Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Hidup oleh Iman

Ayat bacaan: Roma 1:17
===============
“Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

hidup oleh imanApa yang kita butuhkan untuk bisa bertahan hidup? Kebutuhan primer yaitu sandang, pangan dan papan (tempat tinggal) mungkin akan menjadi jawaban kita. Itu memang kebutuhan yang paling mendasar yang akan menjadi ukuran apakah kita sudah hidup dengan layak atau tidak. Karena itulah maka ketiganya disebut sebagai kebutuhan yang primer, yang utama. Bisakah anda membayangkan hidup tanpa makan? Atau tidak punya baju, lalu tidak punya tempat tinggal? Meski mungkin kita bisa bertahan hidup dengan menumpang, tetapi kita tidak bisa selamanya menumpang di rumah orang lain. Tetapi selain ketiga hal ini, Alkitab menyebutkan satu hal lain yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan menjadi ukuran dari kehidupan seperti apa yang kita jalani dalam status kita sebagai orang percaya. Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa ternyata kebutuhan primer saja tidaklah cukup untuk hidup sebagai orang benar. Untuk sekedar hidup di dunia mungkin ya, tetapi untuk dapat hidup sebagai orang benar, nanti dulu. Alkitab mengatakan ada satu hal lagi yang dibutuhkan untuk hidup sebagai orang benar. Dan itu adalah iman.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma nengatakan: “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17). Ia menyampaikan sebuah pesan penting agar mereka, dan juga kita hidup oleh iman. Apa artinya hidup oleh iman ini? Tanpa iman, maka saya tidak akan hidup. Itu jelas. Tetapi apa yang digambarkan sebagai iman bukanlah berbicara hanya sekedar selamat dari lubang jarum saja. Benar, kita selamat oleh kasih karunia Allah, tapi lihatlah bahwa iman sangatlah berperan di dalamnya. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” (Efesus 2:8). Tuhan memberi kasih karuniaNya untuk menyelamatkan kita, tetapi semua akan sangat tergantung dengan iman yang ada pada kita. Iman akan sangat menentukan bagi keselamatan kita kelak, tetapi untuk di dunia pun iman akan sangat menentukan seperti apa hidup yang kita jalani. Orang benar, itu hidup oleh iman. Artinya iman sangat menentukan langkah orang untuk menjadi orang benar.

Iman bukan hanya berarti sekedar menerima Yesus, and that’s it. Titik.  kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Yang penting saya menerima Yesus, bagaimana saya hidup itu lain soal. Hidup boleh seenaknya, tidak perlu memperhatikan atau mengasihi orang lain, terus diombang-ambingkan rasa takut atau kuatir. Bukan seperti itu. Lewat Paulus kita bisa mendapatkan bambaran yang jelas bahwa iman akan sangat berperan dan harus ada dalam setiap sisi kehidupan kita sehari-hari. Kata “hidup” dalam Roma 1:17 di atas mengacu kepada sebuah proses, daya, atau kekuatan yang berkelanjutan yang harus ada untuk menopang hidup kita. Dengan demikian, kapan, bagaimana dan dimanapun kita harus hidup oleh iman. Ketika bekerja, belajar, berbelanja, bertetangga, berteman, saat kita mengambil keputusan, hingga disaat-saat kesabaran kita diuji, mendapat perlakuan tidak adil atau ketika kita mulai kehilangan kesabaran, iman akan menentukan bagi kita. Iman memberi hidup bagi kita, iman akan sangat penting apakah kita hidup sebagai orang benar atau tidak.

Ambil satu contoh yang sederhana saja. Apakah kita bisa tidur dengan nyenyak dengan rasa damai di malam hari atau kita kerap gelisah, tidak bisa tidur karena takut dalam menghadapi sesuatu? Apakah rasa damai sukacita ada dalam diri kita ketika kita berhadapan dengan orang lain, termasuk orang-orang yang sangat sulit dan selalu memancing emosi sekalipun, atau kita terus membiarkan diri kita dikuasai emosi? Dalam contoh tidur itu, kita bisa melihat bagaimana hasil iman yang bekerja dalam diri orang benar lewat kata-kata Daud berikut: “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!” (Mazmur 3:6). Seperti itulah iman bekerja dalam kehidupan sehari-hari kita. Artinya, iman bukan hanya sekedar berbicara mengenai sekedar lolos dari neraka dan masuk surga saja. Tidak. Kualitas hidup akan sangat tergantung dari seberapa jauh iman bekerja dalam diri kita. Bacalah ilustrasi tentang para saksi iman dalam Ibrani 11:1-40 dan kita bisa mendapat gambaran yang lebih jelas. Ada banyak tokoh-tokoh yang bisa menjadi teladan tentang bagaimana kita hidup. Penulis Ibrani sudah menuliskan begitu banyak contoh orang-orang yang hidup lewat iman lalu berhasil mencapai hidup yang berkemenangan dengan iman mereka. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1), begitulah Penulis Ibrani memulai uraiannya tentang para saksi iman ini. Sebuah defenisi iman yang seharusnya mampu mengubah setiap sendi kehidupan kita, termasuk didalamnya bagaimana cara kita memandang hidup dan masa depan kita.

Iman seharusnya berada dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam setiap hal yang kita lakukan, putuskan atau jalani. Sebuah kualitas hidup orang benar sesungguhnya sangatlah ditentukan oleh seberapa besar iman mengisi hidup mereka. Apakah kehidupan yang penuh ketakutan, kebimbangan atau hidup yang dipenuhi damai sukacita tanpa tergantung situasi yang tengah dihadapi, apakah hidup dengan sikap positif atau mudah berburuk sangka, apakah hidup dengan ketulusan dalam mengasihi atau pamrih, semua akan bermula dari iman seperti apa yang ada dalam diri kita. Kebutuhan primer bisa menjamin hidup setiap orang, tetapi jika ingin hidup berkualitas sebagai orang benar, maka tidak bisa tidak, itu haruslah bersumber kepada iman. Orang benar, kata Firman Tuhan, itu hidup oleh iman. Sebaliknya orang yang tidak mengindahkan itu akan menjadi orang-orang yang tidak disenangi Tuhan. “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38). Jika ada yang bertanya dari mana iman itu bisa timbul, maka Paulus mengatakan pada ayat sebelum ayat bacaan kita hari ini: “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” (Roma 1:16), atau ingat pula bahwa “..iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (10:17). Dimana letak kita hari ini? Seperti apa iman yang ada di dalam hidup kita? Mari pastikan bahwa iman tengah memimpin kita dalam setiap sisi kehidupan, karena orang benar itu hidup oleh iman.

Iman timbul dari pendengaran firman Kristus, dan orang benar akan hidup oleh iman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Di Puncak Gunung

Ayat bacaan: Habakuk 3:19
=================
“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

di puncak gunungSeorang teman yang hobi mendaki gunung bercerita tentang pengalaman-pengelamannya dalam mendaki bersama klub pecinta alamnya. Ia berverita bahwa proses mendaki itu begitu melelahkan dan berat. Oksigen bisa tipis sekali di ketinggian sehingga bernafas bisa menjadi sangat sulit. Jalan yang dituju mendaki, berbatu-batu dan terkadang sangat terjal, belum lagi terkadang harus memanjat dan harus siap menghadapi banyak resiko binatang buas dalam perjalanan. Sama sekali tidak mudah untuk bisa mencapai puncak gunung katanya. Bagi orang yang memiliki masalah dengan pernafasan seperti asma atau rasa takut akan ketinggian, mendaki gunung sedikit saja sekalipun bisa jadi hal yang tersulit untuk dilakukan. Tetapi ia kemudian berkata, begitu sampai ke puncak gunung, pemandangan yang luar biasa indah membuat semua kesulitan itu tidak lagi berasa apa-apa. “Begitu menakjubkan..pesonanya luar biasa, dan itu tidak dilihat oleh semua orang. Hanya yang mau bersusah payah mendakilah yang bisa menikmatinya.” katanya bangga. Di puncak gunung ia lupa akan kesusahan mendaki dan segala sakit yang ia rasakan. Di puncak gunung ia melihat sebuah keindahan yang tidak dilihat oleh semua orang. Di puncak gunung, ia bisa merasakan kemuliaan Tuhan, bahkan mungkin memandang dari sebuah jarak pandang atas seperti apa yang dilihat Tuhan ketika Dia memandang ciptaan-ciptaanNya di dunia ini.

Sebuah pelajaran saya dapatkan dari ceritanya, yaitu jika kita tidak mendaki gunung, maka kita tidak akan bisa merasakan pengalaman yang luar biasa, tidak akan bisa menikmati sebuah pemandangan yang sangat langka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Apa maksudnya? Saya berpikir bahwa dalam perjalanan hidup kita, ada kalanya kita akan berhadapan dengan bukit-bukit terjal, jalan berbatu-batu yang akan sangat sakit untuk kita jalani. Kita bisa memilih apakah tetap ditempat tanpa mau berjalan melewatinya, atau kita mencoba sedikit lalu mundur, atau malah mengelak. Tetapi seperti apa yang dialami oleh teman saya, hanya yang mampu bertahan dan dengan semangat pantang mundurlah yang akan mampu berdiri tegak di atas bukit merasakan kemuliaan Tuhan. Kabar baiknya, Tuhan siap membantu kita untuk itu. Yang diperlukan hanyalah kemauan dan kesediaan kita, serta sejauh mana kita bisa percaya kepada Tuhan bahwa Dia akan menuntun kita melewati jalan-jalan yang sulit itu untuk akhirnya kelak sampai di atas bukit.

Lihatlah Firman Tuhan dalam Habakuk. “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” (Habakuk 3:19) Sebuah ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapatkan dalam Mazmur. “Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit.” (Mazmur 18:34). Mengandalkan kemampuan kita yang terbatas, cepat atau lambat kita akan menyerah dalam berjuang melewati jalan terjal dan berbatu-batu. Tapi lihatlah bahwa Tuhan selalu siap menyediakan pertolongan. Tuhan mampu membuat kaki-kaki kita menjadi lincah seperti rusa yang mampu melewati atau melompati jalan-jalan berbatu dan terjal untuk sampai ke puncak gunung. Tuhan mau kita naik lebih tinggi mengatasi masalah dan keluar menjadi pemenang, merasakan keindahan, kemurahan dan kemuliaanNya yang semua telah tersedia di atas sana.

Dalam Yesaya dikatakan di tempat tinggi itulah rumah Tuhan akan berdiri tegak, bukan terhuyung-huyung dan mudah jatuh ketika diterpa badai. “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.” (Yesaya 2:2-3).Lihatlah bahwa berada di tempat tinggi di atas bukit menjanjikan sebuah tempat dimana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita. Rumah Tuhan atau Bait Allah berbicara mengenai diri kita sendiri, seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 3:16. Disana kita bisa melihat bahwa Tuhan menyediakan pertolongan untuk memampukan kaki kita menjadi lincah, melompat melewati berbagai masalah dan berdiri tegak di atas gunung menikmati segala kemuliaanNya.

Firman Tuhan mengajarkan kita bahwa ujian-ujian yang berat jika kita sikapi dengan benar akan mampu membuat iman kita bertumbuh dan naik lebih tinggi lagi. Paulus mengatakan: “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5). Firman Tuhan mengingatkan kita agar jangan menjadi lemah ketika mengalami kesengsaraan, ketika berjalan di jalan berbatu tajam dan terjal. Kita diingatkan agar tidak putus asa, dan terus bertekun, karena jika kita ingin memenangkan ujian, kita harus bisa melepaskan segala yang merintangi kita dan dosa-dosa yang menjerat kita. Penulis Ibrani berkata: “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1). Lalu serahkan semuanya kepada Tuhan. Dia siap membuat kaki-kaki kita menjadi lincah agar sanggup melompati bebatuan hingga sampai ke puncak gunung. Disana kita bisa tetap tegar meski digoyang masalah seberat apapun. Masalah mungkin akan tetap ada, tetapi di puncak itu kita akan berada lebih tinggi dari masalah. Segala sakit dan beban selama perjalanan yang ditempuh akan sirna begitu kita menyaksikan keindahan kemuliaan Tuhan. Tuhan siap menolong kita untuk itu, sudahkah kita mempercayakan langkah kita kepadaNya? Sudahkah kita memiliki niat yang teguh untuk naik lebih tinggi lagi? Sekarang saatnya bagi kita untuk mendaki dengan bantuan Tuhan. Kelak ketika kita berada lebih tinggi dari kesengsaraan, kita tidak akan gampang lagi digoyang oleh masalah apapun. Disanalah kita bisa berkata: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18)

Tuhan siap membantu kita menjadi lincah hingga mampu berdiri tegak di atas bukit

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

30 April – Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15

"Pergilah ke seluruh dunia beritakanlah Injil kepada segala makhluk”

(Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15)

 

“Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”, demikian sabda Yesus yang bangkit kepada para murid, kepada kita semua yang beriman kepadaNya. Injil adalah kabar baik, maka memberikan Injil berarti memberitakan atau menyebarluaskan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan diri kita sendiri maupun orang lain. Kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada hendaknya kita sendiri senantiasa dalam keadaan baik, dan dengan demikian kita dapat memberitakan apa yang baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, maka perilaku yang baik berarti mengasihi dengan sasaran keselamatan jiwa manusia. Saling mengasihi hemat saya merupakan ajaran semua utusan Allah atau para nabi dan diteruskan oleh para pemimpin agama di seluruh dunia. Saya percaya bahwa kita semua senantiasa mendambakan apa yang baik serta berkehendak untuk mengasihi orang lain, namun karena keterbatasan dan kelemahan kita sering terjadi kesalah-fahaman, maka baiklah kita senantiasa menyikapi segala sentuhan, sapaan, perlakuan orang lain terhadap diri kita sebagai perwujudan kasih dan kemudian kita tanggapi dengan ‘terima kasih’. Ingatlah dan hayati bahwa orang tidak akan mengritik atau mengejek kita jika mereka tidak mengasihi kita, maka mereka mengritik atau mengejek kita karena mereka mengasihi kita. Di atas kami katakana bahwa sasaran perbuatan baik adalah keselamatan jiwa, maka hendaknya keselamatan jiwa sungguh menjadi acuan atau pedoman hidup kita. Ada kemungkinan demi keselamatan jiwa kita harus menderita sakit tubuh atau sakit hati, karena anggota tubuh atau isi hati kita tidak baik.

·   "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." (Kis 4:19-20), demikian tanggapan Petrus dan Yohanes menjawab pertanyaan para tokoh Yahudi, yang merasa terganggu oleh pewartaan Kabar Baik, yang disampaikan oleh para rasul. “Taat kepada manusia atau taat kepada Allah’, itulah pilihan yang harus diambil oleh para tokoh Yahudi, dan hemat saya juga menjadi tantangan yang harus kita pilih. Sebagai orang beriman kiranya kita harus taat kepada Allah, yang telah menciptakan dan mengasihi kita tanpa syarat. Dalam dan bersama dengan Allah hendaknya kita tidak takut dan tidak gentar untuk menjadi pewarta kabar baik, berkata-kata perihal apa yang baik dan benar yang kita lihat dalam lingkungan hidup kita. Memang di sana-sini saat ini masih marak aneka kebohongan, maka selayaknya menjadi pewarta apa yang baik dan benar akan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Dengan ini kami berseru dan berharap kepada para pejuang kebenaran untuk terus berjuang meskipun harus menghadapi aneka ancaman. Kami berharap juga bahwa perihal apa yang baik dan benar ini sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan sekolah, sekali lagi tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua maupun guru. Jika anak-anak memiliki kebiasaan berbuat baik sedini mungkin, maka kami percaya mereka akan tumbuh berkembang menjadi saksi dan pejuang apa yang baik dan benar di masa depan. Taat kepada Allah juga berarti taat kepada kehendak Allah, yang antara  lain diterjemahkan ke dalam aneka tata tertib, maka marilah kita taati dan hayati aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan  tugas pengutusan kita masing-masing.

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.  TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!”

(Mzm 118:1.14-16)

Jakarta, 30 April 2011   

29 April – Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu maka akan kamu peroleh."

(Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14)

 

“Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.”(Yoh 21:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Cukup banyak orang hidup dan bekerja hanya mengikuti kemauan pribadi atau selera pribadi dan tidak sesuai dengan tugas pokok atau utama atau sesuai dengan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Hal ini antara lain juga nampak di jalanan dimana para pengendara atau pejalan kaki tidak mengikuti aturan lalu lintas serta rambu-rambu yang terpampang dengan jelas. Begitulah juga yang terjadi di antara para rasul yang sedang frustrasi karena kematian Yesus alias ditinggalkan Yesus: sebelum mengkuti Yesus kesibukan atau pekerjaan mereka adalah nelayan, maka ketika ditinggalkan Yesus mereka kembali menjadi nelayan. Cukup menarik dan mengesan bahwa sebagai nelayan yang berpengalaman mereka semalaman tidak seekor pun ikan dapat diperoleh. Namun ketika mereka menebarkan jala atas perintah Yesus yang telah bangkit, akhirnya mereka memperoleh ikan banyak sekali, bahkan jala mereka hampir sobek. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian: marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing serta aneka tata tertib yang terkait dengannya, jika mendambakan kesuksesan dalam hidup dan panggilan. Kami berharap kepada mereka yang hidup dan bekerja hanya mengikuti selera pribadi untuk segera bertobat dan memperbaharui diri. Marilah kita hidup dan bekerja secara tertib, teratur dan disiplin sesuai dengan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

·   Bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati — bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu” (Kis 4:10), demikian kutipan jawaban Petrus atas pertanyaan dari tokoh-tokoh Yahudi perihal dari kuasa mana ia telah menyembuhkan orang lumpuh sehingga  dapat berjalan. “In nomine Ieu” (=Dalam nama Yesus), itulah yang menjadi motto gembala atau uskup kita Mgr.A.Djajaseputra SJ (alm) dan Bapak Julius Kardinal Darmaatmaja SJ dalam menggembalakan umat Allah yang dipercayakan kepada Yang Mulia. Maka marilah kita meneladan Petrus maupun para gembala kita tersebut. “Dalam terang iman kristiani berasaskan Pancasila dan UUD 45  kami hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, itulah isi asas aneka yayasan atau LSM Kristen atau Katolik. Dengan dan dalam asas tersebut diharapkan segenap pengurus, pengelola maupun pelaksana pelayanan yayasan atau LSM menjiwai derap langkah pelayanannya dalam iman Kristiani. Mungkin baik kalau hal ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga serta kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah dengan teladan dari para orangtua dan para guru. Keteladanan orangtua dan para guru dalam hidup tertib, teratur dan disiplin sesuai dengan tata tertib atau janji yang pernah diikrarkan sangat penting, dan merupakan cara utama dan pertama dalam pendampingan atau pembinaan anak-anak. “Dalam Nama Yesus” berarti hidup dan bertindak dengan meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus maupun melaksanakan sabda-sabdaNya sebagaimana diwartakan melalui Kitab Suci. Maka baiklah untuk semakin mengenal dan dekat dengan Yesus kami harapkan kita semua dengan rajin setiap hari merenungkan dan meresapkan sabda-sabdaNya, atau silahkan merenungkan dan meresapkan kutiipan dari Kitab Suci yang setiap hari kami sampaikan dalam refleksi sederhana ini.

 

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN. TUHANlah Allah, Dia menerangi kita

 (Mzm 118:24-27a)

 

Jakarta, 29 April 2011

28 April – Kis 3:11-26; Luk 24:35-48

“Dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem”

(Kis 3:11-26; Luk 24:35-48)

 

“Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” (Luk 24:35-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang yang beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati kita dipanggil untuk menjadi ‘saksi pertobatan dan pengampunan dosa’ di tempat hidup dan bekerja kita masing-masing setiap hari, dimana kita memboroskan waktu dan tenaga kita. Maka pertama-tama marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita telah menerima rahmat pertobatan dan kasih pengampunan dari Allah secara  melimpah melalui saudara-saudari kita; jika kita dapat menghayati hal ini maka panggilan untuk menjadi saksi pertobatan dan kasih pengampunan dengan mudah dapat kita lakukan, tentu saja asal kita tidak pelit tetapi murah hati. Marilah dengan murah hati menyalurkan kasih pengampunan, yang telah kita terima secara melimpah ruah, kepada saudara-saudari kita kapanpun dan dimanapun tanpa pandang bulu. Jauhkan dan berantas aneka bentuk kebencian dan balas dendam. Kita tidak perlu takut menyalurkan kasih pengampunan, karena kasih pengampunan akan mengalahkan atau mengatasi kebencian dan balas dendam. Kami berharap saling mengasihi dan mengampuni sungguh terjadi dalam hidup keluarga atau komunitas masing-masing, sehingga dari keluarga dan komunitas kita masing-masing senantiasa terberitakan pertobatan dan kasih pengampunan.

·   Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:26), demikian kesaksian iman Petrus. Kita semua diingatkan untuk ‘kembali dari segala kejahatan’  alias bertobat terus menerus.  Bertobat berarti berubah, tentu saja berubah menjadi lebih baik, suci, dan berbudi pekerti luhur alias semakin hidup dekat dan bersama dengan Tuhan dimanapun dan kapanpun. Anggota-anggota tubuh kita terus-menerus berubah, maka karena pribadi kita tidak hanya terdiri dari anggota tubuh jasmani saja, tetapi juga spiritual atau inteleketual, yaitu hati, jiwa dan akal budi, maka diharapkan tidak hanya tubuh yang phisik saja yang berubah tetapi juga hati, jiwa dan akal budi. Ingatlah dan hayati bahwa dengan beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati berarti Roh Kudus hidup dan berkuasa dalam hati dan jiwa kita masing-masing, sehingga hati dan jiwa kita semakin sesuai dengan Hati dan Jiwa Yesus Kristus, yang datang untuk menebus dosa-dosa manusia, membebaskan semua manusia dari aneka kejahatan. Marilah kita ‘kembali dari kejahatan’ seperti “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21)  Semoga kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun senantiasa menjadi penyalur berkat dan rahmat Allah bagi saudara-saudari kita, sehingga siapapun yang hidup dan bekerja bersama dengan kita senantiasa merasa terberkati atau terahmati.

 

“Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan” (Mzm 8:3-4.6-9)

 

Jakarta, 28 April 2011

Incoming search terms:

Mempertahankan Kejujuran

Ayat bacaan: Mazmur 64:11
==================
“Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.”

kejujuranSecara teori semua orang mengajarkan untuk hidup jujur, tetapi lucunya dalam banyak keadaan dunia justru cenderung menolak kejujuran. Ada seorang teman yang justru tersingkir dari jabatannya justru karena ia memilih untuk tetap jujur. Ia tidak mau ikut-ikutan melakukan penggelembungan dana bersama pimpinan dan rekan-rekannya, dan akibatnya ia pun disingkirkan. Betapa mahalnya harga kejujuran, begitu katanya, dan ia pun sempat mempertanyakan apakah kejujuran sudah merupakan sebuah nilai yang tidak bermakna apa-apa lagi, yang malah bisa merugikan ketika dilakukan. “Masih adakah orang yang menghargai kejujuran?” katanya. Demikianlah potret yang kini semakin sering kita saksikan. Kita harus pintar mengikuti arus agar bisa bertahan pada posisi dalam karir, berbohong, menutupi kebenaran atau ikut melakukan penyelewengan. Semakin lama kejujuran semakin menjadi barang langka yang meski selalu diajarkan dimana-mana tetapi pada kenyataannya semakin dipinggirkan. Di mata dunia mungkin seperti itu, tetapi ingatlah bahwa kejujuran yang sekecil apapun memiliki nilai yang sangat tinggi di mata Tuhan.

Alkitab mengajarkan pentingnya hidup dengan berlaku jujur dalam begitu banyak kesempatan. Imbalan yang disediakan Tuhan bagi orang jujur pun bukan main besarnya. Lihatlah ayat berikut ini: “Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16). Betapa besar nilai kejujuran di mata Tuhan. Mungkin di dunia ini kita bisa mengalami kerugian atau bahkan malah mendapat masalah karena memutuskan untuk berlaku jujur, seringkali dunia memang memperlakukan kita dengan tidak adil, tetapi itu bukanlah masalah karena kelak dalam kehidupan selanjutnya yang abadi semua itu akan diperhitungkan sebagai kebenaran yang berkenan di hadapan Allah. Dalam Mazmur dikatakan: “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.” (Mazmur 64:11). Pada saat ini mungkin kita rugi akibat memutuskan untuk jujur, tetapi kelak pada saatnya kita akan bermegah dan bersyukur karena telah mengambil keputusan yang benar.

Anggaplah itu sebuah ujian ketika kita dipinggirkan akibat berlaku jujur dan menolak untuk ikut-ikutan berbuat curang. Seperti layaknya ujian, untuk menghadapinya memang bisa jadi berat. Tetapi lulus tidaknya kita dalam ujian akan sangat tergantung dari keseriusan dan ketekunan kita dalam menghadapinya, dan juga tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Mempertahankan kejujuran dalam hidup pun bisa demikian. Akan ada saat-saat dimana anda merasa diperlakukan tidak adil, sudah jujur malah disalahkan dan dirugikan. Meski berat, terimalah itu sebagai sebuah ujian, dan fokuskan pandangan jauh ke depan, kepada sebuah kehidupan abadi yang akan anda jalani kelak setelah fase di dunia ini selesai. Yakobus pun berkata: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4). Ujian akan menumbuhkan ketekunan, dan dari sana kita bisa menghasilkan buah-buah yang matang. Karakter kita akan disempurnakan lewat ujian-ujian itu. Ujian adalah kesempatan bagi kita untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi, dan karena itu seharusnya kita bisa berbahagia. Buat sesaat kecurangan mungkin bisa memberi banyak keuntungan, tetapi itu semua hanyalah sesaat dan fana. Untuk sebuah hidup yang abadi, kecurangan tidak akan pernah membawa keuntungan malah mendatangkan kerugian. Jangan lupa bahwa Tuhan sudah berkata bahwa Dia tidak akan menutup mata dari apapun yang kita lakukan dalam hidup kita. “Malah Ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya.” (Ayub 34:11). Baik atau tidak akan membawa ganjaran atau konsekuensinya sendiri. Baik atau tidak ganjaran yang kita terima akan tergantung dari bagaimana cara kita hidup.

Meski kita mungkin harus menanggung konsekuensi berat akibat kejujuran kita, bertahanlah. Firman Tuhan berpesan: “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:14). Ini termasuk pula komitmen kita untuk tetap mempertahankan kejujuran dan kesetiaan dengan tidak mengeluh terhadap konsekuensi apapun yang kita alami di dunia ini. Mengapa demikian? Sebab Firman Tuhan kemudian berkata: “supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” (ay 15). Sebagai anak-anak Allah dan bukan anak-anak dunia seharusnya membuat kita tampil beda. Kita tidak boleh ikut-ikutan arus sesat dari angkatan yang bengkok hatinya karena kita menyandang status sebagai anak-anak Tuhan. Dan percayalah bahwa kelak pada saat Kristus datang kembali, kita akan melihat bahwa perjuangan kita terhadap kejujuran tidak akan sia-sia. Muda atau tua, siapapun kita, peganglah prinsip kejujuran setinggi mungkin dan jangan gadaikan itu untuk alasan apapun. Kepada Timotius Paulus berpesan: “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12). Meskipun masih muda kita tetap dituntut untuk bisa menjadi teladan dalam segala hal. Kita hidup di dalam masyarakat yang mau menghalalkan segala cara, yang hidup dengan standar-standar ganda dan yang tidak selalu memberikan penghargaan yang tinggi atas penyampaian kebenaran dan kejujuran. Seperti itulah dunia hari ini, tetapi bertahanlah dan pegang kuat prinsip-prinsip tersebut. Meski dunia berlaku seperti itu, tetapi adalah hal yang tidak bisa ditawar bahwa pengikut Kristus seharusnya memiliki standar kejujuran tinggi yang berbeda dari standar yang ditetapkan dunia. Apapun situasinya, tetaplah pertahankan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran, jangan tukarkan itu dengan apapun, dan lihatlah pada saatnya nanti setiap orang jujur akan bersukacita memetik buahnya.

Meski dunia menolak kejujuran, di mata Tuhan sekecil apapun itu akan sangat berharga

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Berbakti kepada Orang Tua

Ayat bacaan: 1 Timotius 5:3
===================
“Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”

berbaktiSaya selalu merasa kagum melihat beberapa keluarga yang rutin beribadah di gereja saya dengan tekun membawa orang tua mereka yang sudah jompo. Salah satunya baru terkena stroke dan memiliki kesulitan untuk menelan air liurnya. Tetapi ia tetap bersemangat, dan keluarganya dengan telaten menyeka air liurnya yang kerap mengalir keluar. Pemandangan mengharukan ini kerap menjadi perhatian saya, karena ini bukanlah pemandangan yang biasa kita lihat sehari-hari. Semakin lama orang yang peduli terhadap orang tuanya semakin sedikit. Mereka merasa terlalu sibuk untuk merawat orang tuanya, risih membersihkan kotoran-kotoran, merasa malu dilihat orang “menenteng-nenteng” orang tuanya atau alasan-alasan lain. Tidak jarang pula pasangan mereka menentang karena tidak mau direpotkan oleh kehadiran orang tua yang sakit-sakitan di rumahnya. Betapa miris melihat nasib para orang tua yang tidak dikehendaki anaknya lagi. Tidak jarang saya mendengar para orang tua seperti ini berkata lebih ingin mati saja daripada menjadi masalah bagi hidup anak-anaknya, dan merasa kecewa melihat mereka tidak lagi disayangi. Panti jompo pun akhirnya menjadi tempat “terakhir” bagi mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya. Tidak ada lagi anak atau cucu yang menyambangi, tidak ada lagi yang peduli. Jika seorang anak saja sanggup untuk tidak mempedulikan sisa umur orang tuanya sendiri, bagaimana dengan menantu? Tidak jarang ada jurang membentang diantara mertua dan menantu, apalagi di zaman sekarang ketika orang yang berusia lebih muda sudah tidak lagi mementingkan untuk bersikap hormat kepada orang yang lebih tua.Karena itulah melihat keluarga-keluarga yang masih menyayangi orang tuanya yang sudah tinggal sendirian dan mau repot-repot membawa mereka untuk menyembah Tuhan bersama-sama. Tidak saja mengharukan untuk kita lihat, tetapi Tuhan pun sangat menghargai hal ini.

Alkitab mencatat dengan jelas hal tersebut. “Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.” (1 Timotius 5:3). Dengan jelas dikatakan bahwa anak cuculah yang seharusnya menjadi orang pertama yang wajib memperhatikan nasib mereka. Dikatakan belajar berbakti dan belajar membalas budi orang tua dan nenek atau kakek mereka. Disaat orang tua sudah tidak bisa lagi berbuat banyak karena usia mereka yang sudah lanjut, itulah saatnya bagi para anak dan cucu untuk berbakti dan membalas budi mereka yang dahulu mati-matian dalam membesarkan anak-anaknya dengan penuh cucuran keringat dan air mata. Alangkah ironisnya melihat orang-orang yang merasa malu atau risih untuk sekedar bertemu dengan orang tua mereka, apalagi mengurus dan merawatnya. Begitu teganya mereka lupa akan perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan orang tua disaat mereka masih kecil. Disaat dulu tidak bisa apa-apa, orang tua berjuang habis-habisan agar anak-anaknya mendapat yang terbaik, tetapi di saat kini orang tua yang tidak bisa apa-apa lagi, bukannya membalas budi tetapi anak-anak yang tidak berbakti ini justru meninggalkan orang tuanya.

Firman Tuhan dengan tegas berkata bahwa anak dan cucu yang mau berbakti dan ingat untuk membalas budi inilah yang berkenan bagiNya. Tuhan tidak suka orang-orang percaya yang tidak tahu membalas budi, bersikap habis manis sepah dibuang apalagi terhadap orang tua mereka sendiri. Tuhan sangat menganggap penting hal ini. Lihatlah satu dari 10 Perintah Allah yang turun lewat Musa berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Ulangan 5:16). Hormati, itu bukan hanya mengacu pada hubungan disaat keduanya masih segar bugar, tetapi justru akan sangat terlihat dari bagaimana sikap kita menghadapi orang tua yang sudah sakit-sakitan atau lemah karena usia lanjut.

Kita bisa melihat sebuah contoh indah akan hal ini dalam kisah Rut. Setelah suaminya meninggal, sebenarnya ia punya hak untuk meninggalkan Naomi mertuanya dan kembali kepada bangsanya sendiri. Bahkan Naomi pun sudah merelakannya. Tetapi lihatlah bagaimana keputusan Rut. “Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (Rut 1:16). Rut memilih ikut mertuanya masuk ke negeri dimana bangsanya tidaklah dipandang sama sekali. Hidup tidak mudah bagi Rut. Ia harus melakukan pekerjaan yang sangat rendah sebagai pemungut jelai, sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan membuntuti orang-orang yang menyabit gandum dan memunguti sisa-sisa serpihan dari hasil sabitan mereka. Rut dengan rela melakukannya bukan saja buat menyambung hidupnya sendiri, tetapi ia melakukan itu untuk menunjukkan baktinya kepada mertuanya juga. “Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu.” (2:17-18). Seefa itu sekitar 10 kg. Itu hasil jerih payahnya bekerja seharian, dan itu dibawanya kepada Naomi. Begitulah besarnya bakti yang ditunjukkan Rut, sehingga tidaklah heran apabila Tuhan berkenan kepadanya.

Ayah, ibu, nenek, kakek maupun mertua, mereka semua adalah orang tua kita yang harusnya kita kasihi dan peduli. Mereka berjuang dengan segala daya upaya untuk membesarkan dan menyekolahkan kita. Jika kita sudah bekerja mapan hari ini, semua itu tidaklah terlepas dari usaha orang tua kita juga. Sudahkah kita membalas budi mereka dan mengucapkan terimakasih kepada mereka? Jangan tunda lagi, nyatakanlah bahwa anda mengasihi mereka dan usahakanlah agar mereka bisa bahagia di hari-hari akhir mereka. Dulu kita masih belum bisa apa-apa dan orang tua kitalah yang berjuang untuk masa depan kita, sekarang saatnya bagi kita untuk membalas jasa mereka dan membuat mereka bersyukur, bangga dan berbahagia di hari tua mereka karena memiliki anak cucu dan keluarga yang mengasihi mereka.

Tuhan berkenan kepada anak-anak yang berbakti dan tahu membalas budi kepada orangtuanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

27 April – Kis 3:1-10; Luk 24:13-35

Betapa lambannya hatimu sehingga kamu tidak pecaya segala sesuatu”

(Kis 3:1-10; Luk 24:13-35)

 

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti” (Luk 24:25-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup beriman atau beragama berarti hidup dalam Kerajaan Allah, dikuasai atau dirajai oleh Allah. Kerajaan Allah adalah kerajaan hati, maka hidup di dalam Kerajaan Allah harus memiliki kecerdasan hati. Kecerdasan hati antara lain dapat diusahakan dan diperdalam dengan membaca dan merenungkan sabda-sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci atau berpartisipasi dalam ibadat seperti Perayaan Ekaristi. Apa yang tertulis di dalam Kitab Suci ditulis dalam ilham Allah dan “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran“(2Tim 3:16). Apa yang tertulis di dalam Kitab Suci pertama-tama untuk dibacakan dan didengarkan dengan sungguh-sungguh dan khidmat, maka jika kita sungguh dapat mendengarkan sabda Tuhan kami percaya kita akan semakin memiliki hati yang cerdas dan tidak lamban. Berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi juga mencerdaskan hati kita, karena Perayaan Ekaristi merupakan kenangan akan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Dengan sungguh-sungguh berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi berarti kita semakin mati dalam hal dosa dan semakin hidup dalam dan oleh Roh alias semakin dikuasai oleh Roh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh, seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri“(Gal 5:22-23) . Semoga kita tidak bodoh atau lamban dalam hal hati, tetapi cerdas dan cekatan.

·   "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis 3:6), demikian kata Petrus kepada orang lumpuh yang minta bantuan atau belas kasihan, dan orang lumpuh itupun segera sembuh alias dapat berjalan. Sakit atau sehat, segera sembuh dari sakit atau lamban sembuh erat kaitannya dengan beriman atau tak beriman. Beriman berarti memper-sembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesama dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hati, terutama sesama atau saudara-saudari kita yang sungguh beriman seperti Petrus. Beriman juga berarti setia dan taat taat pada aneka macam tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Jika kita sungguh beriman maka kita dapat berjalan kemana saja dengan bebas dan tanpa takut sedikitpun. Kata-kata Petrus di atas juga mengingatkan kita semua sebagai orang beriman: hendaknya jangan mengandalkan diri pada ‘emas dan perak’ alias aneka harta benda atau kekayaan duniawi. Pengalaman menunjukkan mereka mempercayakan  diri pada ‘emas dan perak’ ketika kehilangan ‘emas dan perak’tersebut menjadi lumpuh, entah secara phisik, social maupun spiritual.  Hendaknya kita jangan bersikap mental materialistis dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Marilah dalam semangat iman kristiani kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun beragama. Marilah dalam dan dengan iman kita hadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan, marilah kita nikmati aneka makanan dan minuman yang sehat dalam iman, meskipun tidak nikmat di lidah.

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm 105:1-4)

 

Jakarta, 27 April 2011

25 April – Kis 2:14.22-32; Mat 28:8-15

"Salam bagimu"

(Kis 2:14.22-32; Mat 28:8-15)

 

“Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa." Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini“(Mat 28:8-15),demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Assalamu'alaikum“, demikian kata-kata yang keluar dari saudara-saudari kita umat Islam pada awal perjumpaan satu sama lain, yang berarti saling memberikan salam damai sejahtera satu sama lain dengan harapan masing-masing berada dalam damai sejahtera lahir-batin. Kata-kata itu identik dengan salam Yesus kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain dalam perjumpaan pertama mereka setelah Yesus bangkit dari mati. Maka baiklah kita yang beriman kepada Yesus yang bangkit hendaknya juga saling memberi  salam damai sejahtera satu sama lain, dan tentu saja diharapkan tidak hanya sekedar basa-basi atau sopan santun, manis di mulut saja, tetapi sungguh menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak. Untuk itu hendaknya juga tidak berbohong seperti kata para tua-tua Yahudi kepada para serdadu yang melihat kebenaran bahwa Yesus telah bangkit dari mati. Kebohongan macam itu jelas tidak akan membuat hidup damai sejahtera, melainkan membuat orang senantiasa dalam ketidakpastian serta merasa tidak aman. Marilah kita lihat dan imani karya Yesus yang bangkit melalui RohNya dalam diri kita masing-masing maupun saudara-saudari kita, dengan kata lain hendaknya kita saling berpikiran positif untuk mendukung hidup bersama yang damai sejahtera. Kita semua mendambakan hidup damai sejahtera, maka marilah kita saling bergotong-royong mewujudkannya serta tidak saling berbohong, melainkan saling jujur satu sama lain, terbuka atau transparan, sehingga tak ada sesuatu pun yang kita sembunyikan.

·   “Ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kis 2:30-32), demikian kata Petrus. “Kami adalah saksi”, saksi kebangkitan Yesus dari mati, itulah yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Menjadi saksi kebangkitan Yesus berarti senantiasa  hidup bergairah, ceria serta dinamis kapanpun dan dimanapun, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah atau hambatan, karena  Roh Kudus hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Dalam kegairahan dan keceriaan berarti matabolisme darah dan kinerja syaraf kita dalam keadaan prima sehingga dengan jernih, tenang dan sabar kita menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, dan dengan demikian memiliki kekuatan untuk mengatasinya. Sebagai orang beriman tidak ada alasan untuk tidak bergairah dan tidak ceria. karena kita hidup dan bertindak bersama dan dalam Tuhan serta oleh RohNya. Kita telah diselamatkan dan menerima aneka macam anugerah melimpah ruah yang menyertai perjalanan hidup dan pelaksanaan tugas  pengutusan kita masing-masing; sebagai yang telah menerima anugerah tentu saja akan hidup penuh syukur serta terima kasih, dan kemudian mewujudkan syukur dan terima kasih tersebut dengan menghayati diri sebagai saksi kebangkitan, yang hidup dan bertindak dengan ceriga, gairah dan dinamis dalam melayani sesamanya. Jika kita sungguh dapat menjadi saksi kebangkitan Yesus maka kita tak akan mengalami kebinasaan, terutama jiwa kita.

 

Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm 16:7-11)

Jakarta, 25 April 2011   

 

26 April – Kis 2:36-41; Yoh 20:11-18

"Aku telah melihat Tuhan!"

(Kis 2:36-41; Yoh 20:11-18)

 

“Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.”(Yoh 20:11-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika saya di Novisiat SJ Girisonta, kami para novis setiap hari harus ‘opera’, yaitu kegiatan membersihkan rumah dan lingkungannya. Waktu itu kami berdua bertugas untuk membersihkan toilet. Teman novis saya tiba-tiba sambil membersihkan toilet bernyanyi: “Di sini ada Tuhan” . Mendengar nyanyian tersebut saya mendekat dan bertanya ada apa, dan teman saya menunjuk pada kloset, dan ternyata ada pemakai toilet pagi itu lupa menggelontor ketika buang air besar, sehingga kotoran masih berada dalam kloset. Reaksi teman saya tersebut begitu mengesan bagi saya sampai sekarang, dan saya teringat akan hal itu ketika merenungkan kisah Warta Gembira hari ini dimana dalam suasana ketakutan Maria Magdalena berseru kepada para murid ;”Aku telah melihat Tuhan”. Tuhan Yesus yang telah bangkit hadir dimana-mana dan kapan saja tanpa terbatas oleh ruang dan waktu melalui RohNya. Maka marilah kita meneladan Maria Magdalena ‘melihat Tuhan’ dalam hidup dan lingkungan hidup kita masing-masing setiap hari,lebih-lebih atau terutama dalam suasana atau lingkungan yang membuat kebanyakan orang takut atau jijik. Dengan kata lain kita diharapkan tetap dalam keadaan gembira, ceria dan dinamis dalam menghadapi aneka macam tantangan, hambatan atau masalah kehidupan, seraya ‘melihat Tuhan yang hidup dan berkarya’ di dalamnya.

·   Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kis 2:41), demikian berita perihal pewartaan Yesus yang bangkit dari mati, yang dibawakan oleh Petrus. Mereka yang mendengarkan berita tentang kebangkitan Yesus terharu dan akhirnya bertobat, minta dibaptis. Kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk meneladan Petrus. Maka marilah kita mawas diri: apakah cara hidup dan cara bertindak kita membuat orang lain terharu sedemikian rupa, sehingga mereka semakin bertobat, beriman dan berbakti kepada Tuhan atau ada kemungkinan secara yuridis dan liturgis minta dibaptis. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan Yesus melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Kesaksian atau keteladanan merupakan cara utama dan pertama dalam tugas missioner atau karya pewartaan Kabar Baik. Secara khusus disini saya mengingatkan dan mengajak mereka yang bertugas untuk ‘omong atau bicara’ dalam aneka kesempatan, entah sebagai pengkotbah, guru dst… Marilah mawas diri apakah omongan, pengajaran atau kata-kata yang keluar dari mulut kita membuat terharu para pendengarnya dan mereka kemudian merasa ditumbuh-kembangkan sebagai pribadi beriman. Sebagai orang beriman atau beragama marilah kita berusaha dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan agar cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa menarik, mempesona serta menggairahkan orang lain, sehingga mereka mendekat dan mengasihi kita, dan selanjutnya mereka pun tergerak untuk mengikuti cara hidup dan cara bertindak kita yang baik dan menyelamatkan. Bukan pakaian atau aneka macam hiasan atau assesori yang membuat orang lain terpesona dan tertarik kepada kita, melainkan karena kepribadian kita yang baik, suci dan berbudi pekerti luhur. Bukan pangkat, kekayaan  atau kedudukan yang menjadi ‘senjata atau alat kesaksian atau keteladanan’ melainkan cara bertindak dan cara hidup kita.

 

“Firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm 33:4-5.18-19)

 

Jakarta, 26 April 2011