Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Mengemudi Dalam Kegelapan

Ayat bacaan: Mazmur 119:105
====================
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

mengemudi dalam gelapPernahkah anda tersesat di sebuah jalan gelap di malam hari? Saya pernah mengalaminya di sebuah tempat yang sama sekali masih asing bagi saya. Tidak ada penerangan apapun, karena di kiri kanan saya hanyalah pohon-pohon tinggi seperti sebuah hutan. Jalan yang bisa dilalui mobil pun begitu sempit, sehingga keadaan cukup menyeramkan untuk dilewati pada saat itu. Apa yang bisa diandalkan hanyalah penerangan dari lampu mobil yang tidak cukup jauh untuk bisa menyinari jalan keluar. Artinya, pada saat itu saya belum melihat kemana akhir dari jalan itu, apakah saya akan kembali ke jalan utama untuk menuju ke tempat tujuan atau sebaliknya semakin jauh tersesat. Pada waktu itu belum ada teknologi GPS (Global Positioning System) yang bisa menjadi penunjuk arah, sehingga suasananya membuat saya sempat takut. Satu-satunya andalan, sekali lagi, hanyalah lampu mobil yang sinarnya terbatas. Minimal saya masih bisa melihat jalan dan tidak menabrak pohon atau lainnya. Daripada berhenti, saya lebih baik terus melaju dan percaya kepada penerangan lampu mobil yang terbatas itu. Setidaknya lampu mobil itu bisa menerangi saya untuk terus maju. Pada akhirnya saya kembali ke jalan utama dan selamat sampai ke tujuan tanpa kurang suatu apapun.

Hari ini saya mengingat kembali pengalaman menegangkan itu, dan berpikir bahwa hidup pun seringkali penuh ketidakpastian, bahkan ada kalanya situasi terlihat begitu gelap sehingga kita bisa merasa khawatir atau takut menatap kemungkinan yang akan terjadi esok hari. Kemampuan kita yang sangat terbatas membuat kita tidak bisa melihat apa yang terjadi di masa depan. Kita hanya bisa memilih untuk terus berjalan atau sebaliknya berhenti bahkan mundur. Betapa seringnya ketidakpastian membuat kita hidup dalam ketakutan dan berpikir bahwa itulah akhir dari segala-galanya, apalagi jika apa yang kita hadapi terlihat begitu gelap tanpa seberkas cahaya sedikitpun di ujung sana. Tetapi lihatlah apa yang dikatakan Pemazmur. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105). Your word is a lamp to my feet and a light to my path, demikian bunyi dalam bahasa Inggrisnya. Pemazmur tahu bagaimana kegelapan akan masa depan itu sanggup membuat kita hidup penuh kekhawatiran. Ia tahu bahwa kemampuan kita dalam membaca masa depan sungguh sangat terbatas. Oleh karena itulah, seperti halnya pengalaman saya mengemudi dalam kegelapan malam di tengah hutan dengan pertolongan lampu mobil saja, Tuhan pun menjanjikan pelita dan terang agar kita mampu terus melangkah setahap demi setahap dalam kegelapan itu untuk bisa mencapai tujuan. FirmanNya, itulah yang akan mampu membimbing setiap langkah kita, bertindak bagai pelita bercahaya untuk menerangi setiap langkah agar kita bisa tiba pada sebuah kemenangan seperti yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Jika demikian, bayangkan apabila kita mengabaikan untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Bayangkan jika kita tidak mengetahui apa-apa tentang janji Tuhan dan peringatan-peringatanNya, maka tidak akan ada pelita apapun yang menuntun kita dalam melalui kegelapan yang panjang.

Apa yang direncanakan Tuhan kepada kita semua sesungguhnya jelas. Tuhan mengatakan “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Apa yang disediakan Tuhan di depan sana adalah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, dan Dia sudah mencanangkan hari depan yang penuh harapan sejak semula bagi kita. Artinya, segelap apapun situasi yang kita hadapi hari ini, ada sesuatu yang bersinar terang di depan sana, sebuah hari depan yang sangat menjanjikan. Tuhan juga sudah menegaskan “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b). Pemazmur juga pernah merasakan bagaimana berjalan dalam gelap, namun ia merasakan kehadiran Tuhan dalam membimbing langkahnya setapak demi setapak untuk keluar dari situasi itu. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4). Jika Pemazmur tahu akan hal itu dan bisa berjalan dalam langkah imannya dengan keberanian dan keyakinan, kita pun harus bisa seperti itu. Sebab Tuhan tidak pernah berubah, Dia tetap sama dahulu, sekarang dan sampai selamanya. Janjinya teguh, Dia adalah Allah yang setia yang tidak akan pernah ingkar janji.

Alkitab juga mengingatkan kita agar tidak putus asa ketika terjatuh dalam situasi yang sukar. Yakobus mengatakan: “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:3-4). Perhatikan bahwa Tuhan sudah menjanjikan bahwa meski kita jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan seperti yang disebutkan dalam ayat 2, pencobaan-pencobaan itu bukanlah untuk membuat kita hancur melainkan malah akan memberi manfaat positif bagi diri kita. They are all there to make us even better, not bitter.

Jika ada diantara teman-teman yang sedang merasakan seperti mengemudi dalam kegelapan, ingatlah bahwa Tuhan sudah menyediakan pelita agar anda bisa terus berjalan selangkah demi selangkah untuk menggenapi rencanaNya. Firman Tuhan akan selalu menerangi setiap langkah yang anda ambil agar bisa terus berjalan mencapai tujuan. Meski anda belum melihat titik akhirnya dan masih merasa segala sesuatunya gelap, jangan khawatir dan jangan pernah kehilangan harapan. Anda tidak akan pernah terjerembab jika anda terus berjalan dengan pelita yang berasal dari Firman Tuhan.

Tuhan menyediakan pelita lewat FirmanNya untuk terus menuntun kita setahap demi setahap

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

1Juni – Kis 17:15.22-18:1; Yoh 16:12-15

“Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”

(Kis 17:15.22-18:1; Yoh 16:12-15)

” Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.  Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.  Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.  Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku." (Yoh 16:12-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St Yustinus hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini hari terakhir menjelang Hari Raya Kenaikan serta memasuki Novena Roh Kudus dalam rangka mempersiapkan diri Pesta Pentekosta. Sebelum naik ke sorga Yesus menjanjikan akan mengutus Roh Kudus yang “akan memimpin kamu ke dalam sekuruh kebenaran: sebab Ia  tidak akan berkata-kata dari diriNya senidri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang”. Untuk itu dari pihak kita diharapkan sungguh membuka diri: hati, jiwa, akal budi dan tubuh terhadap bisikan atau bimbingan Roh Kudus, yang dijanjikan kepada kita. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk tidak menutup diri, melainkan membuka diri sepenuhnya. Hemat saya agar kita sungguh terbuka pada Roh Kudus kita harus terbuka terhadap saudara-saudari kita yang setiap hari hidup dan bekerja bersama kita; untuk itu kita harus jujur serta tidak menyembunyikan apapun bagi saudara-saudari kita, dan tentu saja kita juga menerima keterbukaan orang lain, maka kami berharap apa yang kita terima dari orang lain sungguh  kita manfaatkan untuk hal-hal baik alias berbuat baik. Kami berharap antar anggota keluarga atau komunitas dapat menjadi teladan dalam hal keterbukaan ini. Di dalam keluarga suami-isteri hendaknya dapat menjadi teladan keterbukaan pada anak-anaknya: terbuka dalam hal keuangan, bepergian, perasaan, pikiran, harapan, cita-cita, keprihatinan dst… sebagaimana (maaf kalau  sedikit porno) antar suami-isteri terbuka sepenuhnya secara phisik ketika sedang memadu kasih, berhubungan seksual. Di sekolah-sekolah kami berharap para guru dapat menjadi teladan keterbukaan dan kejujuran bagi para peserta didik. Marilah kita masuki Novena Roh Kudus yang akan dataang dengan sikap terbuka dan jujur.

·   “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.  Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.” (Kis 17:28-29), demikian kutipan kotbah Paulus. Apa yang dikatakan oleh Paulus ini kiranya dapat menjadi pegangan atau contoh bagi para pengkotbah, entah awam atau imam, seraya meneladan St.Yustinus yang kita kenangkan hari ini. Marilah sebagai umat Allah kita sadari dan hayati bahwa kita dapat hidup bahagia, damai sejahtera dan selamat jika kita “hidup dan bergerak di dalam Dia”  alias tidak mengikuti selera atau keinginan pribadi, seenaknya sendiri. Maka meneruskan perihal keterbukaan di atas, kami mengajak kita semua marilah kita membuka diri terhadap aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, yang berfungsi menuntun dan membimbing cara hidup dan cara bertindak kita menuju ke kebahagiaan atau keselamatan sejati. Meskipun sendirian di suatu tempat kami berharap kita tetap setia pada tata tertib yang ada, demikian juga ketika berada di kamar sendirian kami berharap kita tetap setia pada panggilan maupun jati diri kita masing-masing, artinya tidak melakukan yang aneh-aneh yang dapat membahayakan keselamatan jiwa kita. Ingatlah dan hayati bahwa Allah senantiasa melihat dan menyertai kita melalui malaikat-malaikatNya, malaikat pelindung kita masing-masing, dengan kata lain apapun yang kita lakukan diketahui oleh Allah. Hendaknya aneka macam harta benda yang kita miliki atau kuasai dan nikmati difungsikan agar kita semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah.

“Halleluya! Pujilah Tuhan di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! Pujilah Dia hai segala malaikatNya, pujilah Dia, hai segala bintang terang” (Mzm 148:1-2)

Ign 1 Juni 2011

Incoming search terms:

Kisah 25 Sen

Ayat bacaan: Titus 2:7
=================
“dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”

jujur dalam perkara kecilSebuah email forward-an saya terima hari ini berisikan sebuah kisah yang menarik. Ceritanya mengenai pengalaman seorang pendeta yang baru saja pindah ke negara bagian lain di Amerika. Beberapa minggu setelah ia tiba disana, pada suatu hari ia naik ke sebuah bus untuk menuju suatu tempat agak ke luar kota. Ketika ia duduk, ia menyadari bahwa ternyata uang kembalian yang diberikan supir berlebih 25 sen. Ia kemudian mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan. Hatinya berkata, “saya harus mengembalikan uang 25 sen ini.” Tetapi kemudian pikirannya berkata, “ah lupakan saja, kan cuma 25 sen saja..mengapa harus repot dengan jumlah sekecil itu?” Uang pecahan sekecil itu toh tidak akan merugikan supir dan pengusaha pemilik bus. Ia terus berpikir sepanjang perjalanan. “Mungkin saya sebaiknya menerima saja sebagai sebuah “hadiah kecil dari Tuhan” dan mendiamkan saja pura-pura tidak tahu. Ketika ia sampai di tempat tujuan ia pun berdiri sejenak di pintu, lalu mengembalikan uang pecahan itu kepada supir sambil berkata, “anda tadi kelebihan memberi kembalian.” Dan si supir kemudian tersenyum dan berkata: “anda kan pendeta baru di kota ini?” Si pendeta pun terkejut seraya mengiyakan. Lalu supir itu melanjutkan, “saya sedang mencari tempat yang tepat untuk menyembah Tuhan. Saya tadi ingin mencoba anda, apa yang akan anda lakukan jika mendapat kembalian lebih dari yang seharusnya. Baiklah kalau begitu, sampai ketemu hari Minggu.” ucap sang supir sambil tersenyum. Pendeta itu pun kemudian tertegun dan berkata, “Ya Tuhan, saya hampir saja menjual AnakMu hanya untuk 25 sen.” Ia bersyukur sudah mengambil keputusan yang tepat, meski uang itu sangatlah kecil nilainya dan tidak akan merugikan siapapun.

Adalah penting bagi kita untuk terus bersikap jujur dalam kondisi,situasi apapun dan atas jumlah berapapun. Godaan-godaan seperti itu akan terus datang dalam hidup kita. Kita cenderung mengabaikan untuk bersikap jujur ketika ada keadaan yang menguntungkan kita seperti mendapat kembalian lebih ketika berbelanja misalnya. “Ah biar saja, toh itu salah dia, bukan salah saya..” itu bisa muncul dipikiran kita untuk membuat kita terjebak melakukan hal yang salah. Bahkan yang lebih parah, kita mungkin malah membawa-bawa Tuhan di dalamnya, dengan menganggap bahwa itu hadiah dari Tuhan. Tuhan tidak akan pernah memberi hadiah yang merugikan orang lain. Meski jumlahnya relatif kecil sekalipun, itu tidak akan pernah benar, dan sekecil apapun,sebuah dosa tetaplah dosa.

Cerita ini memberi sebuah keteladanan tepat seperti yang disampaikan Paulus dalam surat untuk Titus. “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.” (Titus 2:7). Perhatikanlah bahwa pesan ini bukan hanya berlaku bagi pendeta, penginjil atau hamba-hamba Tuhan saja, tetapi juga kepada kita semua orang percaya. Sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya menunjukkan integritas yang baik dengan perbuatan yang sesuai dengan perkataan, sesuai dengan ajaran Tuhan, sesuai dengan gambaran orang percaya yang benar, menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan, seperti yang diajarkan pada kita dalam Matius 3:8. Seperti apa yang dialami oleh pendeta di atas, segala perilaku, perbuatan dan keputusan-keputusan yang kita ambil akan tetap menjadi perhatian orang lain. Alangkah ironisnya apabila kita sebagai anak-anak Tuhan sama sekali tidak mencerminkan sikap seperti Bapa kita, malah sebaliknya memberi citra negatif dengan bersikap munafik, terus mencari kepentingan sendiri tanpa merasa bersalah jika merugikan orang lain. Kelanjutan dari ayat Titus di atas mengingatkan kita agar terus bersikap jujur, “..sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (ay 8).

Jujur dalam segala hal merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar atau dinegosiasikan dengan alasan apapun. Salomo yang penuh hikmat berkata “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.” (Amsal 11:3). Dan dalam bagian lain ia berkata “karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Kita harus ingat bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang-orang jujur, sebaliknya dosa sekecil apapun bisa membuat jurang menganga untuk memutuskan hubungan kita dengan Tuhan. “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Jangan lupa bahwa kita membawa nama Kristus dalam setiap langkah hidup kita. Email yang saya terima itu ditutup dengan sebuah rangkaian yang sangat baik untuk kita renungkan: Watch your thoughts ; they become words. Watch your words, they become actions. Watch your actions, they become habits. Watch your habits, they become character. Watch your character, it becomes your destiny. Jangan beri toleransi untuk menghalalkan kejahatan, jangan buat timbangan sendiri untuk besar kecil atau boleh tidaknya kita melakukan kecurangan atau menutup mata atas sesuatu yang menguntungkan kita tetapi merugikan orang lain, “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27). Hendaklah kita terus bersikap jujur dalam perkara apapun, agar kita bisa menjadi kesaksian tersendiri akan Kristus di dunia ini.

Jujurlah dalam segala hal tanpa memandang besar kecilnya, karena setiap pelanggaran tetaplah dosa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

30 Mei – Kis 16:11-15; Yoh 15:26-16:4a

“Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa akan bersaksi tentang Aku

(Kis 16:11-15; Yoh 15:26-16:4a)

” Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.  Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.". "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.  Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.  Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.  Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu”‘ (Yoh 15:26-16:4a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Roh Kebenaran berarti Roh yang bertugas untuk membenarkan atau meneguhkan. Roh Kudus akan membenarkan atau meneguhkan bahwa Yesus adalah saksi karya penyelamatan artinya yang datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya. Maka kita semua yang percaya kepadaNya juga dipanggil untuk melakukan yang sama, yaitu kemanapun pergi atau dimanapun berada harus menjadi saksi iman, yang senantiasa berusaha menyelamatkan dunia seisinya. Menghayati panggilan ini kita pasti akan menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah atau bahkan pengucilab, karena cukup banyak orang yang berpengaruh di dalam kehidupan bersama bertindak menghancurkan lingkungan hidup di dunia ini, antara lain dengan serakah mengambil hasil bumi seperti membabati hutan seenaknya, menguras minyak bumi, perusakan hutan demi tambang batu bara, pembangunan gedung yang merajalela dst..yang semuanya ini menambah ‘pemanasan global’ yang mengancam kehidupan di dunia ini. Namun sebagai saksi iman meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, hendaknya tidak putus asa atau menyerah, karena Roh Kudus akan mendukung dan menguatkan kita sehingga kita akan mampu menghadapi semuanya itu. Menjadi saksi iman akan Yesus Kristus memang antara lain kita harus siap sedia dan rela untuk ‘disalibkan’, artinya berjuang dan berkorban demi keselamatan jiwa umat manusia. Maka baiklah ketika menghadapi tantangan, masalah dan hambatan kita kenangkan aneka pesan atau sabda Yesus yang pernah kita dengarkan, renungkan dan hayati. Kita harus siap sedia menghayati panggilan kenabian kita, yang memang pada umumnya bernasib untuk dibenci dan dikucilkan oleh mereka yang bersikap mental materialistis atau duniawi

·   “Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku“, (Kis 16:15), demikian kata seorang perempuan bernama Lidia kepada Paulus, rasul agung. Di antara sekian banyak orang yang membenci dan mengucilkan pasti masih ada yang siap sedia mendengarkan dan menerima itulah yang terjadi. Dengan kata lain di tengah-tengah kejahatan pasti ada kebaikan, di antara kelemahan pasti ada kekuatan, diantara aneka ancaman pasti ada peluang dan kesempatan. Marilah kebenaran ini kita imani dan hayati, artinya di dalam dan bersama Roh marilah kita lihat aneka kebaikan, kekuatan, peluang dan kesempatan untuk bersaksi tentang iman kita kepada Yesus Kristus, pasti akan kita temukan orang-orang seperti Lidia, yang membuka diri terhadap kesaksian kita atau bahkan mereka mengundang kita untuk menumpang dirumahnya untuk beberapa saat. Apa yang terjadi dalam diri Lidia ini kiranya juga menjadi nyata dalam kehidupan iman atau beragama bersama pada masa kini, yaitu pada umumnya rekan-rekan perempuan lebih berpartisipasi dalam aneka kegiatan dan usaha umat Allah daripada rekan-rekan laki-laki. Sebagai contoh dalam doa bersama di lingkungan atau stasi-stasi pada umumnya lebih banyak dihadiri oleh rekan-rekan perempuan. Mungkin ini juga menjadi penjelasan bahwa rekan-rekan perempuan pada umumnya lebih menerima daripada member.  Maaf kalau sedikit porno: bukankah dalam hubungan seksual antara suami-isteri, laki-laki dan perempuan pihak suami atau laki-laki memasukkan alat kelaminnya ke dalam alat kelamin perempuan, seraya ‘memberi sperma’ kepada perempuan, dan sang perempuan pun menerimanya dengan senang hati, gembira, ceria dan kesiap-siagaan tinggi. Terima kasih kepada rekan-rekan perempuan yang dalam kenyataan hidup bersama begitu rela berkorban untuk menerima aneka perlakuan, tugas dan sentuhan atau ajakan.

“Nyanyikanlah bagi Tuhan dengan nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaat orang-orang saleh! Biarlah mereka memuji-muji NamaNya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepadaNya dengan rebana dan kecapi. Sebab Tuhan berkenan kepada umatNya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan

(Mzm 149:1.3-4).

Ign 30 Mei 2011

Dengan Pengharapan

Ayat bacaan: 1 Korintus 9:10
=====================
“Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.”

kerja dengan pengharapanSemakin tinggi teknologi, semakin canggih pula robot yang berhasil dibuat. Ada robot yang saat ini bisa membuat pancake, ada yang bisa menari dengan luwes, bahkan menyanyi bersama manusia. Di Jepang ada robot yang tidak lagi berbentuk seperti rangkaian besi bermesin, tetapi sudah bisa tampil seperti android feminin. Robot Actroid F namanya, bukanlah robot yang dibuat untuk berjalan seperti kebanyakan robot sebelumnya. Tetapi kelebihannya ada pada mimik muka yang sangat realistis dan sepintas akan terlihat seperti manusia sungguhan. Secanggih apapun sebuah robot, hingga hari ini robot hanyalah berfungsi sesuai program sebagaimana ia dibuat. Robot tidak memiliki keinginan sendiri, apalagi harapan atau impian. Itu perbedaan besar antara manusia dengan robot. Tetapi ada banyak manusia yang lupa terhadap hal ini dan hidup seperti robot. Bekerja, bekerja dan bekerja, seperti terprogram tanpa harapan apa-apa. Mereka hanya melakukan rutinitas seperti halnya sebuah robot. Ada beberapa orang yang saya kenal hidup seperti ini, dan rata-rata kehilangan gairah hidup. Air mukanya tidak lagi cerah, tidak ada kegembiraan. Mereka bukan lagi orang yang saya kenal sebelumnya. Jika ini yang terjadi, maka itu tanda bahwa ia kehilangan jatidirinya sebagai manusia, dan hidup selayaknya robot terprogram.

Hidup memang sulit, dan itu seringkali menjadi sebab terampasnya kebahagiaan dari hidup seseorang. Mereka berubah menjadi pribadi-pribadi kaku dan dingin karena tekanan pekerjaan yang merubah mereka hidup seperti tanpa jiwa. Kemarin saya sudah membagikan renungan bahwa kita hendaknya bisa bekerja dengan hati lapang, agar kita tidak kehilangan semangat, antusiasme maupun gairah dalam hidup, seperti apa yang dikatakan Firman Tuhan, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Hari ini saya hendak melanjutkan dengan satu lagi sikap hati yang baik untuk ditanamkan dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan, yaitu bekerja dengan pengharapan. Betapa perlunya kita untuk tetap memiliki pengharapan dalam bekerja, bukan hanya melakukannya tanpa jiwa, tanpa target, tanpa impian dan harapan. Mengapa ini penting? Karena tanpa adanya pengharapan kita tak ubahnya seperti robot yang hanya berjalan sesuai program tanpa kerinduan apapun dalam hati. Lihatlah apa kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus. Pada saat itu ia sedang menyitir sebuah tulisan dalam hukum Musa yang berbunyi: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!” (1 Korintus 9:9a). Apa yang ia kutip ini berasal dari Ulangan 25:4. Dan Paulus kemudian menanyakan, “Lembukah yang Allah perhatikan?” (ay 9b). Lembukah, atau justru untuk kita itu dimaksudkan? Ayat selanjutnya berbunyi: “Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.” (ay 10). Perhatikanlah bahwa Paulus mengingatkan bahwa kita harus membajak/mengirik alias bekerja dalam pengharapan. Ini merupakan sebuah pesan penting yang akan mampu membuat kita terus memiliki tujuan dalam bekerja, bukan sekedar menyambung hidup dari ke hari tanpa harapan sama sekali.

Bekerja tanpa pengharapan akan membuat nyala semangat di dalam diri kita padam. Tanpa pengharapan kita tidak akan bisa tekun dan memberikan hasil yang terbaik. Itu pun akan menolong kita untuk bisa bersikap setia dan berkomitmen baik bagi tempat kita bekerja maupun atas profesi kita. Kemana pengharapan kita harus diarahkan? Paulus dalam surat Korintus di atas mengatakan bahwa penting bagi kita untuk mengarahkan pengharapan untuk memperoleh bagian kita, in expectation of partaking of the harvest. Dan bagian itu sudah disediakan oleh Tuhan dalam Kristus. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa Yesus Kristuslah dasar pengharapan kita (1 Timotius 1:1), dan mengingatkan pula bahwa kita hendaknya “..teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.” (Ibrani 10:23). Allah setia dengan janjiNya, dan Dia akan selalu menepati setiap janji yang telah Dia berikan. Oleh karena itulah kita pun diingatkan bahwa pengharapan tidak akan pernah mengecewakan. (Roma 5:5).

Tidaklah salah jika kita mengharapkan imbalan atas pekerjaan kita, tetapi jangan menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan yang terutama. Biar bagaimanapun, kita diingatkan untuk bekerja sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan bukan manusia. Itulah yang seharusnya menjadi arah tujuan kita dalam bekerja. Memberi yang terbaik seperti melakukannya untuk Tuhan. Dan Tuhan sudah menyediakan upah bagi setiap kita yang melakukannya. Jangan lupakan pula bahwa bukan hanya dalam pekerjaan dunia atau sekuler, tetapi dalam pelayanan pun kita hendaknya melakukan dengan pengharapan. Meski pekerjaan yang kita lakukan begitu menyita waktu, tenaga dan pikiran, meski semua itu saat ini terlihat seolah-olah menutup segala kemungkinan bagi kita untuk berharap apapun, tetaplah pegang pengharapan dalam Kristus erat-erat, karena Alkitab sudah dengan tegas mengatakan bahwa “..masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18). Bersyukurlah atas pekerjaan yang anda miliki hari ini, dan tetap pegang teguh janji Tuhan bahwa ada pengharapan di dalamnya, dan itu tidak akan pernah sia-sia.

Keep the light of hope on in everything you do

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Hati Lapang

Ayat bacaan: Kolose 3:23
=================
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

hati lapangAda sebuah petuah penting yang selalu diajarkan oleh ayah saya berulang-ulang sejak saya kecil bahkan sampai saat ini. Dia selalu berkata, apa pun keadaannya, jalani dan lakukan semua dengan hati lapang. Waktu kecil saya tidak begitu memahami apa yang ia katakan. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan bahwa yang ia katakan ternyata begitu tinggi nilainya. Ada kalanya dalam bekerja kita tidak selalu memperoleh hasil sesuai dengan yang kita inginkan. Rasanya tidak sebanding dengan usaha, tenaga, pikiran yang kita keluarkan. Disaat demikian kita bisa cepat menjadi lelah, putus asa, kehilangan semangat dan itu akan berakibat pada hasil pekerjaan atau performa kita yang menurun. Semua orang ingin sukses, semua orang ingin berhasil. Apa yang anda anggap penting untuk mencapai sukses? Kenyataannya ada banyak orang mengantungkan dirinya pada hal-hal material untuk mencapai sebuah kesuksesan. Mereka akan langsung menyerah karena merasa bahwa apa yang mereka miliki belumlah cukup untuk bisa menghasilkan sesuatu. Mau buka usaha butuh modal, mau melamar butuh uang dan butuh “backing” dari orang dalam dan sebagainya. Saya tahu bahwa fakta nyata di dunia memang seperti itu, dan ada kalanya kita tidak bisa menghindarinya. Namun jangan lupa bahwa di atas segalanya ada Tuhan yang bisa memakai hal yang paling kecil sekalipun untuk menjadikan sesuatu yang luar biasa. Kita tidak akan pernah bisa mengukur kemampuan Tuhan yang sanggup mengatasi segalanya. Dan sayangnya, jarang sekali hati kita di set untuk menyadari hal itu. Kita terus bergantung pada keadaan dan keterbatasan kita, segala yang kita miliki di dunia ini, dan menganggap hal itu sebagai satu-satunya yang bisa membuat kita sukses.

Alkitab tidaklah menyatakan demikian. Alkitab jelas berkata bahwa hati merupakan sumber kehidupan. Suasana hati dan apa yang dipercaya oleh hati kita merupakan hal yang sangat menentukan sukses tidaknya kita dalam pekerjaan maupun kehidupan. Lewat Salomo kita bisa memperoleh sebuah hikmat yang penting: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Kehidupan dikatakan terpancar dari hati. The springs of life flow from the heart. Artinya, hati kita akan sangat menentukan perjalanan hidup kita. Hati adalah kunci dan rahasia utama yang bisa memampukan orang untuk bangkit dari kegagalan, dan bertahan dalam kesesakan. Bukan dunia atau keadaan yang menentukan bagaimana kita hari ini, tetapi bagaimana hati kita dalam menyikapinya lah yang sangat menentukan. Maka petuah dari ayah saya pun menjadi sangat signifikan untuk diingat. Tetaplah lakukan dengan hati lapang. Itu membuat saya bisa legawa, bisa terus bersukacita meski apa yang saya peroleh mungkin belum sebanding dengan usaha dan kerja keras yang saya keluarkan,

Perhatikanlah bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang lapang, atau dengan sepenuh hati, keikhlasan dan kerelaan akan sangat berbeda hasilnya dengan pekerjaan yang dilakukan asal-asalan, seadanya tanpa melibatkan hati sama sekali. Adalah penting utnuk melibatkan hati kita dalam bekerja sehingga hasil terbaik akan bisa kita berikan. Tetapi tentu saja hati harus terlebih dahulu dijaga dengan segala kewaspadaan, diarahkan sepenuhnya kepada Tuhan bukan kepada hal-hal duniawi. Hati harus dijaga agar tetap dalam keadaan sejuk, damai, tenang dan penuh pengharapan kepada Tuhan bukan diisi dengan keinginan-keinginan untuk mengejar popularitas, harta dan sebagainya.

Bekerja dengan hati lapang akan membuat kita bisa tetap memiliki antusiasme dan gairah dalam bekerja. Hasil dari pekerjaan akan sangat berbeda ketika kita melakukannya dengan semangat dan antusias dibanding dengan berat hati. Dengan hati lapang juga akan membuat kita tidak gampang bosan dan bisa melakukan tugas-tugas kita tanpa pamrih. Minimnya apresiasi atau penghargaan dari orang lain seringkali mampu membuat kita patah semangat dan berhenti. Apalagi jika lini pekerjaan kita bukan merupakan sesuatu yang dianggap penting oleh manusia. Dalam bekerja bisa demikian, dalam pelayanan apalagi. Ada banyak orang yang pada mulanya bersemangat melayani Tuhan tetapi pada akhirnya mereka kehilangan gairah dan semangat karena merasa tidak menerima apresiasi yang seimbang dengan usaha yang sudah dilakukannya. Alkitab mengajarkan kita untuk tidak mendasarkan usaha kita kepada apresiasi manusia tetapi justru seharusnya kepada Tuhan. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Bukan mengarahkan kepada manusia, tetapi arahkanlah kepada Tuhan. Meski sedikit sekali atau tidak ada manusia yang menghargai jerih payah anda, itu tidak akan menjadi masalah karena upah yang sejati sesungguhnya bukan berasal dari manusia tetapi dari Tuhan sendiri. Ayat berikutnya dalam Kolose berkata: “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (ay 24).

Apapun yang anda lakukan hari ini, lakukanlah dengan hati lapang. Segala sesuatu yang dilakukan dengan sikap hati seperti itu akan memberikan dampak yang berbeda terhadap hasil dari pekerjaan kita. Anda tidak perlu kecewa, kehilangan suka cita apalagi harapan meski sedikit sekali orang yang menghargai usaha anda. Segala yang terbaik yang anda lakukan seperti untuk Tuhan, dengan hati lapang tidak akan pernah luput dari pandangan mataNya. Yakinlah bahwa semua telah Dia sediakan dan kita tidak akan kehilangan upah sedikitpun selama kita melakukannya dengan sebaik-baiknya seperti untuk Dia. Karenanya, tetaplah bersukacita dan lakukan semuanya dengan hati lapang.

Dengan atau tanpa hati akan memberi hasil akhir yang berbeda terhadap pekerjaan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Mg Paskah VI – Kis 8:5-8.14-17; 1Ptr 3:15-18; Yoh 15:14-21

“Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya.”

Mg Paskah VI: Kis 8:5-8.14-17; 1Ptr 3:15-18; Yoh 15:14-21


Pesuruh atau hamba yang baik senantiasa mengerjakan apapun yang diminta atau diperintahkan oleh tuannya, dan memang tugas utama seorang hamba adalah partisipasi dalam tugas dan tanggungjawab tuannya. Pada umumnya seorang hamba juga hanya mampu atau terbatas mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai dengan keterampilan dan fungsinya, dan diharapkan ia berfungsi secara prima sehingga membahagiakan tuannya. Sebagai umat beriman atau beragama kita adalah hamba-hamba Tuhan, maka diharapkan kita hidup dan bertindak sesuai dengan perintah atau kehendak Tuhan, serta tidak mengikuti keinginan atau selera pribadi melainkan berani meninggalkan nafsu dan keinginan pribadi. Maka marilah kita mawas diri perihal panggilan kita sebagai hamba-hamba Tuhan.

“Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut lagi kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, sebab Aku telah memberitahukan kepadamu segala seuatu yang telah kudengar dari BapaKu” (Yoh 15:14-15)  

Sebagai hamba-hamba Tuhan kita juga menjadi sahabat-sahabat Yesus, Hamba Tuhan sejati, yang datang untuk melayani bukan dilayani. Ia telah mendengarkan dan melaksanakan semua perintah Yang mengutusNya serta memberitahukan segala sesuatu yang didengarkanNya dari Yang mengutusNya.  Maka sebagai sahabat-sahabat Yesus, yang ambil bagian dalam ke Hamba-anNya, kita diharapkan sungguh mengenalNya serta kemudian meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Untuk itu marilah kita terus menerus berusaha dengan keras dan rendah hati mengenal Yesus, antara lain dengan membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci.

Apa yang tertulis di dalam Kitab Suci dapat kita sikapi sebagai sejarah yang sungguh bermakna, maka baiklah sungguh kita baca dan dengarkan. Ingat dan hayati bahwa apa yang tertulis di dalam Kitab Suci ditulis dalam ilham Allah, dan  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang berguna untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:16). Kita dididik dan dibina oleh Sabda Tuhan agar semakin beriman dan mempersmbahkan diri seutuhnya kepada Tuhan,  dan dengan demikian layak disebut sebagai ‘sahabat-sahabat Yesus’. Jika kita sungguh menjadi sahabat Yesus maka kita juga akan hidup dan bertindak dengan rendah hati meneladan kerendahan hatiNya.

Rendah hati adalah sikap dan tindakan yang tidak pernah menonjolknn diri meskipun dirinya terbaik dan senantiasa mentaati atau melaksanakan sepenuhnya aneka janji dan tata tertib yang terkait dengan hidup,  panggilan dan tugas pengutusannya. Maka marilah kita taati dan laksanakan sepenuhnya aneka tata tertib sekecil dan sesederhana apapun, karena jika kita mampu dan terbiasa mentaati atau melaksanakan tata tertib yang kecil dan sederhana akan lebih mudah mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang sulit dan berbelit-belit. Dalam kehidupan dan tugas pekerjaan kita sehari-hari kiranya kita menghadapi aneka tata tertib sederhana, seperti aturan lalu lintas, aturan pakai aneka kemasan obat atau makanan atau sarana-prasarana, dst.. Secara khusus kami mengingatkan pentingnya mentaati tata tertib lalu lintas dan aturan pakai aneka sarana-prasana. Cara kita berlalu lintas atau hidup di jalanan hemat saya  merupakan cermin  kualitas hidup masyarakat atau bangsa, maka hendaknya tertib berlalu lintas sungguh menjadi kebiasaan cara hidup dan cara bertindak kita. Tak kalah penting adalah mentaati aneka aturan pakai sarana-prasarana yang kita gunakan dalam hidup dan tugas pekerjaan kita sehari-hari.

Semakin sempurna atau tuntas mentaati dan melaksanakan aneka janji dan tata tertib kiranya juga berarti semakin suci dan benar, semakin beriman alias menjadi sahabat-sahabat Tuhan, dan siapapun yang melihat atau bersama dengan kita juga semakin tergerak untuk menjadi sahabat-sahabat Tuhan. Marilah kita hayati semangat hamba atau pelayan yang baik, antara lain senantiasa ceria, gembira, dinamis, tidak pernah marah, bekerja keras, cekatan, tanggap terhadap aneka perintah dan permintaan, sederhana, pasrah, dst.. Untuk itu kiranya kita dapat bercermin pada para hamba atau pelayan rumah tangga atau kantor/tempat kerja yang baik. Ingat dan sadari juga bahwa orang utama dalam paguyuban umat Allah seperti Paus dan para Uskup senantiasa berusaha untuk menjadi ‘hamba-hamba yang baik dengan melayani umat Allah dalam kesederhanaan dan kerendahan hati’, maka selayknya kita sebagai umat Allah saling mendukung dan membantu dalam penghayatan kehambaan atau pelayanan. Maka selanjutnya marilah kita renungkan nasihat atau peringatan Petrus di bawah ini.

“Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat” (1Ptr 3:17)

Tumbuh berkembang menjadi lebih baik memang tak akan terpisahkan dari aneka tantangan, hambatan serta masalah, maka hayatilah aneka  tantangan, hambatan serta masalah tersebut sebagai wahana atau jalan untuk tumbuh berkembang lebih baik. Lihat dan cermati perlakuan para petani terhadap biji yang sedang tumbuh atau kecambah: biji yang sedang tumbuh atau kecambah ditutupi dengan sampah atau jerami agar batang kecambah semakin cepat tinggi atau panjang, itulah jati diri hidup sejati, yaitu semakin dihambat semakin bergairah untuk melihat dan menikmati Hidup Sejati, yaitu Allah yang menganugerahi hidup. Tantangan, hambatan serta masalah membangkitkan kreativitas, gairah  dan tenaga untuk bertemu dengan Hidup Sejati, Allah sumber kehidupan, keselamatan dan kebahagiaan sejati.

Marilah kita hayati salah satu motto Bp Andrie Wongso, promotor Indonesia, yaitu “Besi batangan kalau digosok terus menerus pasti akan menjadi sebatang jarum tajam, maka milikilah keteguhan hati dalam menghadapi aneka tantangan dan hambatan kehidupan”. Anda kiranya dapat membayang berapa waktu lamanya menggosok besi batangan sehingga menjadi sebatang jarum yang tajam, tentu membutuhkan waktu dan tenaga luar biasa, waktu panjang dan kerja keras terus menerus. Dengan kata lain melalui proses panjang yang harus diikuti dengan tekun, cermat dan tepat. 

Terlibat atau berpartisipasi dalam suatu proses kehidupan memang butuh kesabaran, kerendahan hati serta matiraga. Untuk itu kiranya rekan-rekan ibu yang sedang atau pernah mengandung anaknya dapat mensharingkan pengalaman hidupnya selama mengandung. Bukankah selama mengandung seorang perempuan tak mungkin hidup seenaknya atau mengikuti selera pribadi dengan harapan atau dambaan agar anak yang sedang dikandungnya pada suatu saat lahir dengan selamat serta sehat?  Marilah kita hayati panggilan dan tugas pekerjaan kita masing-masing bagaikan seorang ibu yang sedang mengandung anaknya, sehingga kita menghasilkan buah panggilan yang baik atau hasil kerja yang membahagiakan dan menyelamatkan, tentu saja terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia.

Kepada para penjahat, yang kiranya senantiasa  berada di dalam penderitaan, kami ajak untuk bertobat atau memperbaharui diri. Marilah kita hayati bahwa kita juga sering berbuat jahat. Tanda penderitaan sebagai buah kejahatan adalah kita semakin menderita, stress dan terancam terus menerus, sedangkan penderitaan yang lahir karena berbuat baik membuat kita semakin bergembira dan bergairah, semakin damai, tenteram dan sejahtera lahir dan batin, jasmani maupun rohani.

“Bernyanyilah bagi Allah, masmurkanlah NamaNya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan. NamaNya ialah Tuhan, beria-rialah dihadapanNya! Bapa bagi para piatu dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah kediamanNya yang kudus” (Mzm 68:4-5)

Ign 29 Mei 2011

 

 

 

28 Mei – Kis 16:1-10; Yoh 15:18-21

"Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya."
(Kis 16:1-10; Yoh 15:18-21)

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu.Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku" (Yoh  15:18-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Setia sebagai orang beriman khususnya beriman kepada Yesus Kristus pasti tak akan terlepas dari aneka macam tantangan, hambatan serta masalah, mengingat dan memperhatikan masih maraknya kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan bersama pada masa kini. Maka benarlah sabda Yesus "Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu". Hendaknya ketika menghadapi tantangan, hambatan atau masalah tidak takut dan tidak gentar serta kemudian mundur atau menyingkir, melaikan hadapi dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan, karena tantangan, hambatan atau masalah tersebut merupakan jalan bagi kita untuk mendewasakan iman dan kepribadian kita. Orang-orang yang bersikap mental materialistis atau duniawi pada umumnya pasti akan membenci orang beriman, orang baik dan berbudi pekerti luhur. Sebagai orang Kristen atau Katolik, murid-murid Yesus Kristus, di Indonesia ini kita sering menghadapi kesulitan dan tantangan untuk mendirikan rumah ibadat maupun beribadat, entah karena alasan apa mereka melarang atau mempersulit pendirian rumah ibadat maupun beribadat. Sementara itu mendirikan ruko atau losmen/hotel begitu mudah alias tak ada yang mempersulit atau menghambat, padahal jika diperhatikan cukup banyak ruko atau tempat penginapan seperti losmen dan hotel akhirnya menjadi tempat pelacuran atau maksiat yang berkedok dengan nama panti pijat atau pijat kebugaran, dst.. Memang menjadi murid atau pengikut Yesus Kristus harus siap sedia untuk menderita secara phisik dan social. Baiklah ketika kita sulit atau dilarang untuk mendirikan rumah ibadat maupun beribadat, kita jadikan kesempatan tersebut untuk berdoa secara pribadi di rumah kita masing-masing. Tidak ada batasan atau ketentuan khusus perihal tempat dan waktu bagi kita untuk beribadat, kapanpun dan dimanapun kita dapat dan boleh beribadat.

•    "Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana." (Kis 16:10). Dalam peta dapat dilihat bahwa Makedonia berada di benua Eropa, sedangkan Troas berada di benua Asia, dengan kata lain ke Makedonia berarti harus menyeberang laut dan memasuki benua baru alias menjalankan tugas pioneer sebagai rasul atau yang diutus. Kami berharap kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk membuka mata dan telinga hati guna melihat dan mendengarkan `penglihatan Allah' yang memanggil kita untuk melakukan pembaharuan atau melaksanakan tugas missioner. Dengan kata lain marilah keluar dari diri sendiri untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan penyelamatan jiwa mereka; marilah kita wartakan kabar baik atau karya penyelamatan kepada mereka yang belum mengenalnya. Marilah kita belajar pada dan meneladan para misionaris yang dengan jiwa besar dan hati rela berkorban meninggal tanah kelahirannya untuk mewartakan kabar baik. Marilah kita perdalam dan kembangkan sikap social atau kepedulian kita kepada orang lain, terutama kepada mereka yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal kebutuhan hidup layak sebagai ciptaan Allah. Kita kembangkan dan perdalam sikap berkorban bagi orang lain tanpa pandang bulu/SARA. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya saat ini karena uluran kemurahan dan kasih Allah melalui sekian banyak orang yang telah mengasihi dan memperhatikan kita, dan kemudian kita wujudkan syukur dan terima kasih kita dengan berkorban bagi orang lain atau saudara-saudari kita. Marilah dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita siap sedia untuk `disalibkan' demi keselamatan dan kebahagian seluruh umat manusia.

"Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.  Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun."
(Mzm 100:1-2.3.5)


Ign 28 Mei 2011

Incoming search terms:

27 Mei – Kis 15:22-31; Yoh 15:12-17

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

(Kis 15:22-31; Yoh 15:12-17)

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yoh 15:12-17), demikianpan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Allah telah mengasihi kita luar biasa, yaitu menganugerahkan Yesus Kristus kepada kita demi keselamatan atau kebahagiaan kita semua umat manusia. Dia sendiri juga mengasihi kita dengan mempersembahkan diri secara total dengan wafat di kayu salib. Kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk hidup saling mengasihi dengan meneladan kasihNya dengan ‘memberikan nyawa untuk sahabat-sahabat atau saudara-saudari kita’. Nyawa adalah semangat, cita-cita, harapan, dambaan, gairah hidup kita dst.., maka memberikan nyawa berarti mempersembahkan semuanya itu kepada saudara-saudari kita. Berbicara perihal kasih secara total kiranya juga tak dapat dilupakan kasih antar suami-isteri yang telah saling mengasihi secara total dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual yang membuahkan kehidupan baru, seorang anak manusia yang membahagiakan. Maka kami berharap sekali lagi kepada para suami-isteri atau bapak-ibu/orangtua untuk dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menghayati sabda Yesus agar kita saling mengasihi. Kami percaya ketika anak-anak di dalam keluarga menikmati kasih yang besar dari orangtua maka ketika mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa mereka akan hidup saling mengasihi dimanapun dan kapanpun, Untuk itu kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu tidak mensia-siakan masa balita anak-anak untuk menikmati kasih dari bapak-ibunya. Hendaknya orangtua sungguh boros waktu dan tenaga bagi anak-anak pada usia balita. Kita semua dipanggil kemanapun pergi dan dimanapun berada untuk senantiasa hidup saling mengasihi sehingga kebersamaan hidup kita menghasilkan buah-buah kasih yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa.

·   ” Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik“(Kis 15:28-29), demikian kutipan hasil sidang para penatua atau pemuka Umat Allah. Kutipan di atas ini kiranya baik untuk jadi bahan permenungan atau refleksi bagi para pemimpin jemaat pada masa kini, misalnya para pastor paroki beserta para pembantuanya seperti anggota dewan paroki, ketua wilayah/lingkungan dst.. Kami berharap kepada segenap pemuka Umat Allah yang berpengaruh dalam kehidupan bersama untuk tidak menanggungkan beban yang tidak perlu kepada segenap Umat Allah. Dengan kata lain para pemuka Umat Allah hendaknya sungguh dapat menjadi fasilitator dalam kehidupan bersama Umat Allah, tidak menjadi batu sandungan dalam penghayatan hidup beriman. Ada bentuk konkret yang hendaknya dihayati dalam hal makanan dan minuman, yaitu tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat merusakkan tubuh, yang pada giliran berikutnya juga merusak jiwa dan akal budi serta hati, misalnya minuman keras, narkoba, dst.. Memang pada masa kini ada bentuk berhala baru berupa makanan dan minuman, dimana orang merasa tak dapat hidup tanpa makanan atau minuman kesukaannya yang menghancurkan tubuh seperti minuman keras dan narkoba. Komsumsilah makanan dan minuman yang menyehatkan dan menyegarkan tubuh, yang pada gilirannya juga menyehatkan dan menyegarkan hati, jiwa dan akal budi. Secara khusus kami berharap kepada para ibu dan rekan-rekan perempuan, yang pada suatu saat harus mengandung anaknya, hendaknya menjauhkan aneka makanan dan minuman yang tidak sehat tersebut.

“Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi” (Mzm 57:8-12)

Ign 27 Mei 2011

Incoming search terms:

Universe of Humanity

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
“Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.”

perbedaanPola, gaya dan tingkah manusia begitu banyak ragamnya. Ada yang langsung “nyetel” dengan kita, yang “chemistry” nya pas, ada pula yang sulit untuk dekat dengan kita karena berbagai hal. Bisa jadi sifatnya berbeda, atau hobinya, kebiasaan, cara bicara, dan sebagainya. Kita pun bersinggungan dengan begitu banyak orang yang berbeda-beda ini setiap hari. Ada yang kita suka, ada yang kurang cocok, ada pula yang sebisa mungkin dihindari. Seorang Pendeta pernah berkata “tidak ada orang yang sulit. Semua itu tergantung kemampuan dan kerelaan kita untuk mengenal atau mengerti mereka lebih jauh.” katanya. Ia mengatakan itu bukan hanya sebatas omongan saja, melainkan berdasarkan pengalamannya melayani selama puluhan tahun sejak masa mudanya. Apa yang ia katakan mungkin benar, apalagi itu memang menjadi kesimpulan dari pengalaman hidupnya sendiri. Tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa untuk bisa berpikir atau bertindak seperti Bapak Pendeta itu bukan main sulitnya. Hati hamba, katanya, itulah yang harus kita miliki. Sebuah hati yang tidak mementingkan diri sendiri, berorientasi untuk melayani dan melakukannya atas dasar kasih.

Ada sebuah kata yang saya ingat hari ini, sebuah kata yang menyinggung keragaman dari kemanusiaan yang disebut dengan A Universe of Humanity. Kata ini mengacu kepada pandangan secara luas terhadap keragaman sikap, tingkah, pola dan gaya manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan penuh keragaman. Tidak ada satupun yang persis sama, semua punya sesuatu yang unik dan berbeda, dan hal itu bisa kita sikapi dengan pandangan yang bermacam-macam pula. Ada yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauh, atau bahkan menghujat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya sebagai pembatas. Mereka ini akan terus memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Berbeda denominasi bisa membuat orang saling memandang sinis satu sama lain. Padahal seharusnya kita tidak boleh berlaku demikian. Semua anak-anak Tuhan punya tugas dan kapasitasnya masing-masing, terlepas dari perbedaan tata cara peribadatan masing-masing. Dan kita pun memiliki tugasnya sendiri-sendiri juga. Paulus mengatakannya seperti ini: “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

Selama bertahun-tahun setelah pertobatannya Paulus terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan kabar keselamatan. Perjalanan yang ia tempuh tidaklah pendek. Ia terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan hingga menyentuh Asia Kecil sebelum akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan di Roma. Meski ia banyak mendapat hambatan dalam pelayanannya, Paulus kita kenal sebagai seorang yang teguh dan taat dalam menjalankan tugasnya. Ia sepenuhnya mengabdikan sisa hidupnya untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Paulus terus berusaha menyentuh orang dengan pemberitaan Injil, karena ia peduli terhadap keselamatan orang lain dan rindu agar semakin banyak orang yang mengenal Yesus. Bagi sebagian besar orang apa yang dialami Paulus mungkin akan dianggap sebagai akhir dari pelayanan. Kesulitan akan membuat kita patah semangat dan menyerah. Tapi tidak bagi Paulus. Dia tidak memandang halangan sebagai akhir dari segalanya. Justru Paulus memandang keterbatasan-keterbatasannya bergerak sebagai sebuah kesempatan. Kemanapun ia pergi, apapun resiko yang ia hadapi, ia terus maju menjangkau banyak jiwa, meski jiwanya sendiri harus menjadi taruhannya.

Kita bisa melihat ketika Paulus berada di Roma, ia dikawal dan diawasi oleh seorang prajurit. Tetapi untunglah ia masih diijinkan untuk menyewa sebuah rumah sendiri meski harus tetap hidup dalam pengawasan. “Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya.” (Kisah Para Rasul 28:16). Keterbatasan gerak sebagai tahanan rumah yang dialami Paulus ternyata tidak menghentikannya. Dalam beberapa ayat berikutnya kita bisa melihat ia tetap beraktivitas seperti sebelumnya. “Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. (ay 30-31). Paulus tidak menutup diri dan tidak berhenti melayani. Ia membuka rumahnya seluas-luasnya bagi semua orang tanpa terkecuali dan terus dengan terus terang memberitakan tentang Kerajaan Allah dan Yesus Kristus agar mereka yang datang ke rumahnya turut mendapat anugerah keselamatan.

A universe of humanity ada di sekitar kita, dan menunggu untuk dijangkau. Yesus sudah memanggil kita untuk menjadi saksiNya dan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk turun atas kita demi panggilan tersebut. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Menjadi saksi baik di lingkungan terdekat kita dan terus bertumbuh hingga kita bisa menjadi saksi Kristus dalam sebuah lingkungan yang lebih besar, bahkan sampai ke ujung bumi tidaklah bisa kita lakukan jika kita terus memandang perbedaan sebagai alasan untuk menutup diri dari sebagian orang yang kita anggap berbeda atau berseberangan dengan kita. Kita semua memiliki tugas untuk membawa banyak orang memperoleh keselamatan, dan itu adalah tugas yang harus kita jalankan. Jangan menutup diri terlalu kaku, jangan terlalu cepat menghakimi, jangkaulah orang lain sebanyak-banyaknya, dan itu bukan harus selalu dengan berkotbah. Memberi pertolongan, menunjukkan kepedulian, atau bahkan memberi sedikit waktu saja bagi mereka untuk mendengarkan bisa menjadi sesuatu yang indah untuk mengenalkan bagaimana kasih Kristus mengalir melalui diri kita. A universe of humanity is within our reach today.

Nyatakan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho