Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Sulit Tidur?

Ayat bacaan: Mazmur 3:6
====================
“Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!”

sulit tidur, insomniaApakah anda termasuk orang yang mudah atau sulit tidur? Ayah saya termasuk orang yang sangat mudah tidur. Meski ia masih sangat aktif bekerja di usia senjanya, ia bukanlah orang yang gampang stres. Dalam sekejap saja ia bisa langsung pulas setiap ada kesempatan untuk beristirahat biarpun cuma sebentar. Tidur itu mudah dan gratis, katanya pada suatu kali sambil tertawa. Ya, bagi orang yang tidak mengalami kesulitan tidur hal itu tentu benar. Tapi coba tanyakan kepada orang-orang yang sulit tidur, seperti orang insomnia misalnya, maka tidur ini bisa jadi menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan dan mahal harganya. Hidup di dunia yang semakin lama semakin sulit akan membuat hal-hal yang bisa mengganggu kedamaian kita bertambah banyak pula. Berbagai masalah, konflik, situasi sulit bisa menimbulkan stres dan depresi, dan hal-hal seperti itu tentu bisa mengganggu bahkan merampas damai sejahtera maupun sukacita dari diri kita. Akibatnya jangankan bisa nyenyak, untuk bisa memejamkan mata saja sudah sulit. Ada yang bahkan memerlukan obat terlebih dahulu agar bisa tidur.

Nyenyak tidaknya kita tidur akan sangat tergantung dari kondisi hati kita. Ketenangan, kedamaian, sukacita, itu semua akan membuat kita bisa tidur dengan nyaman. Sebaliknya ketika membiarkan semua itu dirampas oleh masalah-masalah yang kita alami, maka kita pun tidak akan pernah bisa menikmati tidur yang berkualitas lagi.

Daud pernah mengalami masa-masa sulit ketika Absalom, puteranya sendiri melakukan makar untuk menggulingkan dia. Kisah ini bisa kita baca dalam kitab 2 Samuel 15. Pemberontakan Absalom membuat Daud harus melarikan diri dari Yerusalem untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang buruk. Bayangkan bagaimana rasanya dikudeta, apalagi oleh anak sendiri. Tentu situasi itu berat untuk dialami. Bagaimana reaksi Daud menghadapi itu? Mazmur 3 mencatatnya dengan lengkap.

Perikop yang bertajuk “Nyanyian pagi dalam menghadapi musuh” dimulai dari seruan Daud akan banyaknya musuh yang bangkit menyerangnya. (ay 2). Bahkan mereka begitu merasa di atas angin sehingga dengan sombong berkata “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.” (ay 3). Habislah riwayat Daud kali ini, begitu pikir mereka. Tapi Daud tidak terpengaruh. Ia berkata “Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.” (ay 4). Dalam keadaan berat seperti itu, Daud masih bisa mendengar jawaban Tuhan. (ay 4). Oleh sebab itulah Daud bisa tetap tenang, bahkan ia bisa tetap tidur dengan tentram. “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!” (ay 6). Daud bisa beristirahat dengan tenang, karena ia tahu pasti bahwa Tuhan ada bersamanya dan akan tetap menopangnya. Dan itulah kunci dari ketenangan kita. Damai sejahtera dan sukacita sejati itu sesungguhnya berasal dari Tuhan dan tidak tergantung dari kondisi di sekitar kita dan apa yang tengah kita alami. seperti apa yang sudah dibagikan dalam renungan kemarin, kita harus terus meneguhkan hati kita dan tetap mempercayakan segalanya ke dalam tangan Tuhan untuk bisa menerimanya. “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” (Yesaya 26:3).

Masalah bisa sangat besar, tetapi bisakah anda yakin bahwa Tuhan lebih besar dari masalah apapun itu? Daud tahu pasti akan hal itu. Berkali-kali dalam kesesakan dan himpitan masalah ia tahu harus berseru kepada siapa untuk mendapatkan ketenangan. Baginya, Allah adalah gunung batu yang teguh, dimana ia bisa bersandar dengan aman. “Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.” (Mazmur 62:8). Hal yang sama pun berlaku bagi kita. Damai sukacita sejati tidaklah terletak pada ada tidaknya masalah, tetapi bagaimana sikap kita dalam memandang sebuah masalah. Kalau kita percaya masalah itu lebih besar dari Tuhan, maka jangan heran apabila kita akan terus menerus tenggelam dalam stres dan depresi sehingga tidur pun menjadi sesuatu yang langka bagi kita. Sebaliknya, jika iman anda berkata bahwa Tuhan itu lebih besar dari masalah seberat apapun, anda akan bisa melewati rintangan badai apapun dalam keadaan tenang dalam damai sejahtera dan sukacita sejati dari Tuhan.

Sleep tight, sweet dream, because God is far greater than any problems

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

20 Des – Yes 7:10-14; Luk 1:26-38)

“Jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

(Yes 7:10-14; Luk 1:26-38)


“Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia” (Luk 1:26-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam Warta Gembira hari ini ditampilkan tokoh Maria, seorang perawan yang suci dari Nazaret. Maria terpilih sebagai Bunda Penyelamat Dunia, yang mengandung dan melahirkan Penyelamat Dunia, karena Roh Kudus bukan karena hubungan seksual dengan laki-laki. Anda para gadis atau perawan kiranya dapat membayangkan betapa berat tanggungannya jika tiba-tiba hamil karena pergaulan seks bebas: malu dan ada kemungkinan diusir dari rumah dst…atau ditinggalkan oleh pacar yang menghamili. Secara manusiawi kiranya Maria mengalami hal itu, namun karena ia perawan suci ketika mengetahui bahwa kehamilannya karena Roh Kudus, maka dengan rendah hati ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. “Fiat voluntas tua”, begitulah motto yang sering digunakan secara pribadi atau organisatoris dengan dambaan untuk meneladan Maria, teladan umat beriman. Kita semua juga dipanggil untuk meneladan Maria, yang dengan rendah hati siap sedia untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, dimanapun dan kapanpun. Dengan kata lain jika kita berkehendak baik hendaknya segera diwujudkan kehendak tersebut, tanpa takut dan gentar terhadap aneka tantangan atau hambatan serta masalah yang menghadang.


·    "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:13-14), demikian kata Yesaya kepada bangsanya, saudara-saudarinya yang menantikan kedatangan Penyelamat Dunia, Mesias. Bahwa Maria terpilih sebagai Bunda Penyelamat Dunia ternyata sudah lama diramalkan oleh para nabi, antara lain nabi Yesaya. Tanda kasih atau rahmat Tuhan atau mujizat itulah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Tuhan hidup dan berkarya terus menerus dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya, antara lain menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. Maka baiklah kita hayati dan imani bahwa semua pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi atau kita alami adalah anugerah atau karya Tuhan, dengan kata lain ada tanda kehadiran dan karya Tuhan yang begitu melimpah dalam kehidupan kita sehari-hari. “Imanuel” , yang berarti Tuhan beserta kita, itulah yang kita nanti-nantikan. Tuhan telah dan terus akan menyertai perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing antara lain melalui aneka macam perhatian, sapaan, sentuhan dan perlakuan orang lain kepada kita. Segala sesuatu yang dibuat orang lain pada kita adalah perwujudan penyertaan  Tuhan pada kita yang lemah dan rapuh ini. Secara khusus kami berharap kepada rekan-rekan perempuan yang sedang atau pernah mengandung ‘buah kasih’ dalam rahimnya, kami ajak untuk mengenangkan kembali betapa luhur, mulia dan indahnya karya kasih Tuhan melalui pertumbuhan dan perkembangan buah kasih, embriyo, dalam rahim anda. Maka kami berharap kepada anda semua yang pernah mengandung dan melahirkan anaknya untuk dapat menjadi saksi kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup sehari-hari.

 

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.”

(Mzm 24:1-5)

 .    

Jakarta, 20 Desember 2010

Damai Sejahtera

Ayat bacaan: Yesaya 26:3
===================
“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”

damai sejahteraBisakah kita mengontrol situasi dan kondisi di sekitar kita sepenuhnya? Tentu saja tidak. Tidak peduli bagaimanapun kita berusaha, masalah dan konflik akan selalu hadir pada waktu-waktu tertentu, bahkan tidak jarang pada saat yang tidak disangka-sangka. Situasi buruk bisa terjadi kapan saja, mulai dari yang paling sepele atau sederhana hingga yang terparah sekalipun. Pernahkah anda merasa bahwa itulah ujian yang terberat, tetapi kemudian datang masalah lagi yang ternyata jauh lebih berat daripada itu? Semua itu rasanya pernah kita alami, atau jangan-jangan ada diantara teman-teman yang tengah merasakannya. Rasa itu tentu akan bertambah parah kita rasakan ketika menjelang Natal seperti ini, dimana banyak orang sedang bersukacita, berkumpul bersama keluarga, berlibur, bergembira dengan orang-orang yang dikasihinya. Saya tidak sedang menakut-nakuti atau mencoba melemahkan semangat anda. Jika ada di antara anda yang tengah merasakan kepedihan saat ini, saya pun pernah merasakannya. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Tapi jangan lupa, dalam keadaan segelap apapun selalu ada titik terang yang berasal dari Tuhan. Dalam keadaan seberat apapun, ada damai sejahtera yang masih bisa kita peroleh. Itu berasal dari Tuhan, dan itu tidak tergantung oleh situasi dan kondisi.

Damai sejahtera di hati kita, itu sangat diinginkan Tuhan untuk kita miliki. Dia bahkan telah mengutus Rohnya untuk itu. Dalam kitab Roma kita bisa melihat hal ini. “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. (Roma 8:6). Pikirkanlah itu. Jika Roh Allah tinggal di dalam kita, mengapa kita masih juga bisa kehilangan damai sejahtera? Salah satu alasannya jelas, kita tidak berbuat apa-apa untuk menjaga rasa itu agar tetap tinggal di dalam diri kita. Kita terpengaruh dengan segala situasi bagaikan bunglon yang terus berubah warna tergantung di mana ia berada. Kita tidak mau terus melatih diri kita, dan jika saya ibaratkan dengan otot-otot manusia, bagaimana mungkin otot bisa menjadi kekar dan kuat jika tidak pernah kita latih sama sekali? Otot rohani pun demikian. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan Timotius bahwa “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8). Jika latihan jasmani saja sudah bermanfaat bagi tubuh, apalagi sebuah latihan yang jauh lebih berguna tidak saja dalam kehidupan di dunia, tetapi juga akan sangat berfaedah bagi hidup yang akan datang. 

Jika demikian, apa yang bisa membuat kita tetap memiliki damai sejahtera? Mari kita lihat ayat dalam kitab Yesaya berikut ini. Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. (Yesaya 26:3). Lihatlah bahwa damai sejahtera akan selalu hadir dari Tuhan kepada orang-orang yang hatinya teguh dan selalu mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Itulah kunci agar kita bisa mendapatkan damai sejahtera sejati yang tidak akan terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang tengah menimpa kita . Keteguhan hati tidak datang secara instan. Ini adalah sesuatu yang harus terus kita latih agar terus bertumbuh lebih baik dari hari ke hari. Ingatlah bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa berdiri teguh, karena Kristus sesungguhnya sudah memerdekakan kita jauh sebelumnya. Firman Tuhan berkata “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1). Sebuah dasar yang sangat kuat sudah diberikan kepada kita. Apa yang harus kita lakukan tinggal melatihnya terus agar tidak menjadi lemah lagi.

Sebuah kunci untuk bisa meneguhkan kita secara jelas disampaikan oleh Petrus. “Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.” (2 Petrus 1:19). Apa yang meneguhkan kita menurut pengalaman Petrus dan rekan-rekan sekerjanya sesungguhnya jelas, yaitu firman Tuhan, yang telah disampaikan oleh para nabi, yang semuanya hingga hari ini bisa kita renungkan dalam ayat-ayat yang tercantum di dalam Alkitab. Terus membaca dan merenungkan firman Tuhan dengan sepenuh hati akan mampu meneguhkan kita. Lihatlah bagaimana Petrus dan rekan-rekan sekerjanya bisa tetap berdiri teguh tanpa rasa takut dalam mewartakan berita keselamatan, meski bahaya yang mereka hadapi sungguh tidaklah ringan. Nyawa mereka sekalipun mereka serahkan, dan itu semua mereka hadapi tetap dengan damai sejahtera yang memenuhi hati mereka. Apa yang kita hadapi mungkin tidaklah seberat mereka. Jika mereka saja bisa, mengapa kita tidak? Para Rasul sudah membuktikannya sendiri, dan itu sama berlaku bagi kita.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58). Perhatikanlah janji Tuhan yang indah ini. Dia sudah berkata bahwa keteguhan kita dalam menghadapi situasi apapun tidak akan pernah berakhir sia-sia. Sebuah otot yang kuat akan mampu mengangkat beban yang lebih berat dibanding kesanggupan orang biasa, demikian pula otot rohani yang kuat akan memampukan kita untuk tetap berpegang teguh dalam pengharapan dan kepercayaan kepada Tuhan. Itulah saat dimana kita tidak akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita dalam menghadapi konflik seberat apapun. Itulah saat dimana kita tidak akan bisa digoncangkan oleh badai seganas apapun. Konflik dan masalah akan terus hadir dalam eskalasi yang beragam, tetapi semua itu tidak akan sanggup merampas damai sejahtera dari dalam diri kita jika kita tetap berdiri teguh. Percayakan semuanya kepada Tuhan, jangan goyah, maka tidak ada satupun yang bisa merampas damai sejahtera itu dari diri kita. Mari kita rayakan Natal tahun ini dengan damai sejahtera sejati.

Damai sejahtera berasal dari Tuhan bukan tergantung oleh situasi di sekeliling kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Minggu Adven IV – Yes 7:10-14; Rm 1:1-7; Mat 1:18-24

“Ia mengambil Maria sebagai isterinya tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya”

Mg Adven IV: Yes  7:10-14; Rm 1:1-7; Mat 1:18-24

 

Orangtua, pemimpin atau atasan sering dengan mudah menjanjikan sesuatu kepada anak-anaknya, anggota-anggotanya atau bawahan-bawahannya, tetapi sering janji tersebut tinggal janji artinya tidak ditepati atau dilaksanakan. Sebagai contoh konkret presiden RI menjanjikan untuk memberantas korupsi serta siap berada di garis depan dalam memberantas korupsi, namun hanya koruptor kelas teri yang dijadikan sasaran, sementara itu koruptor kelas kakap dibiarkan berkeliaran. Maklum koruptor kelas kakap pada umumnya melibatkan para pejabat, sehingga dengan dan melalui berbagai cara mereka dilindungi. Memang tidak mudah memberantas koruptor kelas kakap, namun jika koruptor kelas kakap dapat dibasmi kiranya damai sejahtera akan terjadi di bumi ini. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan pemenuhan janji Allah untuk mengutus Penyelamat Dunia, yaitu memilih Yusuf, anak Daud atau keturunan Daud, untuk “mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan dia Yesus”. Tokoh Yusuf ditampilkan dalam Warta Gembira hari ini, maka marilah kita renungkan atau refleksikan tokoh Yusuf ini.

 

“Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum” (Mat 1:19)

 

Tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama(orang lain) di muka umum”  inilah yang sebaiknya kita renungkan atau refleksikan. Menghayati dan menyebarkan hal ini kiranya sungguh mendesak dan up to date masa kini mengingat kebohongan dan pencemaran nama baik masih marak di sana-sini di dalam kehidupan bersama. Memiliki ketulusan hati berarti suci, bersih dan tiada noda atau dosa sedikitpun, maka rasanya hal itu sungguh berat bagi kita semua dan mungkin dapat dihitung dengan jari siapa yang sungguh tulus hati. Namun demikian marilah kita saling membantu dan mengingatkan untuk hidup dan bertindak dengan tulus hati dimanapun dan kapanpun. Tulus hati juga berarti jujur, yaitu “sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17).

 

Salah satu bentuk konkret ketulusan hati adalah tidak mau mencemarkan nama baik orang lain di muka umum kapan saja dan dimana saja. Banyak di antara kita suka ngrasani atau ngrumpi; pada umumnya berisi menjelek-jelekan orang lain atau membicarakan kekekurangan dan kelemahan orang lain, dan dengan demikian kekurangan atau kelemahan orang yang bersangkutan diperbesar. Membicarakan kekurangan atau kelemahan orang lain untuk bersendau-gurau atau pemuas nafsu pribadi hemat saya melanggar hak asasi manusia, melanggar cintakasih. Siapa yang suka ngrumpi atau ngrasani, laki-laki atau perempuan? Kaum laki-laki pada umumnya lebih jarang ngrumpi atau ngrasani, namun ketika ngrasani begitu keras sehingga banyak orang mendengar, sedangkan rekan perempuan pada umum ngrasani dengan pelan, telaten serta sering dengan mudah ngrumpi atau ngrasani, dengan kata lain laki-laki dan perempuan sama saja.

 

Ketulusan hati Yusuf juga dihayati dengan tidak bersetubuh dengan Maria, karena Maria mengandung dari Roh Kudus. Dengan rendah hati kami mengingatkan dan mengajak rekan-rekan laki-laki, entah yang sudah berkeluarga atau belum/tidak berkeluarga: hendaknya tidak dengan mudah bersetubuh dengan perempuan lain yang bukan isterinya atau pasangan hidupnya. Maklum laki-laki menyeleweng atau selingkuh satu atau dua kali belum ketahuan, tetapi kalau berkali-kali akan ketahuan juga, sedangkan rekan-rekan perempuan lebih-lebih yang belum berkeluarga alias masih gadis/perawan ketika berselingkuh sekali saja langsung dapat ketahuan, karena ada kemungkinan yang bersangkutan hamil atau paling tidak secara phisik telah jebol selaput daranya. Marilah kita saling menjaga ketulusan hati kita dalam hal seksual.

 

“Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus.” (Rm 1:5-6)

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita adalah milik Yesus Kristus, maka mau tak mau kita harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintahNya atau menghayati sabda-sabdaNya sebagaimana disharingkan oleh para penulis Kitab Suci. Kita juga dipanggil sebagai rasul atau utusan, yaitu ‘menuntun semua bangsa’  untuk berbakti sepenuhnya kepada Tuhan. Sang Penyelamat Dunia yang kita nantikan adalah Penyelamat semua bangsa, membawa damai sejahtera bagi semua orang yang berkehendak baik, maka marilah kita mempersiapkan diri dengan mengusahakan diri sedemikian rupa sehingga kita layak menjadi ‘milik Yesus Kristus’.

 

“Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm 14:8), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Ingat dan hayati bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan, dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya saat ini karena kasih Tuhan. Masing-masing dari kita diciptakan oleh Tuhan bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dan kiranya kasih mereka pun dihayati sebagai anugerah Tuhan juga. Karena hidup adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita, maka segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan. Dengan kata lain sebagai ‘milik Tuhan/Yesus Kristus’ kita dipanggil hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih serta rendah hati.

 

Kerendahan hati juga dihayati oleh Sang Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatanganNya, karena  “Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:5-8). Apa yang kita miliki atau kuasai sampai saat ini marilah kita ‘kosongkan’, artinya kita fungsikan atau gunakan sesuai dengan kehendak Tuhan, antara lain secara konkret kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang sosial, tidak egois. Sosial berasal dari kata bahasa Latin ‘socius’ berarti teman atau sahabat, maka semakin memiliki aneka macam anugerah Tuhan diharapkan semakin banyak sahabat atau teman. Semakin kaya, semakin pandai/cerdas, semakin berkedudukan, semakin berpengalaman, semakin tua/tambah usia, hendaknya semakin rendah hati, bersyukur dan berterima kasih. Ingat pepatah “tua-tua keladi atau bulir padi semakin tua/berisi semakin menunduk’.

 

” TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mzm 24:1-5)

 

Jakarta, 19 Desember 2010

             

Pentingnya Pondasi Yang Kuat

Ayat bacaan: Lukas 6:47-48
======================
“Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya..ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.”

pondasi yang kuatHujan terus mengguyur kota dimana saya tinggal sekarang selama setahun penuh. Hampir tidak ada satu hari pun tanpa hujan. Jalan mengelupas bahkan pecah berkeping-keping seperti terkena ledakan dari bawah, sehingga rasanya seperti berselancar di sungai berbatu ketimbang berkendara dengan mobil. Hari ini di sebuah kompleks perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggal saya, saya melihat ada lima bangunan yang tengah berada dalam situasi mengerikan. Curah hujan yang tinggi selama setahun penuh ternyata membuat tanah dimana rumah itu berdiri tergerus habis, mengakibatkan kelima rumah itu anjlok ke bawah. Bayangkan ketika anda di dalam rumah, tiba-tiba rumah anda bergoyang dan turun beberapa centimeter ke bawah. Di belakang rumah itu terdapat tanah kosong yang letaknya jauh dibawah. Artinya, setiap saat rumah itu bisa rubuh ke belakang dan seisi rumah bisa tewas seketika tertimbun tembok-tembok. Memang turunnya “cuma” beberapa centimeter, tetapi itu sudah membuat penopang atapnya patah. Begitu juga dinding-dindingnya retak, beberapa jendela pecah karena struktur rumah amblas ke bawah. Usut punya usut, ternyata kesalahan terjadi karena pembangun tidak memperkirakan hal itu sebelumnya. Pondasi yang dipasang seadanya saja tanpa mempertimbangkan ketahanan dan kondisi tanah, sehingga ketika hujan terus mengguyur sepanjang tahun tanah menjadi lembek dan terus tergerus aliran air. Para pemilik rumah pun kemudian terpaksa meninggalkan rumahnya karena kuatir suatu ketika nanti bisa-bisa rumahnya ambruk berantakan. Rumah yang indah tentu menjadi idaman semua orang. Tetapi indah saja tidaklah cukup. Kekokohan pondasi pun sangat penting, bahkan paling penting karena menyangkut ketahanan rumah dalam melintasi waktu. Apa yang tampak indah belum tentu kuat. Dan itu terbukti dari beberapa rumah yang bernasib malang ini.

Seperti halnya pondasi rumah, demikian juga pentingnya pondasi kehidupan kita. Kehidupan ini tidak akan pernah mudah untuk dijalani. Selalu ada problema, tekanan dan berbagai rintangan yang akan terus menerjang kita dari segala sisi. Kehidupan kita bahkan bisa saja terserang banjir masalah selama bertahun-tahun seperti hujan yang mengguyur kota tempat tinggal saya selama setahun ini. Bagaimana kita bisa bertahan dan tetap tegar ditengah banjir bahkan badai jika kita tidak memiliki pondasi yang cukup kuat? Bisa-bisa terkena masalah kecil yang jika dibandingkan dengan badai hanya berupa angin kecil saja kita sudah amblas. Yesus telah mengingatkan akan pentingnya membangun pondasi yang kuat sebagai dasar untuk hidup. Yesus berfirman: “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” (Lukas 6:47-48). Rumah yang dibangun dengan membuat pondasi jauh menembus permukaan akan membuatnya kuat, tidak akan gampang goyah ketika air bah, banjir, atau badai dan gempa melanda rumah itu. Betapa besar peran pondasi yang kokoh dalam menjaga rumah agar tetap tegak berdiri di tengah badai. Seperti itu juga yang akan terjadi apabila kita memperhatikan betul pentingnya meletakkan dasar yang kuat bagi kerohanian kita. Masalah boleh saja silih berganti bagaikan banjir menerpa kita, tetapi itu tidak akan mudah merontokkan kita. Bagaimana jika kita tidak memperhatikan itu? Bagaimana jika kita hanya mementingkan penampakan luar dan hanya ala kadarnya saja atau menganggap tidak penting akan pondasi yang kuat ini? Untuk yang berpikir seperti ini Yesus berkata: “Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (ay 49). Orang yang tidak peduli dengan dasar yang kuat akan menjadi seperti rumah yang dibangun di atas tanah tanpa dasar, tanpa pondasi yang kuat. Sedikit saja tergerus air, sedikit saja tergoyang, rumah akan rontok pecah dan retak, lalu rubuh, hancur lebur berantakan.

Lihatlah bahwa bangunan boleh saja tampak sama indah dari luar. Namun kualitas sesungguhnya baru akan terlihat apabila ada goncangan atau gangguan menerpanya. Bangunan yang punya pondasi kuat tidak akan gampang rusak meski dilanda berbagai bencana, tapi sebaliknya bangunan yang dibangun ala kadarnya akan porak poranda, hancur berkeping-keping ketika badai, banjir atau air bah datang menghantamnya. Seperti halnya bangunan, demikian pula kerohanian kita. Agar kuat, kita perlu memperhatikan atau bahkan menitikberatkan pertumbuhannya dalam sebuah dasar yang kuat.

Lalu bagaimana caranya? Yesus mengajarkan bahwa rumah yang dibangun dengan dasar yang kuat akan berlaku kepada “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya”. (ay 47). Ini syaratnya untuk membuat sebuah pondasi kokoh kerohanian yang berpengaruh pada kekuatan hidup. Datang kepadaNya, mendengarkan perkataanNya dan melakukan firmanNya. Sekedar mengaku percaya dan mengetahui firmanNya saja tidaklah cukup untuk membangun pondasi kuat. Kita harus pula melanjutkan dengan melakukan apa yang Dia ajarkan. Kita harus melandaskan hidup kita sepenuhnya pada batu karang yang tidak lain adalah Kristus sendiri. (1 Korintus 10:4). Dasar kekristenan bukanlah sekedar rajin berseru kepada Tuhan saja, mementingkan keindahan dari luar saja. Itu tidak akan pernah cukup. Yang akan mendapat tempat ke dalam Kerajaan hanyalah orang yang tidak berhenti hanya sampai disana, tapi melanjutkan pula kepada menjadi pelaku-pelaku firman. Yesus berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21) Tuhan tidak berkenan kepada orang yang rajin berseru, tapi hanya sebatas teoritis saja tanpa disertai praktek atau aplikasi secara nyata dalam kehidupan. Tuhan pun tidak suka kepada orang yang hanya mementingkan keindahan dari luar saja sementara di dalamnya tidak kokoh sama sekali. “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Karenanya janganlah berpuas diri hanya ketika kita sudah rajin berdoa, atau ketika kita sudah rajin membaca firman Tuhan. Itu baik adanya, namun tanpa disertai perbuatan nyata sesuai kehendak Tuhan, semua itu tidak akan bermanfaat.

Orang saleh bukanlah orang yang hanya rajin berdoa dan tampak suci di mata masyarakat. Orang yang saleh bukanlah yang terlihat “holy” dari luar, tetapi penuh borok di dalam. Orang saleh bukanlah orang yang tampak alim ketika berhadapan dengan orang lain tetapi ketika tidak ada yang memperhatikan mereka melakukan banyak hal yang berseberangan dengan firman Tuhan. Orang yang saleh sesungguhnya adalah orang yang melanjutkan langkahnya dengan melakukan segala sesuatu dalam ketaatan penuh sesuai firman Tuhan. Bagi orang-orang yang saleh Tuhan menjanjikan begitu banyak kebahagiaan seperti yang tertulis dalam Mazmur 16:1-11. Apa yang Tuhan janjikan seindah ini: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11), dan itu semua akan hadir kepada orang-orang yang peduli untuk membangun kehidupannya di atas dasar pondasi rohani yang kuat. Bayangkan kondisi beberapa rumah yang saya sampaikan di atas, mengerikan bukan? Hidup kita pun akan seperti itu jika tidak dibangun dengan pondasi yang benar-benar kokoh. Oleh karena itu hendaklah kita tidak berhenti hanya kepada percaya dan membaca saja, namun melanjutkan itu pula dengan menjadi para pelaku firman yang mampu menjadi terang dan garam di manapun kita berada. Perhatikan baik-baik kehidupan kita apakah sudah dibangun dengan pondasi kuat atau belum. Jika belum, benahilah segera sebelum kita terlanjur amblas luluh lantak berkeping-keping.

Lebih daripada keindahan luar, bangunlah kehidupan di atas pondasi yang kokoh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

18 Des – Yer 23:5-8; Mat 1:18-24)

“Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya”

(Yer 23:5-8; Mat 1:18-24)

 

“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" — yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,” (Mat 1:18-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini kepada kita ditampilkan salah satu tokoh pemenuhan janji Allah bernama Yusuf, yang dikenal sebagai orang yang tulus hati dan “berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya”. Ia terpilih sebagai ‘bapa angkat’ Yesus, Penyelamat Dunia. Maka perkenankan dengan ini secara khusus kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan laki-laki, entah yang masih bujang/belum berkeluarga maupun yang sudah berkeluarga/menjadi suami, untuk meneladan Yusuf yang tulus hati dan senantiasa berbuat sebagaimana diperintahkan malaikat Tuhan, dengan kata lain berusaha untuk hidup suci serta ‘tidak mencemarkan nama orang lain di muka umum’. Secara konkret antara lain berarti tidak menceriterakan kelemahan, kekurangan dan dosa-dosa orang lain kepada siapapun, apalagi menjadikan bahan rekreasi atau sendau-gurau, tetapi senantiasa berusaha  menceriterakan atau menyebar-luaskan apa yang baik. Menceriterakan atau membicarakan kelemahan, kekurangan, dosa orang lain bukan untuk mengusahakan perbaikan berarti melecehkan orang yang bersangkutan alias melanggar hak azasi manusia. Secara khusus.kami juga mengajak dan mengingatkan para suami untuk tidak menceriterakan kelemahan dan kekurangan pasangannya/isterinya, apalagi menceriterakan kepada rekan perempuan lain. Kita diajak untuk senantiasa bertindak sesuai dengan perintah malaikat atau bisikan Roh Kudus, dan perintah atau bisikan Roh Kudus kiranya merupakan ajakan untuk menghayati keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23)    .


·   “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.”(Yer 23:5).Kutipan ini merupakan ramalan perihal kedatangan Penyelamat Dunia, sebagaimana dijanjikan kepada Daud. Yusuf adalah keturunan Daud, ia dipilih oleh Allah untuk menjadikan Maria sebagai isterinya dan dengan demikian Maria menjadi keturunan warga Daud dan yang ada di dalam kandungan atau rahimnya adalah keturunan Daud, tidak secara phisik melainkan secara spiritual, karena antara Yusuf dan Maria tidak mengadakan hubungan seksual dan anak yang ada di dalam rahim Maria karena Roh Kudus. Sang Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatanganNya ‘akan melakukan keadilan dan kebenaran’, maka selayaknya kita yang mendambakan kedatanganNya juga berusaha untuk melakukan keadilan dan kebenaran dalam cara hidup dan cara  bertindak kita. Keadilan yang mendasar adalah menjunjung tinggi dan menghormati hak asasi manusia, manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Sekali lagi disini saya mengingatkan dan mengajak rekan-rekan laki-laki untuk tidak melanggar harkat martabat manusia. Maklum sering kami dengar bahwa sering terjadi pemerkosaan yang dilakukan oleh suami kepada isterinya dalam rangka hubungan seksual, meskipun telah menjadi suami-isteri. Hubungan seksual bukan lagi menjadi perwujudan saling mengasihi namun sebagai pemuas nafsu seks belaka. Yang benar hubungan seksual merupakan salah satu bentuk konkret pewujudan kasih yang dijiwai dengan kebebasan. Cintakasih dan kebebasan tak boleh dipisahkan, cintakasih dan kebebasan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.

 

“Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum   Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin.” (Mzm 72:2.12-13)

Jakarta, 18 Desember 2010

Hadiah Terbesar dan Terindah

Ayat bacaan: 2 Korintus 9:15
=======================
“Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!”

hadiah terbesarLahir dari dua orang tua yang berbeda agama membuat masa kecil saya penuh hadiah. Dua kali hari besar, itu artinya saya mendapatkan dua kali kesempatan memperoleh hadiah, belum termasuk ulang tahun dan kenaikan kelas dengan prestasi. Menjelang Natal, ibu saya selalu menyuruh saya untuk membuat list hadiah yang diinginkan, dan mengatakan bahwa Sinterklas akan mengantarkan dan meletakkannya di bawah pohon terang menjelang hari Natal tiba. Sewaktu kecil saya pun percaya, dan terkagum-kagum karena Sinterklas tahu persis apa yang saya inginkan, meski surat itu tidak pernah saya kirimkan. Saya tidak mengetahui kalau ternyata ibu sayalah yang membelinya sebagai hadiah Natal. Tanpa Sinterklas pun kebanyakan orang tua yang sanggup akan berusaha membelikan anak-anaknya hadiah, setidaknya baju dan sepatu baru. Tidaklah heran jika anak-anak biasanya akan sangat gembira di bulan ini.

Tidak salah sama sekali memberi hadiah kepada anak-anak kita menjelang Natal. Namun jangan lupa, ada hadiah yang sebenarnya jauh lebih berguna dan akan sangat menentukan seperti apa masa depan mereka. Natal adalah saat dimana kita memperingati kedatangan Kristus ke dunia sebagai wujud kasih Allah yang begitu besar kepada kita, seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 3:16. That’s the greatest gift of all from God to everyone. Kita seringkali lupa akan hal yang paling mendasar dari Natal ini lalu kemudian merayakannya hanya dengan pesta dan bertukar hadiah saja. Hadiah terbesar ini seharusnya bukan saja penting untuk kita renungkan terutama ketika di bulan Desember ini, tetapi alangkah baik pula jika kita menyampaikannya sebagai hadiah yang indah pula kepada anak-anak kita.

Apa yang dikatakan Paulus sungguh mengingatkan saya akan hal ini, dan hari ini saya mengajak teman-teman untuk meresapinya bersama-sama. “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (2 Korintus 9:15). Yesus Kristus, itulah hadiah terindah dari Tuhan kepada kita sebagai sebuah karunia yang tidak terkatakan. It’s His indescribable, inexpressible, beyond telling Gift. Jangan pernah lupa untuk mensyukuri apa yang dikaruniakan Tuhan ini, karena tanpa itu kita tahu bahwa hidup yang kita jalani hanya akan berakhir sia-sia tanpa jaminan apapun. Anak-anak kita pun seharusnya bisa mengerti akan hal ini sejak dini, agar mereka mampu menjalani hidup dengan benar. Seperti apa mereka kelak itu tergantung dari seperti apa kita mengarahkan mereka. Firman Tuhan berkata “Seperti anak-anak panah di tangan  pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4). Artinya, jika kita mendidik mereka sejak kecil mengenai kedisplinan, budi pekerti dan terutama pengenalan yang baik akan Yesus Kristus, maka merekapun akan tumbuh menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan, yang suatu ketika akan membuat kita bahagia melihat kesuksesan mereka. Sebaliknya apabila kita membuang waktu-waktu ini, maka pada suatu ketika kita akan menyesal.

Jika demikian, mengapa tidak memanfaatkan waktu-waktu liburan menjelang Natal ini untuk membekali mereka dengan pengenalan yang indah akan Yesus? Ceritakan lah tentang hidup yang kekal dalam Kristus Yesus sebagai karunia Allah yang terindah, yang melepaskan kita dari maut akibat dosa (Roma 6:23). Anda bisa menceritakan bahwa Allah memberi kuasa kepada siapapun yang menerimaNya untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Dan ini termasuk mereka, anak-anak kita. Dan banyak lagi hal-hal yang bisa anda bagikan kepada mereka sebagai bukti kasih Allah. Ini saatnya untuk mengingatkan mereka akan betapa besarnya kasih Allah kepada mereka. Allah memberikan hadiahnya yang terindah dan terbesar, yang tidak terkatakan itu, menjanjikan mereka sebuah hidup yang berkemenangan dengan jaminan kehidupan kekal dalam Kristus.

Hadiah-hadiah dalam bentuk benda seperti baju, mainan dan sebagainya akan mampu menyenangkan mereka. Sekali lagi semua itu tidaklah salah, tetapi jangan lupakan untuk memberikan hadiah yang akan mampu menyertai hidup mereka selamanya, yang akan sanggup membekali mereka untuk menjadi pribadi-pribadi tangguh yang bertanggungjawab kelak. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Bulan Desember adalah bulan yang hendaknya kita pakai untuk memperbaharui komitmen dan kasih kita kepada Tuhan disertai rasa syukur, menyadari dengan sebenar-benarnya akan kasih Kristus sebagai karunia terbesar Allah yang memberi keselamatan, dan jangan lupa pula untuk membagikannya kepada anak-anak kita. Our Heavenly Father has given us the best Gift of all, now it’s time for us to hand that Gift to our children.

Hadiah terindah Tuhan adalah Yesus Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Ketidakadilan di Tempat Keadilan

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:16
=========================
“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.”

ketidakadilan di tempat keadilan, suapMembenahi hukum di Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang sungguh begitu berat. Hukum dan keadilan dapat dibeli dengan uang, mafia-mafia peradilan berkeliaran mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Kita sering mendengar orang berteriak meminta keadilan, tapi kita akan bingung menjawab dimana orang yang berteriak itu bisa mendapatkan keadilan. Kata keadilan ini akan terasa sangat semu manakala sebagian orang bisa membelinya. Kalaupun memang harus masuk penjara, sang terdakwa tetap bisa menyulap selnya menjadi hotel mewah seperti bintang lima, lengkap dengan televisi, air panas, ac, kulkas bahkan salon kecantikan. Apa yang kita lihat hari ini memang sudah lebih baik. Setidaknya mulai terlihat keseriusan untuk membenahi sistem hukum yang carut marut di negara kita, setidaknya hal-hal seperti itu mulai bisa kita lihat secara terbuka lewat media massa, tapi perjalanan sungguh masih panjang. Kebiasaan suap menyuap ini memang sangat sulit untuk dihilangkan. Hukum ekonomi jelas berlaku disini. Ada pasar, ada pembeli dan ada penjual. Betapa memprihatinkan ketika lembaga peradilan yang seharusnya menjadi tempat dimana keadilan bisa ditegakkan sebenar-benarnya malah menjadi tempat yang paling sulit untuk mendapatkannya.

Suap memungkinkan orang untuk membeli hukum dan keadilan, suap mampu memutarbalikkan fakta dan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang yang bersalah bisa terbebas dari hukuman, minimal dihukum serendah-rendahnya. Suap mampu melakukan berbagai manipulasi tanpa peduli melukai rasa keadilan masyarakat. Kasus suap bukan hanya menjadi problema di jaman ini. Jauh di waktu lampau pun suap sudah menjadi budaya. Kita bisa melihat hal itu dalam banyak bagian di Alkitab. Pengkotbah misalnya, mengatakan bahwa “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” (Pengkotbah 3:16). Namanya pengadilan, tapi justru disana terdapat ketidakadilan, di tempat di mana keadilan seharusnya ditegakkan justru di sana yang tidak terdapat keadilan. Bukankah ini yang terjadi di negara kita hari ini? Artinya, warisan budaya suap ini sudah berlangsung sedemikian lama, dari generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah terputus. Orang akan berpikir pendek, mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman dunia, tapi mereka lupa bahwa keadilan pada suatu saat tidak lagi bisa dibeli ketika berhadapan dengan Tuhan sebagai Hakim.

Sikap menyuap ini adalah sebuah perbuatan yang sangat dibenci Tuhan. Tidak main-main, Tuhan menganggapnya sebagai sebuah penghinaan. “Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.” (Amsal 14:2) Bukan itu saja, suap pun digolongkan sebagai sebuah kekejian. “Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Di dunia mungkin kita bisa lolos, tetapi bisakah kita lolos dari hari penghakiman kelak? Adakah jumlah harta yang akan cukup untuk dipakai untuk menyogok Tuhan? Tentu tidak. Tuhan pada suatu hari akan menuntut pertanggungjawaban kita atas segala perbuatan yang pernah kita lakukan semasa hidup, dan disana tidak akan ada pemutarbalikan fakta yang mungkin untuk kita lakukan lagi. Paulus mengingatkan jemaat Roma: “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12), lalu Penulis Ibrani mengatakan “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Suap merupakan pelanggaran serius yang mampu membuat kita dihapuskan dari kitab kehidupan. Pengkotbah pun tahu bahwa hal ini pada saatnya nanti harus dipertanggungjawabkan. “Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.”(Pengkotbah 3:17).

Banyak orang menyepelekan pelanggaran suap menyuap ini. Bahkan sejak dulu pun demikian. Pengkotbah berbicara mengenai suap menyuap ini seperti yang kita baca di atas, lalu di masa Mikha pun kasus suap menjadi salah satu sumber kemurkaan Tuhan yang begitu menakutkan. Lihatlah betapa bobroknya perilaku para penegak hukum, imam bahkan nabi pada masa itu. “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: “Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mikha 3:11). Di Perjanjian Baru pun kita menemukan kisah mengenai percobaan suap yang dilakukan Simon, mantan penyihir terkenal. (Bacalah Kisah Para Rasul 8:4-25). Berulang-ulang kita melihat suap masih saja dilakukan, bahkan hingga hari ini, padahal jauh sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan dalam kitab Keluaran agar kita tidak melakukan pelanggaran suap menyuap ini. “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Keluaran 23:8).

Mengingat bahwa suap menyuap merupakan pelanggaran serius, marilah kita hari ini tidak tergoda untuk melakukannya. Baik menyuap maupun menerima suap, keduanya sama seriusnya, dan harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. Suap dalam bentuk apapun yang dilakukan pelaku atau penerima sama-sama merupakan penghinaan dan kekejian di hadapan Tuhan. Saya tahu memang sulit untuk hidup tanpa memberi uang pelicin atau suap dalam berbagai urusan di negara kita. Mungkin waktu kita akan tersita, mungkin urusan menjadi berbelit-belit dan lebih sulit, mungkin kesabaran kita pun akan diuji, but that’s okay! Itu jauh lebih baik daripada kita mendapat kesulitan di hari penghakiman kelak bukan? Saya sudah mulai melakukannya. Meski urusan menjadi lebih rumit dan sulit, namun ada sukacita tersendiri ketika saya berhasil membereskan urusan tanpa harus melakukan suap sama sekali. Jika kita bisa menyenangkan Tuhan dan perilaku jujur kita, kenapa tidak? Marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk mengatakan tidak kepada suap menyuap, karena jika bukan kita, siapa lagi?

Suap harus dihindari karena merupakan kekejian dan penghinaan di hadapan Tuhan

16 Des – Yes 54:1-10; Luk 7:24-30

“Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes

(Yes 54:1-10; Luk 7:24-30)


“Setelah suruhan Yohanes itu pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya." Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.” (Luk 7:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi bentara Penyelamat Dunia, bertugas mempersiapkan jalan untuk kedatangan Penyelamat Dunia. Para nabi pada umumnya memang cukup dikenal dengan ajaran-ajaran, tegoran-tegoran serta nasihat-nasihatnya, namun para pendengarnya tidak sampai bertindak seperti para pendengar Yohanes Pembaptis. Mereka yang mendengarkan pengajaran Yohanes Pembaptis kemudian ‘mengakui kebenaran Allah dan memberi diri dibaptis’, inilah yang membuat Yohanes Pembaptis sebagai yang terbesar yang pernah dilahirkan oleh seorang perempuan, kecuali Penyelamat Dunia. Dengan ini kami mengajak anda sekalian yang beriman kepada Yesus Kristus untuk dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan berusaha meneladan Yohanes Pembaptis, artinya melalui cara hidup dan cara bertindak kita orang tergerak untuk minta ‘dibaptis’. Maksud kami ‘dibaptis’ tidak hanya secara formal atau liturgis saja melainkan lebih-lebih dan terutama secara spiritual dan moral, yaitu orang semakin mempersembahkan diri seutuhnya dalam hidup sehari-hari melalui aneka pelayanan atau kesibukan. Dengan kata lain hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita dapat menjadi ‘pre-evangelisasi’, yaitu menjadi fasilitator bagi siapapun yang mendambakan untuk semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan apa yang jahat.


·   Yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, …. Ia disebut Allah seluruh bumi.” (Yes 54:5), demikian peringatan Yesaya kepada bangsanya, kepada kita semua umat beriman. Kutipan ini kiranya sering menjadi inspirasi bagi rekan-rekan perempuan yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui panggilan hidup membiara, dengan menyatakan diri sebagai ‘permaisuri atau penganten Tuhan’, maksudnya adalah orang yang sungguh bersatu dan bersama dengan Tuhan dimanapun dan kapanpun, dalam situasi dan kondisi apapun. Bersatu dan bersama dengan Tuhan mau tak mau pasti akan dikuasai atau dirajaiNya, karena Dia Yang Mahakudus dan yang menciptakan seluruh bumi seisinya. Maka baiklah kami mengajak anda sekalian: bagi rekan-rekan laki-laki marilah menjadi ‘isteri Tuhan’, sedangkan rekan-rekan perempuan menjadi ‘suami Tuhan’. Suami-isteri dalam mengawali hidup berkeluarga berjanji untuk saling mengasihi satu sama lain baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk mengasihi Tuhan sampai mati. Tuhan telah mengasihi kita secara luar biasa melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita, dan kiranya kita tak mungkin menghitung betapa besar, tinggi dan dalamnya kasih Tuhan kepada kita, maka selayaknya kita hidup penuh syukur dan terima kasih atas kasihNya yang melimpah ruah itu. Hidup penuh syukur dan terima kasih juga berarti hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak sombong dan tidak serakah. Ia adalah Allah seluruh bumi, maka diharapkan semua ciptaanNya, lebih-lebih manusia, hidup saling mengasihi sehingga terjadilah damai sejahtera di bumi ini. Marilah kita menyongsong pesta Natal dengan mengingat saudara-saudari kita atau kenalan dan sahabat kita. Kami percaya saat ini anda mulai merencanakan untuk mengirim ucapan damai Natal kepada rekan dan sahabat, entah dengan kirim kartu, hadiah barang, SMS, dst.., maka baiklah kita perhatikan saudara-saudari kita yang mungkin selama ini kurang diperhatikan.

 

TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.”

(Mzm 30:4-6)

Jakarta, 16 Desember 2010     

   

15 Des – Yes 45:6b-8.18.21b-25; Luk 7:19-23

“Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

(Yes 45:6b-8.18.21b-25; Luk 7:19-23)

 

“Ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata: "Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Luk 7:19-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari Raya Natal, kenangan akan kelahiran atau kedatangan Penyelamat Dunia semakin mendekat, dan kita kiranya dalam kesibukan persiapan untuk merayakan Hari Raya Natal. Persiapan macam apa saja yang telah kita lakukan agar kemudian kita tidak menjadi kecewa dan menolak kedatangan Penyelamat Dunia alias pesta atau kenangan Natal sungguh memberi makna bagi kehidupan iman kita? Persiapan secara phisik atau sosial mungkin perlu seperti latihan koor/drama natal, aksi natal dengan pengumpulan pakaian layak pakai/baru atau uang, rapat-rapat dst.., tetapi hemat saya persiapan secara spiritual lebih baik dan harus kita laksanakan. Persiapan secara spiritual berarti mengolah hati dan jiwa alias olah kebatinan, sehingga kita semakin mengandalkan atau mempersembahkan diri kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Kami percaya di lingkungan-lingkungan umat ada kegiatan pendalaman iman masa adven, entah dengan berdoa bersama, pembacaan kitab suci, sharing pengalaman iman, dst.., maka hendaknya diselenggarakan dengan sungguh-sungguh, tidak hanya dihayati secara liturgis atau formal belaka. Dengan rendah hati kita buka hati dan jiwa kita terhadap aneka macam informasi, pengalaman, sentuhan dan sapaan dari saudara-saudari kita, sebagai kepanjangan kasih dan perhatian Tuhan. Dengan kata lain marilah kita membina diri untuk tumbuh dan berkembang sebagai orang yang dikasihi. Ingat dikasihi berarti dicium, diperhatikan, dikritik, diejek, diberi hadiah/uang, ditegor keras, dst.. Dengan kata lain jika kita dengan rendah hati menghayati segala sapaan, sentuhan dan perlakuan orang lain terhadap kita sebagai kasih Tuhan, kami percaya kita tidak akan menjadi kecewa dan menolak kedatangan Penyelamat Dunia, termasuk sewaktu-waktu dipanggil Tuhan alias meninggal dunia.


·   “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yes 45: 6b-7). Bumi seisinya adalah ciptaan Tuhan dan hanya dapat hidup, tumbuh berkembang karena Tuhan. Kita, manusia adalah ciptaan terluhur dan termulia di bumi ini, karena kita diciptakan sebagai gambar atau citraNya, maka marilah kita hayati kebenaran iman ini. Sebagai gambar atau citra Tuhan cara hidup dan cara bertindak kita diharapkan menjadi penyalur kasih, rahmat atau anugerah Tuhan bagi sesama serta lingkungan hidup kita, sehingga siapapun yang melihat kita atau kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita semakin tergerak untuk berbakti sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan kata lain kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun menjadi ‘terang’ bagi orang lain, menjadi ‘fasilitator’ atau mempermudah orang lain dalam menghayati hidup beriman dan terpanggil. Orang tidak kecewa menerima kehadiran dan pelayanan kita, melainkan terkesan dan kemudian merindukan kembali kehadiran dan pelayanan kita. Sebagai gambar atau citra Tuhan kita diharapkan senantiasa dapat mengerjakan apa yang ada di depan kita dengan baik dan benar, maka hendaknya siapapun yang mendatangi kita atau kita layani sungguh dilayani dengan baik, dengan kata lain konsumen harus memperoleh kesan yang membahagiakan dalam pelayanan kita sehingga mereka menjadi pembantu kita dalam ‘marketing’ pelayanan atau pekerjaan kita. Mereka yang mendatangi kita atau kita layani memperoleh penerangan yang menggairahkan dan akhirnya dengan  bergairah pula mereka menceriterakan pengalamannya kepada sesamanya. Biarlah kita semua menjadi ‘terang’ bagi sesama dan senantiasa mujur dalam cara hidup dan cara bertindak kita.

 

“Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan” (Mzm 85:10-14)

Jakarta, 15 Desember 2010