1Juli – Am 7:10-17; Mat 9:1-4

"Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?”

(Am 7:10-17; Mat 9:1-4)

 

“Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?” (Mat 9:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang ahli Taurat pada masa kini antara lain para ahli kitab suci, ahli hukum/aturan, dst… lebih-lebih para ahli hukum. Mengapa? Perhatikan saja dalam berbagai macam persidangan atau rapat dimana para ahli hukum senantiasa berusaha melihat dan mengangkat kekurangan, kejahatan dan kelemahan orang lain guna menjatuhkan orang lain dan memenangkan dirinya sendiri. Apalagi ahli hukum yang telah memperoleh pesan sponsor alias diberi uang pelicin atau sogokan pasti berusaha mati-matian, bekerja keras untuk berpikiran jahat terhadap yang lain. Apa yang terjadi di dalam persidangan memang saling menyalahkan, dan dengan demikian memang sungguh melelahkan serta memboroskan waktu, tenaga dan dana/uang. Kami harapkan di dalam hidup sehari-hari gaya hidup dan kerja di persidangan tersebut tidak terjadi, dimana orang senantiasa berpikiran jahat di dalam hatinya. Sabda Yesus hari ini kiranya baik kita renungkan dan refleksikan secara mendalam, artinya kita tanggapi dengan sepenuh hati. Marilah kita buang pikiran jahat di dalam hati kita masing-masing serta senantiasa berusaha berpikiran baik di dalam hati kita masing-masing. Orang yang berpikiran jahat berarti hidup bersama setan atau roh jahat, dan dengan demikian memang menjadi ahli kejahatan, sedangkan orang yang berpikiran baik berarti hidup bersama dengan Roh Kudus atau Tuhan, dan dengan demikian menjadi ahli atau pakar kebaikan, senang berbuat baik kepada sesamanya. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk senantiasa saling berbuat baik satu sama lain, dan hal itu antara lain dapat dimulai dan didasari oleh hati yang senantiasa berpikiran baik. Kami percaya di dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada yang jahat, maka marilah kita saling mengangkat dan mewujudkan apa yang baik di dalam diri kita masing-masing.

·   "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu. Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau. Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir. Pembaringanku telah kutaburi dengan mur, gaharu dan kayu manis” (Am 7:14-17), demikian ungkapan seorang perempuan sundal alias pelacur. Saya kira seorang pelacur yang baik senantiasa berusaha dengan keras membahagiakan dan menyenangkan tamu-tamunya atau mereka yang mendatanginya; ia akan memberi pelayanan dalam bentuk apapun kepada para tamunya. Maka dalam sebuah seminar yang saya hadiri ada seorang pembicara (ibu) yang dalam ceramahnya ada selingan dan saran :”Para ibu atau isteri hendaknya belajar dari para pelacur bagaimana cara membahagiakan dan menyenangkan suaminya”. Tentu saja bukan saran atau nasihat bagi para ibu untuk melacurkan diri, melainkan gaya dan sikap hidup membahagiakan dan menyenangkan orang lain. Rasanya kita semua mendambakan dan merindukan hidup bahagia dan senang, maka marilah kita dengan segala upaya serta bantuan rahmat Tuhan berusaha saling membahagiakan dan menyenangkan satu sama lain dimanapun dan kapanpun serta dalam kondisi dan situasi apapun. Ingat bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus, Warta Gembira dan Pewarta Gembira, berarti kita dipanggil untuk meneladanNya dengan menjadi pawarta gembira. Kehadiran  dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun hendaknya menggembirakan dan menyenangkan, sehingga memberdayakan orang lain untuk semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi. Tidak ada alasan untuk tidak gembira bagi yang beriman kepada Tuhan.

 

“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mzm 19:8-11)..

       

Jakarta, 1 Juli 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: