SATU mukjizat lama namun anyar baru ‘dibuka’ untuk publik telah ‘mengantar’ proses beatifikasi untuk Paus Paulus VI, penerus Tahta Suci pasca Santo Paus Yohannes XXIII dan sebelum Santo Paus Yohannes Paulus II dengan ‘sela antara’ the Smiling Pope Paus Yohannes Paulus I.

Kanonisasi ini terjadi setelah Vatikan –atas izin Paus Fransiskus—berhasil menyelidiki kebenaran peristiwa mukjizat penyembuhan yang terjadi atas ‘anak yang tidak diharapkan’ di sebuah wilayah di Amerika Serikat tahun 2001 silam.

Lahir dengan nama Giovanni Battista Montini tanggal 26 September 1987 di Concesio, Italia, Paus Paulus VI adalah orang yang berjasa bagi Gereja Katolik karena pada zaman beliau memimpin Tahta Suci inilah terjadi perubahan radikal dalam Gereja sebagai ‘dampak politis, teologis, sosial’ Konsili Vatikan II.

Paus Paulus VI meninggal dunia di Istana Kepausan Musim Panas di Castel Gandolfo tanggal 6 Agustus 1978. Adalah Paus Benedictus XVI –pendahulu Paus Fransiskus—yang pertama kali secara resmi ‘mengakui’ jejak-jejak kekudusan Paus Paulus VI ini pada tanggal 20 Desember 2012.

Mukjizat janin
Peristiwa mukjizat itu ‘menimpa’ calon bayi yang masih berwujud janin pada umur lima bulan, masih dalam kandungan. Janin itu diketahui dalam kondisi kritis, setelah terjadi ‘pecah’ di saluran bladder hingga hanya ada dua kemungkinan: segera mati atau kalau bisa terus hidup akan terlahir cacat fisik dan mental.

Aborsi adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa ibu yang mengandung ‘anak yang tidak diharapkan’ ini.

Paus Paulus VI tandu di keramaian

Masih ditandu: Salah satu ciri feodal dan ningrat Gereja Katolik pada zaman itu adalah kemana-mana Paus selalu ditandu. Secara perlahan-lahan, Paus Paulus VI menghilangkan tradisi feodal ini.

Ternyata sang ibu menolak melakukan pengguguran kandungan. Atas saran seorang suster berdarah Italia yang sebelumnya dia kenal, sang ibu ini lantas berkanjang dalam doa minta ‘penyembuhan’ atas bayi yang dikandungnya ini melalui perantaraan Paus Paulus VI atau Kardinal Giovanni Battista Mantini.

Ternyata, ada perkembangan menakjubkan terjadi dalam proses kandungan ini. Bayi itu terselamatkan dan akhirnya terlahir secara prematur pada umur delapan bulan dengan operasi Caesar.

Bayi ini kini sudah berubah menjadi manusia remaja. Nama dan identitasnya masih dirahasiakan. Hidupnya juga berjalan sangat-sangat normal dan biasa.

Reformator Gereja

Meski kurang begitu ngetop dibanding penerusnya –Yohannes Paulus II—sejatinya Paus Paulus VI ini adalah reformator Gereja yang tangguh. Dari tangan beliau terbit dokumen penting yakni Lumen Gentium (tentang Gereja), Sacrosanctum Concilium (tentang liturgi) Gaudium et Spes (Gereja dalam dunia modern), Unitatis Redintegratio (tentang ekumenisme), Dignitatis Humanae (kebebasan beragama).

Dari tangan Paus Paulus VI inilah lahirlah lembaga Sinode Para Uskup hasil besutan tahun 1965, Komisi Komunikasi Sosial (tahun 1964), Komisi Kerawam (1967), Komisi Keadilan dan Perdamaian, Sekretariat untuk Kelompok Non-Kristiani (1964) dan kemudian untuk Kelompok Non-Agamis (1965), dekrit Cor Unum (1971), dan Komisi Internasional Teologi (1969).

Pope Paul VI and Athenagoras Greeting

Pertemuan menentukan: Usai bertemu di Yerusalem, Tahta Suci lalu mencabut keputusan yang selama berabad-abad lamanya ‘memusuhi’ kelompok Kristen Ortodoks dan mulailah semangat ekumenis dibangun.

Salah satu babak sejarah penting yang berhasil dia torehkan adalah pertemuan akrabnya dengan Patriark Athenagora di Yerusalem saat mereka berdua berkunjung di Tanah Suci tahun 1964 untuk merintis jalan bagi komunikasi dan hubungan ekumenis antara kelompok katolik dan ortodoks. Setahun setelah pertemuan damai di Yerusalem ini, Tahta Suci dengan resmi mencabut ‘status’ ekskomunikasi bagi kelompok Kristen ortodoks yang telah berlangsung berabad-abad sejak tahun 1054.

Sejak itu, mulailah era persahabatan baru antara kelompok Kristen protestan dan Katolik.

Menjual tiara demi kaum papa
Langkah yang mengejutkan adalah keputusannya untuk ‘menjual’ mahkota kepausan yakni tiara dan kemudian hasil penjualannya itu dia berikan untuk karya sosial khusus untuk kaum papa. Paus Paulus VI juga memutuskan menjual mobil kepausan dan hasil dananya diserahkan untuk Ibu Teresa di Kalkuta, India. Itu dia lakukan sebelum akhirnya berhasil menemui Ibu Teresa dalam perjalanan dinas ke India tahun 1964.

Paus Paulus VI tiara

Paus dengan topi ‘tiara’ kepausan yang terakhir.

Pada tahun 1966, Paus Paulus VI resmi membekukan keputusan Vatikan atas daftar larangan terhadap buku-buku yang selama itu dianggap ‘membahayakan’ iman kristiani.

Tahun 1968, dia memperbaharui semangat internal dalam tubuh Gereja dari gaya ningrat menjadi biasa. Pada tahun 1970 –persis peringatan 100 tahun jatuhnya kota Roma—Paus ‘membubarkan’ gaya militeristik “Pasukan Vatikan” dan selanjutnya Garda Swiss hanya ‘bersenjatakan’ secara simbolik dengan tombak.

Juga jasa Paus Paulus VI yang berani memutuskan adanya Hari Perdamaian Dunia pada tahun 1967 dan baru setahun kemudian hal itu bisa dirayakan. Pada malam Vigili Natal tahun itu di Taranto, Paus Paulus VI mengajak seluruh anggota Gereja untuk kembali memperlihatkan sikap persahabatan dengan kaum buruh.

Populorum Progressio terbit tahun 1967 dan Humanae Vitae terbit tahun 1968 adalah karya Paus Paulus VI.

Yang pertama bicara tentang harkat martabat manusia tidak bisa diukur hanya dari perkembangan ekonomi. Martabat manusia adalah persoalan global. Yang kedua bicara tentang kontrasepsi.

Sumber: Papa: Paolo VI sarà beatificato il 19 ottobre

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.