2 Juli – Kej 27:1-5.15-19; Mat 9:14-17

“Anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula”

(Kej 27:1-5.15-19; Mat 9:14-17)

” Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.  Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.  Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya." (Mat 9:14-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Hati Tersuci SP Maria hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   SP Maria merupan pioneer Perjanjian Baru, pribadi yang dipilih oleh Allah dalam rangka mewujudkan janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia di seluruh dunia. Hari ini kita kenangkan hatinya yang tersuci, sehari setelah mengenangkan Hati Kudus Yesus. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita sebagai umat beriman meneladannya, antara lain dengan memperbaharui hati kita agar semakin suci. Dalam perjalanan hidup, tugas dan panggilan kita masing-masing, kita telah menerima aneka siraman rohani (nasihat, tegoran, perintah, ajaran, kritik dst..), yang menurut saya berfungsi untuk memperbaharui cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga hati kita juga semakin suci. Maka sabda Yesus agar ‘anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula’, hendaknya difahami dan dihayati sebagai peringatan atau ajakan bagi kita semua untuk memperbaharui diri terus menerus, senantiasa siap berubah, tentu saja berubah semakin baik, suci dan berbudi pekerti luhur, sehingga semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang abadi alias terus-menerus terjadi, tumbuh dan berkembang di dunia ini adalah perubahan, maka siapapun yang tidak siap sedia berubah pasti terlindas dan loyo. Kami berharap agar aneka sentuhan, sapaan dan perhatian dari orang lain disikapi dan dihayati sebagai kasih atau perhatian Allah, dan hendaknya tidak lewat begitu saja melalui diri kita, melainkan direnungkan dan diresapkan dalam-dalam, sehingga memperbaharui cara hidup dan cara bertindak kita. Marilah kita sebagai sahabat-sahabat Yesus, yang berarti juga menjadi putera-puteri SP Maria, meneladan ketaatan dan kesetiaan iman SP Maria, yang dijiwai dengan luapan hati tersuci, yaitu “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Semoga aneka perkataan saudara-saudari kita, sebagai wujud kasih sungguh terjadi dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   “Maka sekarang, ambilllah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati” (Kej 27:3-4), demikian kata Iskak yang telah lanjut usia, hampir mati, kepada anaknya, Esau. Apa yang dikatakan dan akan dilakukan oleh Iskak ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para orangtua maupun anak-anaknya. Anak-anak adalah rahmat atau berkat Tuhan, maka hendaknya orangtua senantiasa memberkati dengan sepenuh hati kepada anak-anaknya, mewariskan semuanya kepada anak-anak, sedangkan anak-anak hendaknya bersyukur dan berterima kasih dengan melakukan apa yang baik bagi orangtuanya. Hemat saya apa yang baik bagi orangtua, sebagaimana sering dikatakan oleh orang Jawa, yaitu “mikul dhuwur, mendhem jero asmane wong tuwo”, yang berarti menjunjung tinggi dan menghormati orangtua dengan sepenuh hati, sehingga orangtua sungguh berbahagia melihat anak-anaknya. Kebahagiaan sejati orangtua hemat saya ada pada keberhasilan atau kesuksesan anak-anak, yang tumbuh berkembang menjadi pribadi baik, berbudi pekerti luhur, bermoral, sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Maka dengan ini kami berharap kepada anak-anak untuk tidak mengewakan orangtua, semoga di masa tua orangtua kita masing-masing, kita sebagai anak sungguh dapat menjadi hiburan yang membahagiakan bagi orangtua. Marilah kita hayati aneka macam nasihat, petuah dan saran dari orangtua kita masing-masing, kita tanggap dambaan dan kerinduan orangtua, yang tidak lain agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa dalam iman.

“Pujilah nama Tuhan, pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, hai orang-orang yang datang melayani di rumah Tuhan, di pelataran rumah Allah kita! Pujilah Tuhan, sebab Tuhan itu baik, bermazmurlah bagi namaNya, sebab nama itu indah!” (Mzm 135:1-3)

Ign 2 Juli 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: