19 Juni – 2Taw 24:17-25; Mat 6:24-34

“Hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian”

(2Taw 24:17-25; Mat 6:24-34)


“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:24-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup, makanan dan pakaian rasanya dapat menjadi symbol hirarki nilai, yaitu: nilai moral, nilai hukum dan nilai sopan santun. Yang paling tinggi dan utama adalah nilai moral, perihal baik atau buruk, maka marilah kita senantiasa mengusahakan diri menjadi pribadi yang baik atau bermoral, orang yang memiliki kebiasan berbuat baik kepada sesamanya. Memang untuk masa kini menjadi pribadi baik atau berbuat baik akan menghadapi kesusahan atau penderitaan, antara lain dapat dicurigai atau dihambat. Jika kita baik dan melakukan apa yang baik, hendaknya tidak kuatir atau takut dalam menghadapi kesusahan atau penderitaan, karena entah penderitaan atau kesusahan merupakan jalan untuk memperdalam dan memperkuat apa yang baik di dalam diri kita. Asal kita baik dan senantiasa berbuat baik kepada orang lain, percayalah kita tak akan berkekurangan dalam hal makanan maupun pakaian, tentu saja tidak perlu yang mewah atau berfoya-foya. Dalam hal makanan dan minuman kami harapkan untuk menyantap makanan dan minuman yang sehat dan bergizi dalam rangka menjaga hidup kita tetap bugar dan segar. Marilah kita imani Allah yang senantiasa mendampingi dan membekali perjalanan hidup dan panggilan kita.

·   "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Ia pun meninggalkan kamu!" (2Taw 24:20), demikian kata Zakharia, yang penuh dengan Roh Allah, kepada rakyat. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita sebagai orang beriman juga sering disebut sebagai umat Allah, artinya umat milik Allah. Hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai kita, yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Allah, maka selayaknya kita tidak pernah melupakan Allah di dalam hidup sehari-hari. Memang jika kita mendambakan hidup sejati pada masa kini maupun di akhirat nanti, kita hendaknya senantiasa melaksanakan kehendak Allah, setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan. Maka tak henti-hentinya kami mengingatkan pentingnya setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan, entah itu janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji kepegawaian/pelajar, dst.. Sebagai yang telah dibaptis marilah kita senantiasa setia pada janji baptis, dimana kita pernah berjanji untuk hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Mengabdi Tuhan secara konkret berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui saudara-saudari kita, maka marilah dengan rendah hati kita senantiasa berusaha membahagiakan orang lain dimanapun dan kapanpun, alias menjadi orang baik dan berbudi pekerti luhur. Kami juga berharap kepada kita semua untuk tidak takut dan tidak gentar meneladan Zakharia, yaitu mengingatkan dan menegor saudara-saudari kita yang meninggalkan atau melupakan Tuhan untuk bertobat. Jika kita tidak mengingatkan saudara-saudari kita berarti kita mendukung atau menyetujui mereka.

 

“Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku, jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku.” (Mzm 89:31-34)

 

Jakarta, 19 Juni 2010

     

  

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: