Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Pohon Badam (1) : Terus Tumbuh dalam Segala Kondisi

Ayat bacaan: Yeremia 1:11
=====================
“Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.”

pohon badamAda sebuah pohon yang disebutkan dalam beberapa kesempatan di dalam Alkitab tapi kurang kita kenal dan jarang sekali disebut namanya, yaitu Pohon Badam. Pohon Badam merupakan pohon yang mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan ketika musim salju, ketika pohon-pohon lainnya kebanyakan meranggas, pohon badam mampu berbunga dengan indahnya. Bunganya yang putih berpadu dengan kemilau salju akan memberi kesan keindahan tersendiri bagi mata kita. Pohon badam ini juga seringkali diasosiasikan dengan pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih “tidur” ketika musim salju tiba. Tidak banyak pohon yang bisa bertahan selama empat musim penuh dan terus berbunga, tetapi pohon badam memiliki kelebihan itu. Adalah menarik apabila pohon badam ini berulang kali disebutkan di dalam Alkitab, Tentu ada alasan tertentu mengapa pohon ini dipakai Tuhan dalam beberapa kesempatan untuk menyampaikan sesuatu bagi kita.

Hari ini mari kita lihat sebuah kisah yang tertulis dalam kitab Yeremia. Ketika Yeremia mendapatkan tugas dari Tuhan, Tuhan memberikannya dua buah penglihatan. Yang pertama ia lihat adalah sebatang dahan pohon badam.”Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.” (Yeremia 1:11). Apa yang ia lihat merupakan visi yang diberitahukan Tuhan kepadanya. Kita bisa mengetahui bahwa apa yang dilihat Yeremia itu memang benar dahan pohon badam, sebab kemudian Tuhan membenarkan apa yang ia lihat. (ay 12). Kemudian penglihatan kedua pun datang. “Firman TUHAN datang kepadaku untuk kedua kalinya, bunyinya: “Apakah yang kaulihat?” Jawabku: “Aku melihat sebuah periuk yang mendidih; datangnya dari sebelah utara.” (ay 13). Jika penglihatan pertama terlihat indah, penglihatan kedua tidaklah demikian. Yeremia menyaksikan datangnya periuk yang mendidih dari utara. Ini menyatakan akan adanya malapetaka yang bakal menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara. Bahkan Tuhan sendiri memberi penjelasan tentang penglihatan ini. “Lalu firman TUHAN kepadaku: “Dari utara akan mengamuk malapetaka menimpa segala penduduk negeri ini. Sebab sesungguhnya, Aku memanggil segala kaum kerajaan sebelah utara, demikianlah firman TUHAN, dan mereka akan datang dan mendirikan takhtanya masing-masing di mulut pintu-pintu gerbang Yerusalem, dekat segala tembok di sekelilingnya dan dekat segala kota Yehuda.” (ay 14-15). Ini merupakan hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda yang sudah sangat keterlaluan pada masa itu. Lihatlah apa kata Tuhan selanjutnya. “Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri.” (ay 16). Menduakan Allah, itu fatal akibatnya. Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih. Namun lihatlah di sisi lain, dahan pohon badam tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap teguh, taat dan setia kepada Tuhan. Tuhan mengatakan kepada Yeremia: “Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!” (ay 17). Inilah tugas Yeremia, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Bapa yang telah begitu banyak menunjukkan kasih dan kebaikanNya kepada mereka. Bertobatlah, agar jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka. Janganlah periuk mendidih yang menjadi bagian mereka, tetapi hendaknya pohon badam, pohon yang terus tumbuh, berbunga dan berbuah empat musim penuh.

Saya tertarik untuk membandingkan ayat ini dengan apa yang tertulis pada awal kitab Mazmur. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3). Pohon badam memiliki karakteristik seperti itu. Ia tidak layu dan terus berhasil tumbuh meski dalam iklim atau musim yang berbeda. Dan kitab Mazmur ini memberikan kunci bagi kita agar bisa memiliki karakteristik yang sama, sama seperti seruan dari Tuhan yang diberikan kepada Yeremia untuk mengingatkan bangsa Yehuda pada saat itu agar bertobat.

Umat Tuhan yang benar seharusnya hidup seperti pohon badam. Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak mendukungpun tetap bisa mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah. Seperti itulah gambaran umat Tuhan yang ideal, dan seperti itu pula sebenarnya Tuhan menginginkan kita. Tuhan sendiri telah menyediakan segala yang diperlukan agar kita bisa seperti itu. Dia siap untuk terus menggendong kita sampai tua, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4), Tuhan bahkan siap untuk berperang bagi kita. “Janganlah takut kepada mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu.” (Ulangan 3:22). Atau lihat pula apa yang dikatakan Yahaziel ketika ia dihinggapi Roh Tuhan dalam kitab 2 Tawarikh: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.” (2 Tawarikh 20:15). Tentu saja ada banyak lagi janji-janji Tuhan lainnya yang akan memampukan kita untuk terus tumbuh berbunga dan berbuah subur sepanjang musim yang akan luput apabila kita tidak tertarik untuk mencari tahu ribuan janji Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Bagian mana yang akan hadir pada kita dari penglihatan Yeremia, apakah pohon badam atau periuk yang mendidih, semua tergantung dari keputusan kita sendiri dalam menjalani hidup. Oleh karena itu mari kita perhatikan baik-baik cara hidup kita. Sudah sejauh mana kita mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidup, sudah seberapa jauh kita taat dan setia kepadaNya. Itu akan sangat menentukan apa yang akan menjadi bagian kita, apakah pohon badam atau periuk mendidih.

Hidup bagai pohon badam, itulah yang diinginkan Tuhan untuk menjadi bagian kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Tuhan Mengerti

Ayat bacaan: Mazmur 139:1
=======================
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku”

Tuhan mengertiPernahkah anda merasa kecewa bahwa tidak ada satupun orang yang sepertinya mau mengerti anda? Saya pernah mengalaminya, dan terkadang masih juga merasakan hal itu pada waktu-waktu tertentu. Perasaan seperti ini bisa muncul ketika kita merasa semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Terkadang kita bisa merasa bahwa orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak mau tahu tentang kita. Dalam keluarga sekalipun hal seperti ini bisa kita rasakan. Orang tua terlalu sibuk, mereka hanya menginginkan anak mereka untuk mengikuti perintah mereka secara sepihak tanpa mau melihat apa yang menjadi masalah dalam diri anak-anaknya. Suami terlalu sibuk kerja sehingga tidak lagi punya cukup waktu untuk mendengarkan istrinya. Istri terlalu sibuk mengurusi rumah dan sebagainya sehingga tidak lagi punya waktu untuk suaminya. Teman-teman tidak mengikuti secara serius apa yang anda rasakan, atau bagai lenyap ditelan angin justru disaat anda membutuhkan mereka. Pendeknya, tidak ada orang yang mau mengerti, tidak ada yang peduli apakah anda sedang bergembira atau bersedih. “I’m nobody’s child..nobody cares”, ucap seorang teman di twitternya hari ini. Apakah anda termasuk orang yang merasakannya saat ini? Apakah benar sama sekali tidak ada satupun yang mengerti dan peduli?

Ada kalanya kita berada dalam situasi seperti itu. Terkadang kita sulit mengharapkan orang untuk mengerti atau peduli keadaan kita, karena mereka pun seringkali bergumul dengan banyak masalah juga. Atau mungkin mereka peduli, tetapi mereka tidak tahu bagaimana menunjukkannya sehingga terlihat seperti tidak bagi kita. Tidak menutup kemungkinan pula mereka memang tidak peduli, dan kita tidak bisa memaksa mereka. Jika anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, ingatlah satu hal: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun. Dia yang menciptakan kita, tentu Dia pula yang paling tahu segalanya tentang kita. Dan Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Bentuk kasih itu pun diwujudkan dengan kepedulian yang luar biasa besar pula terhadap anak-anakNya. Dia siap tertawa gembira bersama kita, Dia pun turut bersedih bersama kita. Daud menyadari betul hal itu. “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku(Mazmur 139:1). Ayat ini adalah pembuka dari sebuah perikop yang berjudul “Doa di hadapan Allah yang maha tahu” (Mazmur 139:1-24), yang menggambarkan pemahaman Daud akan pengenalan Tuhan tentang dirinya secara penuh. Lanjut Daud lagi: “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.” (ay 2-3).

Sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, mungkinkah Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? “..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: “Ia tidak tahu apa-apa”? (Yesaya 29:16). Jika orang tua kita di dunia saja mengenal kita secara pribadi dan mendalam, apalagi Bapa di Surga. Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, Dia sungguh peduli, namun seringkali kita-lah tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita malah tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Karenanya, andalkanlah Tuhan selalu.“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Ayat ini menyebutkan dengan jelas bahwa menaruh pengharapan kepada Tuhan tidak akan pernah berujung sia-sia.

Sebuah penegasan lainnya disampaikan pula oleh Yesus yang mengenal hati BapaNya dengan sangat baik. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah,bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Lukas 12:6-7). Kalau burung saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang diciptakan secara sangat istimewa menurut gambarNya sendiri. Bayangkan, sampai jumlah rambut kita helai demi helai pun Dia ketahui. Sedekat-dekatnya dan sepeduli-pedulinya manusia, adakah yang sampai tahu jumlah rambut kita? Tuhan tahu itu. Itu menunjukkan bagaimana kepedulian dan pengenalanNya akan kita dengan sangat detail. Betapa indahnya janji Tuhan akan penyertaan dan perlindunganNya atas kita yang tertulis berulang kali di dalam Alkitab. Lihatlah ayat berikut: “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8). Atau lihatlah pesan berikut: “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara.. (Mazmur 37:27-28). Peringatan yang disampaikan Penulis Ibrani pun mengacu akan hal ini: Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Tuhan Yesus sendiri sudah berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), dan siap memberi kita kelegaan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (11:28). Ini janji yang menunjukkan betapa Tuhan mengenal kita dan betapa Dia peduli terhadap segala pergumulan kita.

Ketika tidak ada orang mengerti, ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan sungguh mendengar jeritan hati kita. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, dan peduli.

Tuhan tidak pernah mengecewakan, Dia sangat mengenal kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tahayul

Ayat bacaan: 1 Timotius 4:7
====================
“Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.”

tahayulAnda suka punya gigi ompong? Hampir pasti orang akan tertawa minimal tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tetapi hari ini teman saya bercerita bahwa anaknya malah bangga dengan gigi ompongnya. Bagaimana bisa? Itu karena dia mengatakan kepada anaknya bahwa ompong itu tanda menjadi dewasa, semata-mata agar anaknya tidak sedih ketika gigi susunya harus dicabut. Ternyata apa yang ia ajarkan itu membuat anaknya bangga. Si anak pun bercerita dengan bangga kepada teman-temannya bahwa ia sudah ompong, dan kata mamanya itu artinya ia sudah dewasa. Maka keesokan harinya datanglah salah seorang temannya yang tinggal dekat, dengan bangga pula memamerkan gigi ompongnya. Beberapa teman yang belum pun kemudian mereka tertawakan, karena dianggap masih kecil sebab giginya belum ada yang copot. Saya tertawa mendengar ceritanya, membayangkan anak-anak itu sibuk memamerkan keompongannya dan menganggap bahwa diri mereka sudah dewasa. Dan saya pun berpikir, hal yang sama dalam bentuk berbeda seringkali membuat kita tertipu. Betapa banyaknya tahayul atau kepercayaan-kepercayaan yang kita anggap benar padahal itu malah menjauhkan kita dari ajaran Allah yang sebenarnya.

Ada begitu banyak bentuk-bentuk kepercayaan turun temurun atau ajaran-ajaran yang dipercaya dunia yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan seperti yang tertulis di dalam Alkitab. Dan seringkali itu semua menyesatkan kita, membuat antara mana yang benar dan tidak menjadi kabur atau semu terlihat di mata kita. Tidak jarang diantara orang-orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya ternyata masih mempertahankan kepercayaan-kepercayaan turun temurun yang bahkan bertentangan. Dan banyak orang mengelompokkannya ke dalam adat istiadat untuk menunjukkan pemisahan antara agama dan budaya. Tidak jarang pula semua ini dikemas dalam bentuk-bentuk yang terlihat seolah ilmiah atau bahkan mirip dengan ajaran Kristus. Pertanyaannya, bagaimana jika apa yang dipercaya itu ternyata jelas-jelas bertentangan dengan Firman Tuhan? Yang jelas, Tuhan sudah mengatakan bahwa kita tidak bisa menghamba kepada dua hal yang berbeda.Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Secara khusus ayat ini memang menuju kepada peringatan untuk tidak terikat kepada harta kekayaan duniawi, tetapi jika kita baca keseluruhan ayat ini, maka kita bisa melihat bahwa inti dari segalanya adalah peringatan untuk tidak menduakan Tuhan dengan apapun. Ketika Yesus dicobai iblis di padang gurun, satu sentakan keras Yesus berbunyi: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10).

Paulus pun mengingatkan hal yang sama. “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Ada hubungan erat antara menjauhi tahayul dan dongeng-dongeng yang dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “irrevent legends (profane and impure and godless fictions, mere grandmothers’ tales) and silly myths” dengan melatih diri beribadah. Beribadah bukanlah berbicara secara sempit mengenai pergi ke gereja atau berdoa saja, tetapi aspek yang lebih luas tercakup disana. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Itulah bentuk ibadah sejati, ketika kita mempersembahkan hidup kita sepenuhnya sebagai sebuah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Sebuah ibadah yang sejati bukanlah hanya mengenai kerajinan kita rutin beribadah tiap minggu, meski itu tidak salah, tetapi lebih jauh lagi menyangkut bagaimana kita mengerti kebenaran Firman Tuhan dan mengaplikasikannya dalam setiap sendi hidup kita. Masalahnya, bagaimana mungkin kita bisa melakukan itu kalau kita masih saja kabur dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan, tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak? Dan pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita bisa membedakan itu semua jika kita tidak tahu pasti apa saja yang dikatakan Tuhan? Alkitab berisi petunjuk lengkap mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan. Disana ada perintah, larangan, peringatan, janji-janji Tuhan, apa yang harus dilakukan dan harus dihindari, ada solusi atas berbagai permasalahan dan bagaimana seharusnya kita menghadapinya. Firman itu hidup dan punya kuasa. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12). Kita akan luput dari semua ini apabila kita terus mengabaikan pentingnya membaca Alkitab dan membiarkan Tuhan berbicara banyak kepada kita lewat itu.

Ada hubungan antara menjauhi tahayul dengan melatih diri untuk beribadah. Kita harus tahu terlebih dahulu apa yang dikatakan Tuhan mengenai kebenaran dan melakukannya secara nyata dalam hidup kita. Itulah yang bisa membuat kita menjauhi berbagai kepercayaan atau pengajaran yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Jika kita tidak tahu, bagaimana mungkin kita menjauhkan diri? Kitapun akan terus disesatkan semakin jauh lagi dan lagi. Apalagi berbagai ajaran yang menyesatkan akan terus ada, dan Yesus sudah mengingatkan kita terlebih dahulu untuk waspada. “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.” (Matius 24:24-25).

Berbagai tahayul ini seringkali terlihat bertujuan baik. Jika tidak, maka kita tidak akan terpengaruh olehnya. Di luar kelihatan baik, tapi di dalam menghancurkan dan membawa manusia pada kebinasaan. Pengaruh ini bukan hanya marak terjadi di jaman sekarang seperti tawaran-tawaran okultisme dan sebagainya yang bisa dengan mudah membanjiri berbagai media, tapi jauh sebelumnya sudah pula menimpa jemaat Galatia. Kita bisa melihat bagaimana Paulus pun menegur mereka. “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.” (Galatia 1:6-7). Anak teman saya yang masih kecil beserta sahabat-sahabatnya menganggap benar bahwa mereka sudah dewasa jika bergigi ompong, namun kita tahu bahwa itu tidak benar. Seperti itu pula kita bisa tersesat jika tidak mengetahui kebenaran. Kita tidak akan pernah tahu apa yang benar dan salah jika kita tidak pernah mau meluangkan waktu untuk membaca berbagai suara Tuhan yang sudah dituliskan di dalam Alkitab. Kita harus mulai mendisplinkan diri untuk menyediakan waktu-waktu khusus untuk itu agar kita bisa membedakan dengan baik apa yang benar dan mana yang tidak, mana yang tahayul atau dongeng dan mana yang berasal dari Tuhan. Jangan biarkan Alkitab anda terus berdebu tanpa disentuh, mulailah gali kebenaran Firman Tuhan sekarang juga dan jadilah pelaku-pelakunya dalam kehidupan nyata.

Tanpa mengetahui kebenaran Firman Tuhan kita akan gampang disesatkan berbagai tahayul, dongeng atau pengajaran-pengajaran sesat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Belalang dan Persatuan

Ayat bacaan: Amsal 30:27
========================
“The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands”

belalangKetika masih kecil, ada salah satu jenis belalang yang saya sukai bentuknya karena terlihat seperti sedang memasang kuda-kuda kungfu. Saya pun menyebutnya belalang kungfu, yang belakangan saya ketahui disebut dengan praying mantis karena bagi sebagian orang belalang ini pun terlihat seperti melipat tangan mengambil posisi berdoa. Saya tidak tahu pasti apakah praying mantis tergolong belalang atau tidak, tetapi yang pasti postur fisik dan warnanya memang menyerupai belalang. Hewan ini termasuk jenis karnivora. Tidak seperti belalang biasa yang memakan tanam-tanaman seperti daun, gandum, serbuk bunga dan sebagainya, praying mantis memakan serangga-serangga lainnya seperti belalang biasa, lalat, kumbang atau bahkan laba-laba. Meski tergolong karnivora, sesungguhnya belalang ini pun tidak bisa dikatakan kuat. Ukurannya kecil dan begitu rawan dimangsa oleh predator-predator yang lebih besar seperti burung misalnya. Jika jenis yang karnivora ini saja sudah termasuk lemah, apalagi belalang biasa yang berlompatan di rerumputan. Ukurannya rata-rata lebih kecil dan tidak memiliki pertahanan apa-apa selain daya lompatnya yang cukup jauh dan bisa pula terbang. Bayangkan betapa lemahnya seekor belalang jika berada sendirian di lingkungan yang keras. Setiap saat ia bisa mati menjadi santapan pemangsanya. Bagi kita seekor belalang kecil dan lemah mungkin terlihat lucu. Tetapi apa yang terjadi ketika belalang secara beramai-ramai menyerbu pertanian? Hasil tani bisa ludes seketika. Bagi para petani, serangan belalang ini tergolong hama yang tidak boleh diabaikan. Berabad-abad lamanya serangan belalang ini mengancam penghasilan pertanian di berbagai belahan bumi. Bahkan di Alkitab kita pun bisa menyaksikan bagaimana dahsyatnya serangan yang dilakukan belalang jika berkelompok.

Perhatikanlah apa yang tertulis dalam Alkitab mengenai serangan belalang ini. Serentetan situasi mengerikan pernah terjadi di Mesir pada jaman Musa ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di negaranya Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, ia ternyata masih memilih untuk membangkang. Akibatnya serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Persisnya situasi pada saat itu adalah sebagai berikut. “Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir.” (Keluaran 10:14-15). Lihatlah bagaimana mengerikannya belalang yang lucu, lemah dan kecil itu jika sudah bergabung dalam menyerang. Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.

Satu belalang tidak akan berpengaruh apa-apa. Ia hanya akan melompat-lompat dan mudah kita tangkap. Tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan dan sulit dikendalikan. Hal ini dijadikan contoh oleh Agur bin Yake yang mengatakan: “belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur.” (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris Amplified ditulis: “The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands”. Kata berbaris dengan teratur dalam bahasa Inggrisnya digambarkan dengan bergabung dalam sebuah kelompok besar. Satu kelompok besar yang bergerak bersama untuk tujuan yang sama pula. Jika melihat bagaimana manusia hari-hari ini yang begitu sulit untuk bersatu, selalu memperbesar jurang perbedaan dan terus bertikai, kita pantas merasa malu terhadap belalang ini. Satu gereja sekalipun masih juga bisa saling curiga, apalagi dengan saudara saudari seiman yang berbeda tempat bertumbuhnya. Segala perbedaan selalu dijadikan alasan, kita terus menerus merendahkan, memandang negatif dan curiga terhadap saudara seiman yang memiliki tata cara peribadatan yang berbeda dengan kita. Padahal kita memiliki Raja yang sama, Raja diatas segala raja, Tuhan Yesus. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa menyedihkannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.

Alkitab dalam banyak kesempatan menyatakan pentingnya bagi kita untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Lihatlah apa yang dikatakan Pengkotbah berikut: “Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik. Kalau yang seorang jatuh yang lain dapat menolongnya. Tetapi kalau seorang jatuh, padahal ia sendirian, celakalah dia, karena tidak ada yang dapat menolongnya.” (Pengkotbah 4:9-10 BIS). Dalam Perjanjian Baru pun demikian. Meski Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif dan merasa paling hebat tanpa merasa perlu untuk bergandeng tangan bersama saudara-saudari lainnya. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika jemaatnya memelihara sikap egois dan menutup diri dari yang lain, gereja pun tidak akan bisa berfungsi jika hanya dibatasi oleh dinding-dinding tanpa pernah berpikir untuk bersatu dengan saudara seiman lainnya. Jika sikap seperti ini terus dipertahankan, jangan bermimpi untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar sana. Penulis Ibrani menyampaikan firman Tuhan yang berbunyi: “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah, seperti halnya belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, kita harus lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang dikatakan Tuhan sesungguhnya jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang egocentris. Belalang akan sangat lemah dan rentan jika sendirian di tengah rerumputan luas. Begitu banyak ancaman yang bisa mencelakakan hidupnya. Kita pun demikian di tengah dunia yang jahat ini. Sehebat-hebatnya kita, kita tidak akan bisa mencapai apa-apa jika kita terus menutup diri dari orang lain.

Kita harus mulai berpikir sedini mungkin untuk membangun hubungan atau relasi dengan orang lain, juga membangun link atau network untuk bisa mencapai terobosan-terobosan besar. Tidak hanya dalam urusan pertumbuhan iman, tetapi dalam pekerjaan dan berbagai aspek-aspek kehidupan lainnya pun sama. Kita bisa belajar memulainya dengan membangun hubungan yang erat dimana kita beribadah. Dan Firman Tuhan pun menganjurkan hal yang sama. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Lanjutan hikmat dari Pengkotbah diatas selanjutnya berkata: “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (Pengkotbah 4:12). Ingatlah bahwa bekerja sama dengan sikap saling tolong menolong ini begitu penting untuk kita lakukan, begitu pentingnya sehingga dikatakan bahwa sikap ini merupakan bentuk dari pemenuhan/penerapan hukum Kristus. (Galatia 6:2). Bacalah 1 Korintus 12:12-31 dimana Paulus berbicara dengan rinci mengenai “Banyak Anggota tetapi satu tubuh”, maka anda akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap lagi. Belalang cuma mahluk yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita dan tidak berbahaya. Tetapi kita perlu melembutkan hati untuk mau belajar dari hewan ini. Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa yang bahkan sanggup mengalahkan kita yang jauh lebih besar, lebih pintar dan lebih kuat ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling dukung, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa bertumbuh bersama-sama di dalam Tuhan dan kemudian menjadi terang dan garam yang membawa manfaat besar bagi sesama.

Satu lidi mudah dipatahkan, tapi sulit jika seikat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Belajar dari Pelanduk (2)

 (sambungan)

Dari kerabat pelanduk yaitu rusa kita pun kita bisa mendapatkan pesan yang sama di dalam Alkitab. “Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit” (Mazmur 18:33-34). Ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapati dalam kitab Habakuk. “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” (Habakuk 3:19). Sebagai mahluk yang lemah, seberapa jauh kita bisa berjalan mengandalkan kekekuatan kita sendiri? Cepat atau lambat kita akan menyerah kalah oleh kesulitan-kesulitan hidup. Kita tidak akan mampu keluar dari beban persoalan jika hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Kita harus menyadari keterbatasan kita. Ketika kita sendiri mengetahui batas kemampuan kita, disanalah kita akan sadar bahwa Tuhan siap menjadi jawaban atas segala yang kita alami. Kita harus naik ke tempat yang lebih tinggi agar bisa selamat, dan Tuhan siap memberikan kaki-kaki yang kuat untuk menapak naik kesana. Tuhan siap membuat kita naik lebih tinggi di atas semua masalah dan keluar menjadi pemenang. Berada di tempat tinggi di atas bukit menggambarkan sebuah tempat di mana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita. Dalam Yesaya dikatakan di tempat tinggi itulah rumah Tuhan akan berdiri tegak, tak peduli sekencang apapun badai yang mencoba mengguncang. “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.” (Yesaya 2:2-3). Rumah Tuhan yang dikatakan disini, atau bait Allah, itu berbicara mengenai diri kita. (1 Korintus 3:16). Jadi apa yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah pertolongan yang akan memampukan diri kita untuk meloncat dengan lincah melewati batu-batu masalah untuk sampai di atas bukit dan berdiri dengan tegak disana.

Untuk lepas dari masalah, naiklah ke tempat yang lebih tinggi, dan bangunlah kehidupan anda di atas Gunung Batu, Allah yang mengasihi dan akan selalu melindungi kita. Daud menyadari itu dengan berkata: “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3), dan menyimpulkan satu hal penting: “Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” (ay 32).

Seperti pelanduk kita pun adalah mahluk lemah yang rentan dalam menghadapi bahaya. Setiap saat berbagai hal di dunia ini bisa mengancam kita bagai predator yang siap menerkam dan melumat kita. Oleh karena itulah kita sebaiknya belajar dari kebijaksanaan pelanduk yang mau menyadari kelemahannya dan memilih untuk membangun rumah di atas bukit batu. Pelanduk tahu dimana ia harus berada agar bisa aman, dimana ia bisa berlindung, itu karena hewan ini menyadari keterbatasannya. Demikian pula halnya dengan kita. Terus latih kehidupan rohani kita agar semakin meningkat dan terus tumbuh. Teruslah menapak naik, terus kenali Tuhan lebih jauh dan lebih dekat lagi dan bangunlah seluruh sendi-sendi kehidupan di dalam Tuhan. Semakin tinggi kita berada, semakin sulit pula bagi masalah untuk menggoyahkan kita. Di tempat tinggi kita berdiri tegak, tidak mudah terseret ke dalam hal-hal yang sifatnya duniawi, tidak mudah goyah meski digoyang masalah berat sekalipun. Di bukit atau gunung batu kita akan terlindung dari berbagai ancaman yang siap membinasakan kita. Di tempat seperti itulah kita akan mampu mendirikan rumah Tuhan yang kokoh dan tahan terhadap goncangan apapun. Hanya disanalah kita akan mampu berkata: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18). Bergantung kepada kekuatan diri sendiri yang terbatas lambat laun kita tidak akan sanggup mendakit naik ke atas. Sekali lagi, kita mahluk yang lemah dan terbatas. Karena itu andalkanlah Tuhan dan bangunlah pondasi yang kokoh berakar kepadaNya.

Belajarlah dari pelanduk yang mengetahui ada perlindungan di bukit batu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

28 Okt

“Ia memilih dari antara mereka dua belas orang  yang disebutNya rasul”

(Ef 2:19-22; Luk 6:12-19)

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya” (Luk 6:12-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berreflkesi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Simon dan St.Yudas, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dipilih, dikumpulkan dan kemudian disebar”, itulah jatidiri para rasul. Dikumpulkan untuk dibina dan dibekali aneka macam pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan Kabar Gembira serta kemudian ditugaskan untuk mewartakan Kabar Gembira yang telah diterimanya, entah sendirian atau bersama-sama. Sebagai orang beriman atau beragama kita memiliki dimensi rasuli yang harus kita hayati, maka marilah kita mawas diri sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita berjiwa rasuli. Salah satu bentuk kerasulan yang utama dan pertama-tama serta dapat dilakukan oleh semua orang ialah kesaksian atau keteladanan: saksi atau teladan Kabar Baik, artinya cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa baik, membahagiakan dan menyelamatkan kapanpun dan dimanapun. Semoga pribadi kita seperti atau mendekati Yesus, dimana “semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari padaNya dan semua orang itu disembuhkanNya”. Siapapun yang melihat, mendekati dan bersama kita sebagai orang beriman atau beragama disembuhkan dari aneka penyakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuhnya. Pada masa kini kiranya cukup banyak orang yang sakit hati atau sakit jiwa (mungkin belum seratus persen sakit), yang membutuhkan penyembuhan, maka marilah kita datangi mereka dengan dan dalam rendah hati serta cintakasih. Pendekatan dan kehadiran yang dijiwai oleh rendah hati dan cintakasih pasti akan menjadi warta gembira, dan mereka yang menderita sakit akan tergerak untuk sembuh. Perkenankan secara khusus kami mengingatkan para dokter dan perawat: hendaknya melaksanakan tugasnya dengan rendah hati dan cintakasih dalam rangka memeriksa dan merawat pasien.

·   Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan” (Ef 2: 19-21). Kebetulan hari ini tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda, hari untuk mengenangkan para pemuda yang beraneka ragam suku dan bahasa menyatakan kesatuannya: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Kita semua umat beriman adalah ‘anggota-anggota keluarga Allah’, kebersamaan hidup yang dijiwai dan dihidupi oleh Allah. Maka baiklah pada hari ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal wawasan kebangsaan atau kesatuan dalam keragaman atau keragaman yang bersatu, bhineka tunggal ika. Hidup bersama pada masa kini sedang dirongrong oleh kelompok radikal dengan dan melalui aneka perusakan dan kerusuhan. Kami harapkan dalam tingkat basis, paguyuban hidup bersama dalam satu desa, kampung atau rukun warga yang kiranya terdiri dari aneka macam orang, sungguh terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati. Jika pada tingkat basis persaudaraan atau persahabatan sungguh kuat dan handal, maka dapat mengantisipasi aneka usaha yang merusak hidup bersama, yang dilakukan oleh kelompok radikal maupun orang-orang egois. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, demikian kata sebuah pepatah, dan kiranya kita semua mendambakan kesatuan sejati. Kesatuan, persaudaraan atau persahabatan hidup bersama sendiri sudah bersifat rasuli, karena persaudaraan atau persahabatan sungguh memikat dan mempesona, sehingga siapapun yang melihat persaudaraan atau persahabatan hidup bersama akan tergerak untuk bersaudara atau bersahabat juga.

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,”

 (Mzm 19:2-5)

Ign 28 Oktober 2011

Belajar dari Pelanduk (1)

Ayat bacaan: Amsal 30:26
====================
“pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu”

pelandukPelanduk adalah sejenis mamalia yang berukuran kecil. Hewan ini masih tergolong keluarga rusa, tapi ukuran pelanduk dewasa kira-kira sama dengan kelinci. Hewan ini kecil dan lemah dan tidak memiliki senjata apapun yang bisa melindungi mereka. Mereka tidak memiliki tubuh besar, mereka tidak memiliki sistem pertahanan yang mumpuni, tidak memiliki bisa atau gigi-gigi yang tajam dan sebagainya. Bayangkan jika hewan berukuran kecil ini berkeliaran bebas di hutan belantara. Pelanduk akan dengan mudah menjadi santapan hewan-hewan lain yang lebih besar darinya. Burung elang misalnya, akan dengan mudah menyambar pelanduk dan memangsanya. Begitu pula ular, dan hewan-hewan buas lainnya. Lantas bagaimana pelanduk mampu melindungi dirinya? Ternyata pelanduk cukup bijaksana untuk membuat rumahnya di bukit batu. Pelanduk melindungi dirinya dari keganasan rimba dengan cara berlindung di balik bebatuan di bukit-bukit yang tinggi letaknya. Jika tidak demikian, rasanya mustahil bagi pelanduk untuk dapat bertahan hidup. Nalurinya menyadari bahwa dirinya akan jauh lebih aman jika berada di perbukitan berlindung di balik batu ketimbang berada di bawah dimana ada banyak predator yang siap memangsa mereka dengan seketika.

Salah satu hikmat mengenai empat hewan kecil yang berasal dari Agur bin Yake dalam kitab Amsal pasal 30 adalah mengenai pelanduk. Ayat ini sungguh menarik, karena menggambarkan bagaimana seekor hewan lemah mampu bertahan hidup dengan cara membangun rumahnya di bukit batu. “pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu” (Amsal 30:26). Dalam Mazmur pun kita bisa mendapatkan gambaran mengenai pelanduk ini yang bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita. “…bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk.” (Mazmur 104:18). Tidak jauh berbeda dengan pelanduk, kita manusia pun sangat lemah. Terjangan masalah, badai problema hidup, kegoncangan dan pergumulan yang kita hadapi sehari-hari cepat atau lambat akan membuat kita menjadi lemah dan tidak berdaya. Ketika hal seperti itu terjadi, celah untuk masuknya dosa pun akan terbuka. Betapa rentan nya manusia, seperti halnya pelanduk. Oleh karena itu kita bisa belajar dari cara bertahan hidup (system of survival) hewan kecil dan lemah ini.

Mengapa harus di atas bukit batu? Mari kita lihat apa yang diajarkan Yesus berikut ini. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Matius 7:24-25). Bagi orang yang mau mendengar dan melakukan Firman Tuhan, mereka tidak akan gampang goyah karena mereka akan kokoh bagaikan rumah yang didirikan di atas batu. Jika sebaliknya? Inilah yang akan terjadi: “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (ay 26-27). Ketika kita menyadari bahwa sekuat-kuatnya kita manusia, kita tetaplah manusia yang lemah, hendaknya kita mau membangun hidup kita di atas “batu”. Rumah yang dibangun dengan pondasi kuat tentu tidak rubuh meski digoncang angin badai sekalipun.

Sekarang mari kita fokus pada kata “batu”. Dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan bukit/gunung batu itu tidak lain adalah Tuhan sendiri. “Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” (Mazmur 18:32). Atau lihat ayat lainnya: “TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:2). Daud begitu menyadari bahwa gunung batu tempat perlindungan yang kuat dan teguh ada pada Tuhan sendiri. Lalu dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa yang dimaksud dengan batu itu adalah Kristus. “dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” (1 Korintus 10:4).

(bersambung)

Incoming search terms:

27 Okt

“Hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalananKu”
(Rm 8:31b-39; Luk 13:31-35)
” Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau."  Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.  Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.  Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti  induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi  kamu tidak mau.  Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata:  Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Luk 13:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Seorang utusan yang baik senantiasa maju terus melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaannya, meskipun harus menghadapi aneka ancaman, tantangan dan hambatan serta masalah. Ada rumor “maju kena mundur kena” , kiranya orang  baik dan setia pada tugas pengutusan akan memilih untuk maju terus, tidak akan menyerah dalam menghadapi ancaman, tantangan dan hambatan. Maka kami berharap kepada segenap umat beriman atau beragama untuk tetap setia melaksanakan tugas pengutusan, antara lain yang utama dan pertama-tama adalah tugas untuk menyebarluaskan apa yang baik, yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagaian jiwa manusia. Kiranya kedatangan atau kehadiran kita dimanapun dan kapanpu hendaknya akan memperoleh komentar dari banyak orang, sebagaimana disabdakan oleh Yesus ” Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan”. Kedatangan atau kehadiran kita dimanapun dan kapanpun hendaknya ‘dalam nama Tuhan’, sehingga kita sungguh hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Hendaknya tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti kemauan atau keinginan pribadi alias seenaknya sendiri. Ketika menghadapi ancaman, hambatan atau masalah hadapi dan sikapi ‘dalam nama Tuhan’ artinya bersama dengan Tuhan, maka kita akan mampu mengatasi atau menyelesaikannya. Marilah kita bangun dan perdalam keutamaan tangguh dalam diri kita. “Tangguh adalah sikap dan perilaku yang sukar dikalahkan dan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan suatu tujuan atau cita-cita tertentu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27).
·   “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka” (Rm 8:31b-33). Kita semua adalah orang yang terpilih. Ingat dan sadari bahwa masing-masing dari kita merupakan buah persatuan satu sel sperma dan satu sel telur, dimana ada jutaan sel sperma merebut satu sel telor dan kemudian bersatu, tumbuh berkembang menjadi manusia. Siapakah manusia itu? Tidak lain adalah kita semua. Dengan kata lain kita semua adalah pemenang, yang telah mengalahkan jutaan lawan lainnya, yang berarti ‘Allah di pihak kita’. Jika Allah ada di pihak kita, maka kita akan mampu mengalahkan aneka ancaman, hambatan dan masalah. Aneka ancaman, hambatan atau masalah ada kemungkinan bersumber dari setan alias mengandalkan kekuatan setan, dan setan dengan mudah dikalahkan oleh Allah, maka bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu melakukan apapun demi keselamatan dan kebahagiaan jiwa manusia. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan, yang antara lain tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk rajin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci serta kemudian menghayatinya di dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Atau dengan rendah hati saya merelakan jika apa yang saya coba kutip dan tulis setiap hari dibaca dan diperdalam kembali atau disebarluaskan kepada teman-teman anda. Jika apa yang saya coba refleksikan baik, silahkan sebarluaskan kepada teman-teman anda.
Tetapi Engkau, ya ALLAH, Tuhanku, bertindaklah kepadaku oleh karena nama-Mu, lepaskanlah aku oleh sebab kasih setia-Mu yang baik! Sebab sengsara dan miskin aku, dan hatiku terluka dalam diriku; Tolonglah aku, ya TUHAN, Allahku, selamatkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya mereka tahu, bahwa tangan-Mulah ini, bahwa Engkaulah, ya TUHAN, yang telah melakukannya
 (Mzm 109:21-22.26-27)
Ign 27 Oktober 2011

Kasih Sebagai Motor Penggerak Iman

Ayat bacaan: Galatia 5:6
==================
“…faith activated and energized and expressed and working through love.” (English AMP)

kabel kasihJika anda tengah menonton televisi lalu ada orang yang mencabut kabelnya dari stop kontak, apa yang terjadi? Tentu televisi itu akan mati. Stasiun televisi yang tengah menyiarkan acara yang sedang anda tonton masih terus berjalan, tetapi anda tidak lagi bisa melihatnya karena tidak ada lagi listrik yang mengalir agar televisi bisa beroperasi. Sama halnya dengan berbagai peralatan elektronik lainya yang mengunakan listrik sebagai sumber dayanya. Ketika kabel tercabut, aliran listik yang menjadi sumber daya dari peralatan-peralatan itu pun terputus. Dan akibatnya alat-alat elektronik itu pun tidak lagi bisa berfungsi. Ada kalanya hal ini sepele, tetapi ada saatnya pula dimana terputusnya aliran listrik ini merepotkan kita. Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja kabel listrik laptop saya tercabut ketika saya menggerakkan kaki. Ternyata kabelnya tersangkut pada gerakan itu dan kemudian membuat kabel lepas dari stop kontak. Saya kebetulan tengah melepas baterainya karena sedang menggunakan listrik. Laptop mendadak mati, sedang ketikan yang sedang saya kerjakan belum disimpan. Maka saya harus mengulang lagi dari awal, dan itu cukup merepotkan dan memakan waktu ekstra yang tidak sedikit.

Dengan apa iman sebenarnya bekerja? Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang menggerakkan iman untuk terus bekerja. Ada “sumber daya” yang membuat iman kita tetap menyala, sesuatu yang bisa membuat kita tetap berada dalam proses yang benar dari hari ke hari. Hal itu bisa kita lihat dalam surat Galatia, dimana Paulus mengingatkan jemaat disana tentang apa yang penting atau mempunyai makna mengenai keselamatan. Ia menyinggung tentang banyaknya orang yang lebih bergantung kepada prosesi, tata cara atau ritual-ritual lengkap dengan perulangannya. Ini dianggap penting dan mampu membawa keselamatan, sementara kita lupa akan hal lain yang justru jauh lebih penting, bahkan dikatakan berarti atau bermakna dalam menerima janji-janji Tuhan. Mari kita lihat ayat berikut ini: “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Galatia 5:6). Paulus memulai bagian ini dengan penegasan jelas tentang kemerdekaan yang sesungguhnya sudah hadir bagi orang percaya lewat Kristus. (ay 1). Tapi banyak yang tidak mengetahuinya dan masih bergantung kepada prosesi atau ritual bahkan menganggapnya sebagai hal yang terpenting dan malah melupakan apa yang terutama yang harus kita lakukan. Maka Paulus pun mengatakan sia-sialah semua itu tanpa adanya satu hal yang terpenting dalam hidup untuk kita miliki, yaitu iman. Itulah yang dikatakan Paulus sebagai hal yang “mempunyai sesuatu arti”, alias bermakna,atau  something that really counts. Dan perhatikan ayat Galatia 5:6 bagian terakhir, disana dikatakan bahwa iman itu bekerja oleh kasih. Dalam versi English Amplified bagian ini tertulis sangat detail, “…faith activated and energized and expressed and working through love.”

Kita mengetahui dari mana iman itu timbul. “..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur. Selanjutnya ada “motor” yang menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan motor penggerak atau sumber daya itu adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.

Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci, mendendam atau merasa iri hati kepada orang lain. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan orang lain. Sementara jika itu terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16).Perasaan-perasaan seperti itu akan mudah menguasai kita ketika kita tidak memiliki kasih, dan itu akan menjadi lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan mematikan.

Kasih adalah prinsip dasar kekristenan.
Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi.”Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi…” (1 Yohanes 3:11). Kemudian Yohanes mengingatkan kita pula akan akibat yang timbul jika kita tidak mengasihi atau memiliki kasih, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut” (ay 14), dan dengan lebih keras melanjutkan bahwa “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia” (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati dan berbagai kebencian lainnya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita harus berhenti mencoba mengganggu kabel kasih kita. Kasih adalah esensi dasar ajaran Kristus, sedemikian pentingnya sehingga dikatakan “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13). Ingat pula bahwa aliran kasih itu akan mampu menghindarkan kita dari banyak kejahatan, sekaligus menyembuhkan berbagai luka dan membawa pengampunan bagi orang yang pernah menyakiti kita. “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” “For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others].”  (1 Petrus 4:8).  Ini waktunya kita memeriksa kembali apakah kabel kasih masih terpasang pada tempatnya dalam diri kita atau sudah lama tercabut. Selanjutnya kita harus memastikan bahwa kabel itu terus bekerja mengalirkan kasih ke dalam diri kita, lalu mengalirkannya keluar dari diri kita untuk menjangkau orang-orang lain. Adalah percuma jika kita mengikuti tata cara dan kebiasaan tetapi melupakan esensi terpenting yang menjadi dasar utama kekristenan. Kita tidak bisa mengaku beriman tanpa memiliki kasih. Itu tidak akan membawa arti atau makna apa-apa, sebab Iman tidak akan berfungsi apa-apa tanpa adanya kasih dalam diri kita.

Iman bekerja oleh kasih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

26 Okt

 “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!”

(Rm 8:26-30; Luk 13:22-30)

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.  Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"  Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.  Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.  Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.  Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!  Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.  Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.  Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir." (Luk 13:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Untuk sukses dalam hidup beriman atau beragama, artinya tumbuh berkembang menjadi orang yang suci, berbudi pekerti luhur atau cerdas beriman, orang harus siap sedia untuk rela berjuang dan berkorban melalui cara hidup dan cara bertindak yang sarat dengan tantangan, masalah dan hambatan. Demikian juga untuk tumbuh berkembang alias sukses dalam belajar, kerja, usaha serta hidup sejahtera secara social-ekonomi sejati. “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat”, demikian sabda Yesus yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan dan hayati. Sabda ini kiranya mengajak kita semua untuk senantiasa mengikuti ‘budaya proses’, bukan ‘budaya instant’. Pada saat ini memang cukup banyak makanan dan minuman instant, yang pada gilirannya mempengaruhi dan menjiwai gaya hibup banyak orang juga. Ada orang yang ingin cepat-cepat kaya dan kemudian melakukan korupsi atau mencuri, ada muda-mudi yang ingin segera menikmati hubungan seksual, dst.., yang akhirnya berdampak pada kesengsaraan dalam hidup. Ingatlah dan sadari bahwa masing-masing dari kita kurang lebih selama sembilan bulan telah berproses dari embriyo yang sangat kecil menjadi manusia, maka baiklah pengalaman tersebut kita jadikan acuan dan pegangan juga dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Apa yang diperoleh melalui proses yang baik dan benar pada umumnya akan bertahan lama, sedangkan yang diperoleh dengan cara ‘instant’ akan segera musnah. Hendaknya orangtua senantiasa mendampingi anak-anaknya untuk bersikap mental ‘budaya proses’ dalam kehidupan sehari-hari, dengan teladan konkret dari orangtua.

·   Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” (Rm 8:26-27). Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Roma ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita.  Roh membantu kita dalam kelemahan kita” inilah kireanya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita adalah manusia yang lemah, rapuh dan tiada arti, hanya dan oleh Roh akhirnya kita merasa kuat, berdaya dan berarti. Maka baiklah jika ada sesuatu yang baik, indah, mulia, luhur, menarik dan mempesona dalam diri kita hendaknya dihayati sebagai karya Roh atau Allah. Bahwa kita suka berbuat baik kepada orang lain merupakan karya Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Maka ketika kita berhasil, dapat berbuat baik kepada orang lain hendaknya tidak menjadi sombong melainkan rendah hati. Orang yang sombong pasti akan menderita berkepanjangan, sedangkan orang yang rendah hati akan berbahagia dan selamat selamanya sampai mati. Marilah kita sadari dan hayati bahwa Allah senantiasa membantu kelemahan dan kerapuhan kita, Ia mendoakan kita kapanpun dan dimanapun, Ia senantiasa mendampingi perjalanan hidup dan kerja kita sejak awal sampai akhir. Marilah kita hayati beriman berarti memang mempersembahkan dan mengandalkan diri sepenuhnya kepada Allah.

“Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, supaya musuhku jangan berkata: "Aku telah mengalahkan dia," dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah. Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (Mzm 13:4-6)

Ign 26 Oktober 2011