2 Apr – Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42

"Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."

JUMAT AGUNG : Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42


Ibadat hari Jumat Agung ini meliputi tiga bagian: (1) Liturgi Sabda dengan ‘Kisah Sengsara Tuhan’, (2) Penghormatan Salib, (3) Komuni, yang diselenggarakan pk 15.00; dan pada umumnya di pagi hari diselenggarakan Ibadat Jalan Salib. Puncak perhatian kita pada hari ini adalah “Yang Tersalib”, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan tiga sabda Yesus di puncak kayu salib sebagaimana akan kita dengarkan dalam Ibadat Sabda ‘Kisah Sengsara Tuhan’ menurut Injil Yohanes. Marilah memandang Dia yang tergantung di kayu salib sambil mendengarkan dan merenungkan sabda-sabdaNya ini.    

 

"Inilah ibumu!” (Yoh 19:27)

 

Bunda Maria yang telah mengandung dan melahirkan Yesus,  akhirnya juga menemani Yesus yang tergantung di kayu salib. Tanggapan Maria atas sapaan malaikat : “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”  menjadi nyata juga dalam partisipasi pada penyerahan Diri Yesus dengan wafat di kayu salib. Bunda Maria adalah teladan umat beriman, bunda kita, maka kita dipanggil untuk meneladan Bunda Maria yang menghayati “fiat voluntas tua ->  via dolorosa”, maka marilah kita mawas diri perihal panggilan kita masing-masing, sejak kita berjanji setia untuk menelusuri jalan hidup yang telah kita pilih sampai saat ini, misalnya sejak menjadi suami-isteri, sejak kaul akhir hidup membiara, sejak ditahbiskan menjadi imam, dst..

 

Dalam rangka menelusuri jalan hidup atau menghayati panggilan kiranya kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan, masalah, godaan, dst.. , sebagai konsekwensi ketaatan dan kesetiaan kita terhadap panggilan. Mungkin saat ini juga kita sedang menghadapi masalah, tantangan, hambatan atau godaan berat; jika memang demikian marilah kita memandang Dia yang tergantung di kayu salib, yang tidak mengeluh, menggerutu atau balas dendam terhadap mereka yang membuatNya menderita. Ingatlah dan sadari serta  hayati bahwa penderitaan yang kita alami karena masalah, tantangan, hambatan dan godaan tersebut rasanya tidak sebanding dengan penderitaan Yesus. Kami percaya jika kita sungguh memandang Yang Tersalib dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tubuh, kita pasti akan dikuatkan dalam menderita dan kemudian mampu menghadapi aneka tantangan, hambatan, masalah atau godaan tersebut dengan sukses. 

 

 "Aku haus!"(Yoh 19:28)

 

Orang yang mengeluh ‘haus’ berarti minta diberi minuman; dengan memberi minuman berarti mengurangi penderitaan yang bersangkutan. Kita dipanggil untuk ‘memberi minum kepada Yesus yang kehausan di kayu salib’, artinya meringankan beban penderitaanNya dengan berpartisipasi dalam penderitaanNya. Berpartisipasi dalam penderitaanNya antara dapat kita hayati dengan mempersembah-kan diri seutuhnya kepada saudara-saudari kita, lebih-lebih yang setiap hari bersama dengan kita, serta tugas pekerjaan kita masing-masing.

 

Pertama-tama saya mengingatkan dan mengajak para suami-isteri, yang kiranya telah memiliki pengalaman untuk saling mempersembahkan atau memberikan diri seutuhnya, antara lain dalam hubungan seksual, yang ada kemungkinan berbuahkan seorang anak, sebagai buah kasih, yang menggembirakan. Bukankah ketika sedang saling mempersembahkan diri tersebut juga mengalami kebahagiaan dan kenikmatan yang luar biasa? Saling mempersembahkan diri dengan penuh kegembiraan dan kegairahan itulah yang terjadi, saling memuaskan, dst.. Maka kami  berharap pengalaman tersebut hendaknya menjiwai cara hidup dan cara bertindak sehari-hari, entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat, yaitu dengan mempersembahkan diri pada anak-anak, tugas pekerjaan, kewajiban dst.. dengan gembira dan bergairah. Keteladanan anda akan mempengaruhi lingkungan hidup anda. Kita semua dipanggil untuk saling melegakan dan menghibur dalam hidup kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun, maka baiklah secara khusus kita perhatikan mereka yang sungguh membutuhkan kelegaan dan penghiburan, entah yang sedang sakit, menderita, kesepian, dst..

 

Minuman yang paling baik dan segar adalah ‘air putih’, yang sungguh menyegarkan. Disebut air putih kiranya air juga berfungsi untuk memutihkan alias membersihkan. ‘Memberi minum kepada Yesus yang kehausan’ berarti kita saling menyegarkan dan membersihkan. Kehadiran atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menyegarkan dan membersihkan lingkungan hidup, sehingga enak, nyaman, nikmat untuk didiami atau ditinggali.        

 

"Sudah selesai.” (Yoh 19:30)

 

Sudah selesai”  merupakan sabda Yesus yang terakhir, dan setelah bersabda demikian Ia menundukkan kepala dan menyerahkan nyawaNya, wafat. Kematian menyelesaikan segala-galanya itulah yang terjadi. Kita semua juga akan mati, entah kapan kita tidak tahu, karena kematian merupakan anugerah Tuhan, tergantung dari Tuhan. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk bertanya pada diri sendiri: “Siap-sediakah saya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan alias meninggal dunia?”. Mati adalah dipanggil Tuhan, maka bagi siapapun yang setiap hari senantiasa bergaul dan bersama dengan Tuhan alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur, pasti tidak takut sewaktu-waktu dipanggil Tuhan, bahkan pada detik-detik terakhir hidupnya ia sungguh ‘menundukkan kepada dan menyerahkan nyawanya’ alias tidak memberontak atau melawan ketika akan dipanggil Tuhan. Sebaliknya mereka yang jarang atau tidak pernah bergaul dan bersama dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka ketika akan dipanggil Tuhan pasti memberontak, sangat gelisah (dalam bahasa Jawa disebut ‘mecati’).

 

Orang yang baik dan berbudi pekerti luhur alias suci, setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia kiranya akan dikenangkan oleh banyak orang, sebagaimana penulis surat Ibrani mengenangkan Yesus:  Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,” (Ibr 5:7-9). Kita juga telah berpartisipasi dalam rangka mengenangkan orang baik dan suci, yaitu dengan mengenakan nama baptis pada nama kita masing-masing, maka baiklah kita meneladan santo-santa yang menjadi pelindung kita agar kita senantiasa siap-sedia dipanggil Tuhan sewaktu-waktu dan ketika dipanggil Tuhan tidak takut melainkan bergairah serta terenyum gembira. Biarlah kelak kemudian hari setelah kita meninggal dunia dapat menjadi pokok harapan, keselamatan bagi mereka yang mengenal kita atau pernah hidup bersama dengan kita.

 

“Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!”

(Mzm 31:12-13.15-17)

Jakarta, 2 April 2010 

   

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: