19 Okt

 “Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."

(Rm 6:12-18; Luk 12:39-48)

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhaern, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Masing-masing dari kita memiliki tugas pengutusan atau kewajiban yang berbeda satu sama lain, tergantung dari fungsi atau jabatan atau pekerjaan kita masing-masing. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita bahwa apapun yang menjadi tugas pengutusan atau kewajiban kita hendaknya dilaksanakan atau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bekerja keras agar selesai pada waktunya. Ada runmor “Jika orang merasa memiliki banyak uang maka yang bersangkutan akan boros uang, jika orang merasa memiliki banyak waktu, maka yang bersangkutan akan boros waktu alias bekerja seenaknya sambil bermalas-malasan”. Marilah kita renungkan sabda Yesus ini, yaitu “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak diituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut”. Berapa banyak kita diberi atau dipercayakan marilah kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, selesai pada waktunya atau sebagaimana diharapkan. Ingatlah dan hayatilah bahwa pertanggungjawaban dari apa yang kita lakukan akan dilakukan sewaktu-waktu, dan kita tahu tahu persis kapan waktunya, sebagaimana kita juga tidak tahu kapan akan meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Baiklah kita usahakan jika sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia tidak meninggalkan beban atau masalah kepada mereka yang kita tinggalkan, karena semuanya sudah kita laksanakan atau kerjakan dengan baik, tuntas dan selesai.

·   Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Rm 6:13), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua segenap umat beriman atau beragama. Kita dipanggil untuk memfungsikan anggota-anggota tubuh kita sebagai senjata kebenaran untuk melakukan apa yang benar, baik dan mulia, sesuai dengan kehendak Tuhan. Hendaknya jangan memfungsikan anggota tubuh kita untuk berdosa, entah itu berarti menyakiti orang lain atau menjual diri sebagai pemuas nafsu seks kepada orang lain. Ingatlah dan hayati bahwa tubuh kita adalah ‘bait Allah’, Allah hidup dan berkarya dalam tubuh kita yang lemah dan rapuh ini. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang dengan mudah mencemarkan anggota-anggota tubuh, entah secara aktif maupun pasif, untuk bertobat. Secara khusus saya mengajak dan mengingatkan rekan-rekan muda-mudi untuk senantiasa menjadi semua anggota tubuh tetap suci, tidak tercemar sedikitpun. Kepada mereka yang dianugerahi kecantikan atau ketampanan, kami harapkan hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih, tidak menghadirkan atau menampilkan sedemikian rupa sehingga merangsang orang lain melakukan dosa. Dengan kata lain hendaknya kecantikan atau ketampanan tidak untuk dijual-belikan atau dikomersielkan. Entah laki-laki atau perempuan ketika melihat lawan jenisnya yang cantik atau tampan, hendaknya langsung memuji dan bersyukur kepada Tuhan, bukan untuk menguasainya melainkan melayaninya, artinya tidak pernah melukai sedikitpun.

” Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, — biarlah Israel berkata demikian –jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu. Terpujilah TUHAN yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka!” (Mzm 124:1-6)

Ign 19 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply