19 Okt – Ef 2:12-22; Luk 12:35-38

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala”.

(Ef 2:12-22; Luk 12:35-38)

 

"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka” (Luk 12:35-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Apa gunanya ikat pinggang? Ketika pertanyaan ini saya sampaikan dalam suatu retret bersama yang saya dampingi, ada tanggapan cepat dan spontan, yaitu “untuk menahan celana agar tidak melorot”. Menanggapi jawaban tersebut secara spontan dan cepat saya katakana “kalau demi celana tidak melorot pakai ikat pinggang rafia atau tali tampar saja, lebih murah dan praktis”. Rasanya fungsi ikat pinggang pertama-tama dan terutama adalah untuk memperlihatkan postur tubuh kita sedemikian rupa sehingga menarik dan mempesona, terutama bagi rekan-rekan perempuan.  Maka sabda Yesus ‘Hendaknya pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala’  kiranya dapat kita fahami bahwa kita senantiasa dipanggil untuk menghadirkan diri sedemikian rupa, sehingga menarik, menawan dan mempesona bagi orang lain, menjadi daya tarik dan daya pikat bagi orang lain untuk semakin terbuka pada kehendak Allah. Maka kehadiran kita dimanapun dan kapanpun selain diwujudkan dengan penampilan postur tubuh, hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita juga menarik, menawan dan mempesona bagi orang lain untuk semakin beriman. Cara hidup dan cara bertindak kita menyinarkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan sebagai buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Hendaknya dimanapun dan kapanpun kita senantiasa siap sedia dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk berbuat baik kepada orang lain


·   Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan” (Ef 2:19-21), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus. Kebersamaan hidup kita hendaknya senantiasa ‘di dalam Allah, sehingga bagaikan bangunan yang rapi tersusun, menjadi bait Allah’. Tentu saja pertama-tama dan terutama tubuh kita sendiri yang memiliki begitu banyak anggota dan telah tersusun rapi oleh Allah, Sang Pencipta. Setiap anggota berada pada tempatnya dan memiliki fungsi masing-masing demi keselamatan dan kesehatan seluruh tubuh. Maka kami berharap senantiasa memfungsikan anggota-anggota tubuh kita, misalnya kaki, tangan, mata, telinga, dst.. di dalam Allah artinya untuk melakukan apa yang baik dan menyelamatkan baik tubuh maupun jiwa, sehingga tubuh kita layak menjadi ‘bait Allah’. Selanjutnya kami mengajak dan mengingatkan kebersamaan hidup di dalam keluarga atau komunitas. Kebersamaan hidup di dalam keluarga atau komunitas hendaknya terjadi.sedemikian rupa, sehingga menarik, mempesona dan memikat siapapun untuk mendekat dan mendatangi. Maka hendaknya diusahakan adanya kesatuan hati dan budi di dalam hidup bersama, meskipun apa yang dilakukan atau dikerjakan berbeda sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan masing-masing. Jika masing-masing keluarga atau komunitas dapat demikian adanya, maka hidup bersama di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga akan menarik, mempesona dan memikat. Keadilan dan damai sejahtera yang menjadi dambaan semua orang menjadi nyata atau terwujud. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat mengusahakan kesatuan hati dan budi, sehingga semua orang sungguh menjadi kawan sewarga, bukan orang asing atau pendatang lagi.

 

“Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan

(Mzm 85:10-14)

Jakarta, 19 Oktober 2010

  

 

         

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: