemuliaan Tuhan dan penghayatan diri kita sendiri yang  semakin kecil, tiada arti. Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk saling memuliakan dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Memuliakan berarti juga membahagiakan dan menyelamatkan, lebih-lebih atau terutama kebahagiaan dan keselamatan jiwa. Maka hendaknya kebahagiaan dan keselamatan jiwa senantiasa menjadi pedoman dan barometer keberhasilan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. Dimana semakin banyak jiwa diselamatkan dan dibahagiakan  ke situlah kita semua dipanggil, meskipun untuk itu kita harus bekerja keras, berjuang dan berkorban. Dalam dunia atau pelayanan pendidikan hal itu berarti lebih mengutamakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi baik, berbudi pekerti luhur, cerdas spiritual daripada pandai atau cerdas intelektual. Maka kami berharap kepada para pengurus, pengelola maupun pelaksana pelayanan pendidikan untuk senantiasa bekerjasama dalam rangka mendampingi para peserta diri agar tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman/spiritual. Kerjasama penting dan mutlak karena anak adalah ‘korban kerjasama’ dari bapak-ibu, orangtua masing-masing.

 

“Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.”

 (Mzm 85:10-14)

   Jakarta, 21 Agustus 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: