19 Mei – Kis 13:13-25; Yoh 13:16-20

“Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus ia menerima Aku”

(Kis 13:13-25; Yoh 13:16-20)

 

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini kita diingatkan untuk mawas diri sebagai orang yang ‘menerima’. Kita dipanggil untuk saling mengasihi, yang berarti saling memberi dan menerima, mengasihi dan dikasihi. Pada kesempatan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri sebagai yang menerima atau dikasihi. Hemat saya kebanyakan orang masa kini sulit untuk siap sedia dikasihi, maunya mengasihi terus menerus. Ingat dan sadari bahwa kasih tidak selalu nikmat di hati, jiwa, akal budi atau tubuh! Bukankah ketika orangtua atau guru menegor, memarahi, mengritik dst.. anak-anak atau peserta didik merupakan wujud kasih? Masing-masing dari kita dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini karena dikasihi, dan entah berapa ribu orang yang telah mengasihi kita kiranya tak sempat atau tak mungkin terhitung. Kami berharap kepada kita semua untuk menghayati aneka sapaan, sentuhan, perlakuan dari saudara-saudari kita sebagai kasih. Marilah kita kenangkan masa balita kita masing-masing yang sarat dengan kasih: disusui ibu, dicium, dimandikan, diberi makan, dipeluk, digendong dst.. , agar kita dapat menghayati semuanya sebagai kasih. Ketika dimarahi, ditegor, dikritik, diejek atau dilecehkan hendaknya dijawab dengan singkat ‘terima kasih’. Karena kita semua telah menerima kasih dengan melimpah ruah, maka selayaknya kita hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, dengan rendah hati siap sedia untuk dikasihi oleh siapapun. Maaf, kiranya rekan-rekan perempuan atau ibu lebih mudah menghayati diri sebagai ‘yang dikasihi’ daripada laki-laki , yang antara lain dalam hubungan seks pihak perempuan menerima ‘sperma’ laki-laki, dan rasanya dalam saling menagsihi dalam bentuk lainpun rekan perempuan lebih menerima daripada laki-laki, yang pada dasarnya siap menyerang.

·   "Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur umat ini, silakanlah!" (Kis 13:15), demikian ungkapan orang yang siap sedia untuk menerima atau dikasihi. Baiklah kutipan diatas ini menjadi pegangan atau pedoman cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang beriman. Masing-masing dari kita perlu dibangun atau ditumbuh-kembangkan terus menerus, dihibur dan digembirakan. Dengan kata lain masing-masing dari kita diharapkan memiliki sikap mental untuk belajar terus-menerus, ongoing education/ongoing formation.  Hendaknya apa-apa yang baru disikapi sebagai kesempatan emas untuk belajar,  misalnya saudara baru, tugas baru, tempat tinggal baru, sarana-prasarana baru dst… Perkenankan disini saya mengajak dan mengingatkan anda semua yang secara formal telah selesai belajar dan memperoleh gelar sarjana dst.., serta pada saat ini sudah bekerja. Kami berharap menghayati pekerjaan anda apapun sebagai kesempatan belajar terus menerus, dengan kata lain kami berharap anda semakin lama semakin terampil dan cekatan dalam tugas atau pekerjaan anda masing-masing  Marilah kita saling membangun dan menghibur terus menerus dimanapun dan kapanpun. Kami berharap kita tidak saling merusak dan menghancurkan, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang serakah, entah merusak lingkungan hidup maupun tubuhnya sendiri. Marilah kita hayati bahwa tubuh kita adalah ‘tahta Roh Kudus’ agar kita dengan baik merawat tubuh kita masing-masing dan kita saling bersembah-sujud dan saling merawat. Marilah kita hayati bahwa tubuh kita merupakan karya pembangunan atau penghiburan Allah, gambar atau citra Allah, agar kita tidak merusak tubuh kita. Hendaknya kita fungsikan semua anggota tubuh kita untuk belajar terus menerus, sebagaimana Allah terus menerus hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

 

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit” (Mzm 89:2-3)

 

Ign 19 Mei 2011


Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: