20 Nov – Why 11:4-12; Luk 20:27-40

“Di hadapan Dia semua orang hidup."

(Why 11:4-12; Luk 20:27-40)


“Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali."Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.” (Luk 20:27-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Aneh dan nyata bahwa orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan orang mati bertanya kepada Yesus perihal kebangkitan orang mati. Orang-orang Saduki lebih bersikap mental materialistis, dengan kata lain hidup dan bertindak dengan mengandalkan yang materialistis saja atau harta benda duniawi, yang dipikirkan dan diperjuangkan hal-hal duniawi atau harta benda. Tanggapan Yesus atas pertanyaan orang-orang Saduki mengingatkan dan mengajak kita semua umat beriman untuk sungguh menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Beriman antara lain berarti percaya pada Penyelenggaraan Ilahi, Allah yang hidup dan berkarya terus menerus tanpa kenal batas ruang dan waktu, dengan kata lain dimanapun dan kapanpun senantiasa berada ‘di hadirat Allah’. Berada ‘di hadirat Allah’ pasti akan dikuasai atau dirajai oleh Allah, sehingga dalam situasi dan kondisi apapun senantiasa tetap bergairah dan dinamis, bergembira-ria. Berbagai macam tantangan, hambatan dan masalah kehidupan membangkitan gairah dan semangat hidup, dan dapat mengatasinya dengan baik, itulah salah satu cirikhas orang beriman. Sebagai suami-isteri beriman berarti dalam kondisi atau situasi apapun tetap saling mengasihi, sebagai anggota lembaga hidup bakti tetap membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah dan sebagai imam tetap menjadi penyalur rahmat/berkat Allah bagi manusia serta doa/dambaan umat manusia kepada Allah.


·   Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang yang melihat mereka menjadi sangat takut“(Why 11:11 ). Kutipan dari Kitab Wahyu ini mengingatkan dan mengajak kita umat beriman untuk percaya akan kebangkitan orang mati. Bagi orang yang sungguh beriman hidup di dunia ini hanya sementara saja, dan hidup mulia di sorga bersama Allah setelah meninggal dunia akan berlangsung selamanya. Pepatah Jawa mengatakan ‘Urip ing donya  iku koyo wong mampir ngombe’ = ‘Hidup di dunia itu bagaikan singgah minum sejenak’. Orang singgah untuk minum di perjalanan pada umumnya ‘to the point’, apa adanya, tidak aneh-aneh. Dengan kata lain selama hidup di dunia ini kita diharapkan tidak aneh-aneh, biasa saja, alias hidup sederhana atau bersahaja, tidak berfoya-foya. Maka dengan ini kami mengingatkan mereka yang sering suka berfoya-foya untuk bertobat, kembali ke hidup sederhana atau bersahaja. Tinggalkan keserakahan hidup anda, yang menyebabkan banyak orang menderita. Saya yakin jika kita hidup sederhana pasti tidak akan berbuat jahat, dan dengan demikian senantiasa berbuat baik dan berbudi pekerti luhur. Beriman memang juga berarti hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga setelah dipanggil Tuhan alias meninggal dunia akan hidup mulia selamanya bersama Allah di sorga. Hidup beriman berarti ‘roh kehidupan dari Allah’ menjiwai cara hidup dan cara bertindak, dan dengan demikian menghasilkan buah-buah roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22 -23); ia semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia selama hidup di dunia ini.

 

Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!”(Mzm 144:1-2)

 

Jakarta, 20 November 201

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: