2 Agustus

“Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang melainkan yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan orang."

(Bil 12:1-13; Mat 15:1-2.10-14)

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang." Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?" Jawab Yesus: "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."(Mat 15:1-2.10-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yang masuk kedalam mulut antara lain makanan, minuman dan udara, sedangkan yang keluar dari mulut adalah kata-kata. Pada umumnya orang memasukkan ke mulutnya makanan, minuman dan udara yang sungguh menyehatkan dan menyegarkan seluruh tubuh, sedangkan yang kata-kata yang keluar dari mulutnya belum tentu menyelamatkan atau membahagiakan yang mendengarkannya. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat adalah orang-orang yang berpegang teguh pada rumus-rumus kata-kata dalam aneka tata tertib dan tertulis. Bagaimanapun apa yang tertulis sungguh terbatas dalam rangka menghayati cintakasih. Memang apa yang tertulis ditulis atas dasar cintakasih dan diberlakukan agar orang menghayati cintakasih, dengan kata lain yang diutamakan adalah cintakasih. Cintakasih tak terbatas, mengatasi aneka macam tata tertib yang tertulis. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita agar apa yang keluar melalui mulut kita membuat orang yang mendengarnya merasa dikasihi serta mendorong mereka untuk hidup dan bertindak saling mengasihi. Maka marilah kita berkata-kata  dengan sopan santun atau tatakrama yang berlaku di tempat kita berada, yang berarti sungguh menghormati dan menjunjung tinggi mereka yang mendengarkan kata-kata kita, menghargai harkat martabatnya sebagai manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. Hendaknya sopan santun dan tatakrama sedini mungkin dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari  orangtua. Sopan santun atau tatakrama yang telah dihayati kemudian dtingkatkan dan diperdalam menjadi norma moral, dimana orang hidup dan bertindak serta berkata-kata sesuai dengan hati nurani yang dijiwai oleh Tuhan.

·   Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” (Bil 112:1-3). Kutipan ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita: apakah kita seperti Miryam dan Harun yang irihati atau seperti Musa, “seorang yang sangat lembut hatinya”. Kami berharap kita semua sebagai orang beriman memiliki hati yang sangat lembut, tidak keras membatu. Orang yang berhati keras pada umumnya hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau nafsu pribadi, tertutup terhadap aneka pembaharuan maupun perkembangan, mudah sakit hati atau menyakiti hati orang lain. Sebaliknya orang yang berhati lembut terbuka terhadap aneka kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang serta diperbaharui, terbuka terhadap bisikan atau sapaan Roh Kudus, yang antara lain menggejala dalam kehendak baik sesama manusia. Kita semua memiliki hati, maka marilah kita bina dan perkembangkan agar hati kita lembut. Berhati lembut berarti juga rendah hati. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Rekan-rekan perempuan pada umumnya lebih lembut hatinya daripada rekan-rekan laki-laki, maka kami berharap kepada rekan-rekan perempuan untuk memperdalam kelembutan hatinya serta kemudian menyebarluaskan atau meneruskan kepada orang lain. Marilah kita belajar dan berdevosi pada Hati Yesus, yang lemah lembut dan rendah hati.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu” (Mzm 51:3-6)

Ign 2 Agustus 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: