19 Juli

"Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu!”

(Kel 14:21-15:1; Mat 12:46-50)

” Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 12:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   KKN = Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, itulah yang sering disebut sebagai sumber kehancuran hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk juga sering terjadi dalam hidup menggereja dengan semua pelayanan pastoralnya. Hemat saya kolusi dan nepotisme tidak apa-apa alias baik saja asal tidak korupsi. Koruptor tidak layak disebut sebagai ‘saudara atau ibu Yesus’. Yang dimaksudkan dengan ‘saudara dan ibu Yesus’ hemat saya adalah orang yang baik dan berbudi pekerti luhur, tidak berbuat jahat sedikitpun, antara korupsi yang masih marak di negeri tercinta ini. Melakukan korupsi berarti membuat busuk hidup bersama, dan dengan demikian hidup bersama tidak enak dan tidak nikmat lagi. Maka dengan ini kami mengajak dan menngingatkan segenap umat beriman untuk sungguh menghayati imannya di dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun, hidup dan bertindak dengan berbudi pekerti luhur, yang antara lain memiliki cirikhas sebagai berikut: “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggangrasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tetap janji,  terbuka, ulet” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal ix-xi). Dari cirikhas tersebut di atas kiranya yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini adalah jujur. Maka marilah kita jujur terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan hidup kita, dst..

·   ” Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.” (Kel 14:31). Musa adalah utusan Tuhan untuk menuntun bangsanya kembali ke tanah terjanji, maka marilah kita juga percaya kepada utusan-utusan Tuhan masa kini. Hemat saya semua orang yang berkehendak baik adalah utusan-utusan Tuhan, yang mengajak dan membantu kita untuk senantiasa berbuat baik, hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Maka marilah kita saling melihat, mendengarkan dan mengimani kehendak baik yang ada dalam diri kita masing-masing, serta kemudian kita sinerjikan kehendak baik kita untuk bersama-sama menuju ke ‘tanah terjanji’. Kiranya kita semua mendambakan kembali ke tanah terjanji, yaitu setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan kita langsung menikmati hidup mulia atau berbahagia selamanya di sorga bersama Tuhan, serta para santo-santa yang menjadi pelindung kita masing-masing, yang telah mendahului kembali ke sorga. Maka sekiranya layak dan baik jika masing-masing dari kita juga mengenal secara mendalam santo atau santa yang menjadi pelindung kita, yang menandai nama baptis kita. Marilah kita meneladan cara hidup dan cara bertindaknya ketika mereka masih hidup di dunia ini. Secara khusus kami mengajak dan mengingatkan segenap anggota lembaga hidup bakti untuk sungguh mengenal dan memahami serta menghayati charisma pendiri lembaga hidup bakti masing-masing. Hendaknya antar anggota lembaga hidup bakti sungguh terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati, dan tentu saja dengan sesama anggota lembaga hidup bakti yang lain demikian juga, karena para pendiri lembaga hidup bakti menghidupi dirinya dari sumber yang satu, yaitu Yesus Kristus. Semoga kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus merupakan kebersamaan hidup yang penuh dengan persaudaraan atau persahabatan sejati, dan kita semua adalah sahabat serta layak disebut sebagai sahabat Yesus.

“Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut. Kata musuh: Aku akan mengejar, akan mencapai mereka, akan membagi-bagi jarahan; nafsuku akan kulampiaskan kepada mereka, akan kuhunus pedangku; tanganku akan melenyapkan mereka! Engkau meniup dengan taufan-Mu, laut pun menutupi mereka; sebagai timah mereka tenggelam dalam air yang hebat” (Kel 15:8-10)

Ign 19 Juli 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: