Month: June 2012

21 Juni

"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."
(Rm 12:1-2.9-17.21; Luk 10:23-30)

” Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah." Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” (Luk 10:23-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Aloysius Gonzaga, biarawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Orang yang kaya akan harta benda dan uang serta bersikap mental materialistis pada umumnya sungguh pelit dan penuh hitung-hitungan. Hal ini pernah saya saksikan di rumah duka St.Carolus Jakarta, dimana melayani orang-orang kaya sudah sangat bagus, ternyata masih rewel, minta ini dan itu, dan setelah selesai dilayani pun tak mengucapkan terima kasih sedikitpun. Sebaliknya melayani mereka yang miskin sungguh membahagiakan, karena meskipun mereka dilayani apa adanya tahu terima kasih.  "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.", demikian sabda Yesus yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Aneka harta benda atau uang hemat saya merupakan anugerah Allah, yang kita terima melalui kerja keras dan kebaikan saudara-saudari kita, tidak hanya hasil usaha atau keringat kita saja. Maka dengan ini kami mengharapkan kita semua agar memfungsikan harta benda maupun uang sebagai sarana untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Allah melalui saudara-saudari, demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Secara khusus kami ingatkan dan ajak rekan-rekan biarawan dan biarawati untuk tidak bersemangat materialistis baik dalam hidup maupun karya atau pelayanan. Peangalaman saya pribadi sebagai imam Yesuit dengan meninggalkan orangtua, saudara-saudari kandung serta harta benda, benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus, yaitu akhirnya mempunyai lebih banyak saudara-saudari, sahabat dan teman, demikian juga dalam hal kebutuhan untuk hidup dan kerja senantiasa tercukupi. Semoga banyak rekan muda-mudi atau anak-anak tergerak untuk hidup membiara atau imamat.    
·   Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa” (Rm 12:9-12), demikian pesan atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Kita diingatkan agar dalam saling mengasihi tidak pura-pura atau bersandiwara, saling mendahului dalam memberi hormat, hidup rajin, penuh pengharapan, sabar dan tekun. Manakah dari keutamaan-keutamaan ini yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam hidup dan kerja kita setiap hari? Baiklah saya mengajak anda sekalian dalam hal saling mengasihi: hendaknya kita saling mengasihi secara total, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga, yang antara lain dapat kita wujudkan dalam saling memboroskan waktu dan tenaga satu sama lain. Kecenderungan kebanyakan orang masa kini adalah pelit akan waktu dan tenaga bagi saudara-saudarinya, konon karena tugas dan pekerjaan alias untuk mencari uang atau harta benda sebanyak-banyaknya. Harta benda dan uang dalam waktu sekejap dapat musnah atau hilang, sebaliknya pengalaman dikasihi dan diperhatikan akan mengesan sampai mati, maka marilah kita wariskan kasih kepada anak-anak kita, bukan harta benda atau uang; kita wariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan dan membahagiakan, bukan sawah dan ladang maupun papan dan pangan.
“TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!” (Mzm 131)
Ign 21 Juni 201221

Tags : , , , , ,

Gejala-gejala Paranormal dalam “Mgr. Sunarka SJ Bicara tentang Paranormal” (2)

DALAM sebuah ensiklopedi (Encyclopedie van het Christendom 1956) disebutkan bahwa gejala paranormal dibagi dalam tiga kelompok  yakni paragnosi, parergi atau para energi, dan  postmortal manifestation.

Paragnosi adalah kemampuan mengenal atau melihat dengan cara yang tidak biasa. Dalam kehidupan paragnostik, orang dapat mengenal atau mengetahui suatu peristiwa atau keadaan jiwa seseorang tidak dengan indera biasa tetapi dengan ‘indera’ yang belum kita kenal dalam paradigma yang kita sandang sehari-hari. Dalam lingkup paragnostik, paragnosi masih dapat dibedakan menjadi dua, clairvoyance dan telepati.

Clairvoyance (helderzienheid) “terawang pandang” merupakan kemampuan seseorang dalam melihat atau mengenal suatu benda, peristiwa tanpa proses inderawi tanpa pengaruh dari orang lain. Bisa berupa penglihatan atas peristiwa masa lampau ( retrognosi), peristiwa sekarang (paragnosi aktual), atau masa depan (proskopi).

John Hearney melukiskan secara singkat tentang ‘clairvoyance’ ini sebagai “the knowledge of objects of objective events at a distance beyond any known menas”.

Pengertian John hearney tentang ‘clairvoyance’ ini lebih bersifat spasial. Sementara apa yang tertulis dalam buku Encyclopedie van het Christendom menunjukkan bahwa ‘clairvoyance’ bersifat spasial dan temporal.

Sementara telepati dikatakan sebagai bentuk pengenalan seseorang atas perasaan, kehendak, kesadaran  orang lain tanpa sarana-sarana komunikasi biasa.

Perlu dibedakan antara orang yang menerima dan orang yang memberikan atau mengirim. Dapat terjadi bahwa si pemberi atau pengirim bersifat pasif dan si penerima bersifat aktif. Karena itu proses ini disebut “membaca perasaan, kehendak dan kesadaran orang lain” jelas John Hearney tentang telepati “the knowledge of another’s person mental activities beyond any known means”.

Bedanya dengan ‘clairvoyance” yang lebih terkait dengan benda, warna dan peristiwa, telepati lebih berkaitan dengan gerak-gerik daya kejiwaan yakni kehendak, perasaan dan pikiran.

Artikel terkait: Mgr. Julianus Sunarka SJ Bicara tentang Paranormal dan Anugerah Adikodrati (1)

5 pencarian oleh pembaca:

  1. Padepokan kanjeng taat pribadi
  2. Kanjeng taat pribadi
  3. Carikan berita tentang Taat Pribadi Kanjeng Taat Pribadi
Tags : , , , , ,

Biasakan Mendongeng Sejak Anak di Kandungan (3)

PSIKIATER dr Anak Ayu Sri Wahyuni SpKJ juga menganjurkan kaum ibu agar membiasakan mendongeng sejak buah hatinya berada dalam kandungan. “Mendongeng itu besar sekali memengaruhi penanaman nilai moral pada anak,” katanya.

Menurut dia, sebaiknya para ibu hamil, mendongeng dengan cara sambil mengelus-elus perut dengan sepenuh hati dan penuh ekspresi.

“Pikiran jernih dari si ibu, akhirnya dapat masuk melalui aliran darah, melalui tali pusat kemudian sampai ke buah hati. Kalau ibunya sering gelisah ketika hamil, anak itu nantinya dapat menjadi gelisah dan tidak tenang begitu juga sebaliknya,” ucapnya.

Sri Wahyuni mengatakan, jika anak sudah dalam kandungan biasa mendengar dongeng, maka bayi tersebut tidak akan rewel dan orang tua pun tidak harus begadang malam-malam.

Hanya saja, lanjut dia, sekarang para orang tua justru mulai meninggalkan kebiasaan mendongeng karena terkesan tidak punya waktu dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup ketimbang memberikan pendidikan moral pada anak-anak melalui mendongeng.

Tidak sedikit anak yang kini harus menikah di usia dini, hamil di luar nikah dan bahkan mengalami pemerkosaan karena merasa kurang mendapatkan kasih sayang dalam lingkungan keluarga.

“Paling tidak 15 menit dalam sehari orang tua dapat meluangkan waktu mendongeng buat anak-anak. Orang tua dapat pula menyisipkan bercerita tentang perjalanan perjuangan hidup,” katanya.

Ia mengharapkan, kalau memang para orang tua belum siap untuk meluangkan waktu 15 hingga 30 menit untuk anak-anaknya, sebaiknya para orang dapat menunda untuk memiliki anak dan memapankan perekonomian terlebih dahulu. (Selesai)

Artikel terkait:

Tags : , , , , ,

Film “Soegija”: Kemanusiaan Itu Satu (1)

 “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan sebuah keluarga besar.” – Soegija.

JIKA Anda ingin menonton film Soegija karya Garin Nugroho, sebaiknya Anda terlebih dulu menanggalkan segala atribut film Hollywood -gaya bertutur linear, naratif, heroik- di kepala Anda. Jika tidak, percayalah, Anda hanya akan kecewa dan mungkin memaki-maki Garin sebagai sutradara enggak jelas saat keluar dari gedung bioskop.

Gaya bertutur Garin jauh dari Holywood. Ia lebih mirip sutradara teater panggung. Ia memindahkan panggung itu ke dalam karya visual layar lebar. Garin bukan seorang realis ala pelukis Basuki Abdullah. Ia mungkin mirip Putu Wijaya dengan aneka simbolnya di panggung teater. Para penikmat teater pasti akan lebih mudah menikmati Soegija.

Garin tidak menampilkan sosok Soegija seperti Holywood menampilkan Benjamin Martin yang diperankan Mel Gibson dalam The Patriot. Soegija tidak hadir dalam sosok pahlawan jagoan yang mengalahkan musuh dalam medan perang. Soegija tidak memanggul senjata juga tak pandai memanah.

Anda juga pasti akan kecewa jika berharap film berduras 115 menit ini akan bertutur tentang sosok biografis Soegija dalam gaya tutur film-film dokumenter. Ia  tak banyak bicara, malah tak banyak muncul. Soegija (Nirwan Dewanto) yang diramu Garin adalah sosok yang sangat manusiawi. Ketika Bruder Toegimin (Butet Kertaradjasa) bertanya pada Soegija apa yang harus dilakukan saat tentara Jepang mengosongkan gereja, Soegija menjawab, “Kadang kita tidak bisa berbuat apa-apa.”

Soegija berdiri diam. Ia menangis. Hatinya tercabik-cabik.

 “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tidak sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka” (‘Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini’ (7-12-65).

Solidaritas gereja yang dirumuskan Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes baru lahir pada 1967. Nah, Mgr. A. Soegijapranata telah menunjukkan solidaritas itu jauh sebelum Gaudium et Spes digagas.

Representasi gereja

Bagi saya, lebih dari sekadar seorang pribadi, sosok Soegija dalam film itu adalah representasi Gereja Katolik yang ikut teraniaya dan berjuang di masa kemerdekaan Indonesia. Gereja sebagai intitusi; Gereja sebagai umat; Gereja sebagai pemimpin, tidak berdiam di menara gading, melainkan hadir, terlibat bersama rakyat yang menderita akibat perang, bahkan gereja juga korban. Pada salah satu bagian Soegija berucap, “Ini saatnya kita memperjuangkan hak Allah, hak agama, dan hak negara.”

Apa yang menjadi hak Allah? Apa yang diperjuangkan Soegija (baca: Gereja Katolik)?

Ada beberapa bagian dalam film yang menunjukkan keterlibatan Soegija dalam mengupayakan gencatan senjata dan pengakuan diplomatik Vatikan akan kemerdekaan Indonesia. Bagi saya, upaya-upaya Soegija itu hanya cara dari tujuan yang lebih hakiki yaitu kemanusiaan yang satu.  ”Sesungguhnya kemanusiaan itu satu apa pun latar belakangnya…” Kalimat ini diucapkan Soegija di awal dan di akhir film.

Seolah, spirit dalam kalimat itu adalah bingkai yang menjiwai seluruh narasi tentang Soegija. Yang dperjuangkan gereja adalah kemanusiaan. Kemanusiaan yang satu yang menempatkan manusia sebagai saudara besar hanya dapat terwujud jika perang berhenti. Indonesia merdeka.

Menjadi katolik, dalam spiritualitas Soegija, bukan soal membuat tanda salib; bukan sekadar ikut misa tiap akhir pekan; bukan soal meneriakkan asma Allah; bukan sekadar kebanggaan buta aku katolik dan Yesusku paling benar; jauh lebih hakiki dari itu. Menjadi katolik adalah soal mencintai kemanusiaan, bahkan mencintai musuh (ingat adegan saat Hendrik si wartawan Belanda dilempari batu dan dibela sama ibu pemilik hotel). Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri (Mat 22:39). Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat 5:44). (Bersambung)

Tags : , ,

Saksi Hidup Ignatius Soejono: Wejangan Mgr. A. Soegijapranata tentang Hidup Bermasyarakat (2)

BERDASARKAN beberapa kata dan kalimat yang bisa terbaca surat tersebut kita bisa melihat beberapa nasihat Romo Kanjeng tentang hidup berkeluarga dan bagaimana membangun keluarga dengan melakukan keutamaan-keutamaan hidup bertetangga.

Di antara nasihat itu terbaca: “Iya iku gawe betjik marang sapa bae, kang asipat mirunggan, tanpa melik, tanpa pamrih  apa barang, tanpa pangarep-arep ing djasmani utawa rohani.”

(Benarlah kalau kalian berlaku baik dan jujur terhadap siapa saja dengan tetap mengedepankan semangat berbagi tanpa ada keinginan untuk memiliki, tanpa pamrih akan diberi hadiah, juga tanpa disertai keinginan mendapatkan imbalan barang atau lainnya).

Mengakhiri surat itu, Rama Kanjeng menulis,”Wasana aku nganti sembahyang pudja-pudji amrih kersa Dalem kaleksanan tumprape awakku, Rama ing Sang Kristus, A. Soegijapranata”

(Akhirnya, saya menyediakan waktu untuk melambungkan doa-doa pujian dengan harapan agar Tuhan berkenan mewujudkan kehendak-Nya melalui saya. Gembala Tuhan Yesus Kristis. A. Soegijapranata”

Uang dan sekuntum melati

Bapak Soejono bercerita juga bahwa pernah Romo Kanjeng memberinya uang untuk kenangan. Tapi dengan satu pesan: jangan menggunakan, kecuali kalau memang sungguh diperlukan. 

Namun kemudian berita duka sampai ke telinganya pula, bahwa Romo Kanjeng telah wafat di Negeri Belanda dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Sebagai kenangan pula, ia mengambil sekuntum bunga melati yang hingga kini masih dia simpan sebagai kenangan ketika prosesi pemakaman di Semarang tahun 1963.

Saya senang dapat bertemu dengan Bapak Ignatius Soejono yang mengalami hidup bersama dengan Romo Kanjeng.

Tentu masih cukup banyak orang-orang yang seusia Bapak Soejono yang masih bisa bercerita dengan pengalaman hidupnya bersama mendiang Romo Kanjeng.

Silakan bercerita.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Bedono, 17 Juni 2012
+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Photo credit: Ignatius Soejono (Mgr. Johannes Pujasumarta Pr)

Sumber dan link: www.pujasumarta.multiply.com

Artikel terkait: Saksi Hidup Ignatius Soejono Berkisah tentang Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (1)

 

5 pencarian oleh pembaca:

  1. wejangan romo semono
  2. romo semono
  3. silsilah keturunan romo semono
  4. makam romo semono
  5. masalah heru cokro semono
Tags : , , , , ,

Saksi Hidup Ignatius Soejono Berkisah tentang Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (1)

Pengantar Redaksi: Selain Romo F. Danuwinata SJ –mantan Provinsial SJ Provinsi Indonesia—yang cukup mengenal dekat sosok Uskup Vikariat Apostolik Semarang Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, ternyata ada sosok awam yang juga mengenal pribadi Mgr. Soegijapranata SJ justru karena fungsi dan perannya sebagai utusan beliau.

Saksi hidup ini adalah Bapak Ignatius Soejono yang secara tidak sengaja “ditemukan” Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr saat melakukan pelayanan Sakramen Penguatan di Gereja Paroki Santo Thomas Rasul Bedono, Ambarawa, Jawa Tengah.

Berikut ini kami sampaikan catatan refleksi Mgr. Johannes Pujasumarta atas pertemuannya dengan Ignatius Soejono, saksi hidup tentang sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ ini.

————————–

RINENGGA ing berkah lan pamudji rahardja.

Minggu, 17 Juni 2012, pada kesempatan perayaan ekaristi pelayanan Sakramen Penguatan di Gereja Paroki Santo Thomas Rasul Bedono. Oleh Romo Koko Pudji Wahyusulistiyono Pr –romo Paroki Bedono—saya lalu diperkenalkan dengan Bp. Ignatius Soejono (baca: Suyono). Di Pastoran St. Thomas Rasul Bedono itulah kami sempat berbincang-bincang mengenang Mgr. Albertus Soegijapranata SJ.

 Bapak Ignatius Soejono lahir di Bedono tanggal 1 Juni 1938. Ia dibaptis di Gereja Randusari Semarang –kini katedral– pada tahun 1957.  Pada tahun 1961-1962, Bapak Ignatius Soejono  menjadi utusan Romo Kanjeng Albertus Soegijapranata, SJ.

Kisah hidup
Pak Soejono lalu bertutur: “Pada saat perjalanan  naik kapal turis dari Australia ke Eropa, Rama Kanjeng  numpang kapal itu juga menuju Vatikan untuk mengikuti Konsili Vatikan II.  Dalam perjalanan itulah Romo  Kanjeng singgah di Negeri Belanda, untuk mengadakan  upaya diplomasi dengan Ratu Wilhelmina mengenai status Irian Barat.” 

Upaya diplomasi itulah yang disebut dengan “Silent Diplomacy”.

Dalam perjalanan di atas kapal turis itulah Romo Kanjeng menulis surat pribadi yang ditujukan kepada Pak Utomo dan Bu Utomo. 

Lalu Bapak Soejono menunjukkan surat tulisan Romo Kanjeng yang masih disimpannya.

Mengawali surat itu, Romo Kanjeng menulis, “Rinengga ing berkah lan pamudji rahardja tumeka marang Pak Utomo lan Bu Utomo, sumrambah marang mantene anyar lan adi-adine.”

(Semoga senantiasa dilimpahi berkat berlimpah disertai harapan agar senantiasa sehat sejahtera untuk keluarga pasangan Pak Utomo dan Bu Utomo, pengantin baru berserta sekalian adik-adiknya)

Tulisan pada surat pribadi Romo Kanjeng tidak mudah lagi untuk dibaca.  (Bersambung) 

Photo credit: Ignatius Soejono (Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr)

Link: www.pujasumarta.multiply.com

Artikel terkait:

Saksi Hidup Ignatius Soejono: Wejangan Mgr. A. Soegijapranata tentang Hidup Bermasyarakat (2)

Tags : , ,

Gubernur Jateng, Nuncius Vatikan akan Resmikan Kantor Keuskupan dan Residensi Uskup Semarang

SETELAH sekian bulan lamanya Kantor Keuskupan dan Rumah Residensi Uskup Agung Semarang dirombak total untuk kemudian dibangun kembali dengan formasi baru, kini beberapa hari mendatang bangunan baru itu siap diberkati dan kemudian diresmikan penggunaannya. Romo Aloysius Budipurnomo Pr –Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang dan penerbit Majalah Inspirasi—menulis laporannya dari Semarang tentang rencana pemberkatan dan peresmian Kantor Keuskupan dan Rumah Residensi Uskup Semarang yang baru.

Menurut Romo Budipurnomo Pr, rangkaian acara pemberkatan dan peresmian kedua gedung baru itu akan berlangsung pada hari:

  • Rabu, 20 Juni 2012, pukul 19.00 WIB sampai selesai: Acara slametan dan kendurenan berikut dengan kegiatan doa lintas agama di Rumah Residensi Uskup dan Kantor Keuskupan Agung Semarang di Jl. Pandanaran 13, Semarang.
  • Senin, 25 Juni 2012, pukul 09.30 WIB: Perayaan ekaristi pemberkatan dan peresmian Rumah Residensi Uskup dan Kantor Keuskupan Agung Semarang di Gereja Katedral Semarang.
  • Usai ekaristi di Gereja Katedral pada Senin siang itu, sekalian umat yang hadir diundang acara open house di Rumah Residensi Uskup dan Kantor Keuskupan Agung Semarang yang baru dan berlanjut dengan acara ramah tamah.

Dipilih tanggal 25 Juni

Menurut Romo Budipurnomo Pr, sengaja dipilih tanggal 25 Juni sebagai hari baik untuk peresmian dan pemberkatan Rumah Residensi Uskup dan Kantor Keuskupan Agung Semarang yang baru karena pada tanggal 25 Juni ini merupakan HUT Keuskupan Agung Semarang yang ke-72.

Pemberkatan dua gedung baru itu akan dilakukan oleh Nuncius Duta Besar Vatikan Mgr. Antonio Guido Filipazzi bersama Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr.

Peresmian kedua gedung baru itu akan dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Letjen (purn.) Bibit Waluyo dan dihadiri oleh pejabat Kuria Keuskupan Agung Semarang bersama Dubes Vatikan untuk Indonesia.

Dalam rangka pemberkatan dan peresmian kedua gedung baru itu, Romo Aloysius Budipurnomo Pr juga merilis buku baru bertitel Menyusuri ‘Sisi Lain’ Sejarah ‘Kebun Anggur Tuhan’ Keuskupan Agung Semarang.

Buku baru ini diterbitkan sebagai semacam buku kenangan.

Tags : , , , , ,

Wapres Boediono: Top Markotop untuk Film “Soegija”

TOP markotop. Istilah zaman sekarang yang lagi ngretren ini barangkali pas untuk menggambarkan lambung pujian yang dialamatkan kepada film Soegija. Yang bersuara kali ini bukan orang sembarang, karena Wapres RI Prof Boediono sendiri yang mengatakannya, tak lama setelah selesai menyaksikan penayangan film Soegija di Rasuna Epicentrum Jakarta Selatan, Selasa (19/6) malam.

“Luar biasa,” kata Wapres Boediono kalem dengan balutan senyum.

“Saya acungkan dua jempol…dan saya menikmati sekali,” ujar profesor ekonomi dari UGM ini.

Boediono tentu tidak sendirian. Ikut bersama Wapres, Ny. Herawati Boediono, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Pangestu, Menkes Dr. Nafsiah Mboy, dan sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Wapres Boediono tak tanggung-tanggung memuji film Soegija hasil besutan kolaborasi sutradara Garin Nugroho dan pemusik Djaduk Ferianto. Utamanya, kata Boediono, paparan tentang nuasa tempo doeloe yang bisa digambarkan sutradara Garin dalam layar lebar.

Tentang sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ –Uskup Indonesia pribumi pertama dan pahlawan nasional—Wapres Boediono pun bertutur kalau Mgr. Albertus Soegijapranata hadir ketika Indonesia muda masih dalam masa pergolakan militer dan politik. Ia mengaku ikut tercerahkan dengan sosok Uskup Vikariat Apostolik Semarang itu akan kiprahnya memperjuangkan Kemerdekaan RI.  

Photo credit: Wapres Boediono nonton film “Soegija” (Wiwiek D. Santoso)

Artikel terkait:

 

Tags : , , , , ,

Romo Sindhunata SJ Bicara Latihan Rohani di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

SEREMPAK dalam waktu yang bersamaan yakni Sabtu tanggal 23 Juni 2012 mendatang akan berlangsung sebuah seminar terbuka tentang harta warisan pendiri Ordo Serikat Jesus (SJ): Latihan Rohani. Di Jakarta, seminar ini akan berlangsung di Kolese Kanisius di Jl. Menteng Raya dengan narasumber Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Romo Deshi Ramadhani SJ, dan Boen Kosasih didampingi moderator Romo In Nugroho SJ.

Di Yogyakarta, seminar dengan tema Latihan Rohani juga akan berlangsung di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, tepatnya di Ruang Koendjono, Gedung Administratif USD di Jl. Mrican 1, Yogyakarta.

Kali ini, yang tampil sebagai narasumber tentang Latihan Rohani di Kampus USD Yogyakarta, Sabtu (23/6) mendatang adalah:

  • Romo GP. Sindhunata SJ, penulis novel pewayangan Anak Bajang Menggiring Angin, dengan tema Jesus, Fire that kindles other fires;
  • Romo Setyodarmono SJ tentang Spiritualitas Latihan Rohani;
  • Prof. Dr. Supratignya tentang Dinyalakan oleh Latihan Rohani;
  • Romo Aria Dewanta SJ bertindak sebagai moderator.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Kegiatan seminari terbuka tentang Latihan Rohani terselenggara atas prakarsa Perkumpulan Harapan Tunas Indonesia (PERHATI).

Konfirmasi kehadiran diharapkan bisa dilakukan paling lambat hari Rabu, tanggal 20 Juni 2012 dengan Sdri. Grace  Versianti atau Sdr. Yasso melalui SMS nomor 0817 955 7886 (Grace) atau nomor 082 111 9980 26 (Yasso).

Konfirmasi juga bisa dilakukan melalui email ido-perhati@provindo.org 

Artikel terkait: Seminar Terbuka tentang Latihan Rohani di Kolese Kanisius, 23 Juni 2012

Tags : , , , , ,

Paroki Kroya Peringati 150 Tahun Tarekat Suster-suster Amal Kasih Darah Mulia (ADM)

PESTA peringatan 150 tahun Kongregasi Suster-suster Amal Kasih Darah Mulia (ADM) kali ini terselenggara di  Susteran ADM Kroya, Kabupaten Cilacap, Keuskupan Purwokerto. Perayaan ini dilaksanakan dalam sebuah perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Romo Ag. Handi Pr. 

Bertempat di halaman TK Yos, perayaan dihadiri 50 undangan umat Paroki Tyas Dalem Kroya, Keuskupan Purwokerto.  Dalam renungannya, Romo Haandi Pr mengajak umat mengenal tarekat ADM. 

Sebagaimana disampaikan oleh Sr. Yuliana Muna ADM, tarekat ini berawal dari biara induk suster CB hingga akhirnya  berkembang  menjadi sebuah karya religius yang mandiri.  Sekarang ini sudah berusia 150 tahun. Dalam kesempatan ini pula telah dilakukan pemindahan Generalat ADM dari Belanda ke Indonesia. 

Dikenang pula sekitar 150 anggota suster-suster dan mereka yang sudah meninggal setelah sekian lamanya hidup membiara. Menjadi tatangan tersendiri karena arahnya sekarang sudah di Asia dan Indonesia. 

Romo Handi Pr mengucapkan terima kasih atas kehadiran tarekat ADM di Paroki Tyas Dalem Kroya melalui karya-karyanya. Diharapkan peringatan ini samakin mengenal kekhasan karya. 

Paroki Kroya juga bersyukur telah bisa menyumbang 1 suster ADM.  

Perayaan syukur meski diawali dengan rintik hujan, namun kemudian tetap  berlangsung meriah dan hidmat.  Acara dimulai pukul 19.30 hingga selesai pk 20.30 dan berlanjut dengan acara ramah tamah bersama. 

Profisiat dan selamat untuk ADM. 

Photo credit: Situs resmi Paroki Tyas Dalem Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah

Link: Paroki Tyas Dalem Kroya, Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah

 

Tags : , , , , ,