19 Juli – Mi 6:1-4.6-8; Mat 12:38-42

"Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda.”

(Mi 6:1-4.6-8; Mat 12:38-42)

 

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” (Mat 12:38-42),demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang iri dan tersaing pada umumnya dengan berbagai cara berusaha menyingkirkan saingannya, agar kejahatannya tidak nampak maka diusahakan cara-cara yang halus, sebagaimana dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus. Mereka dengan halus minta tanda kepada Yesus bahwa Yesus adalah Almasih, Sang Penyelamat yang telah dijanjikan. Yesus tidak secara langsung menanggapi pertanyaan mereka, melainkan Ia mengangkat kisah Yunus. Kisah Yunus merupakan symbol kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia. Sebagai orang beriman mungkin kita juga sering menerima pertanyaan halus, yang bersifat menjebak atau menjatuhkan kita, dari orang lain yang kurang senang atau merasa terganggu oleh kehadiran kita. Sebagai contoh sebagai orang Kristen, entah Kristen Protestan atau Kristen Katolik, sering menerima pertanyaan dari orang lain, misalnya: “Bagaimana anda dapat menjelaskan bahwa ada 3 (tiga) Allah: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus? Apakah anda masih mototheis?”. Jika anda menerima pertanyaan yang bersifat menjebak atau menghacurkan iman kita, hendaknya tidak dijawab dengan susah payah (dan mungkin anda juga tak mungkin menjelaskan), maka jawab saja, misalnya “Tuhan khan mahasegalanya, Ia berpribadi seribu, seratus atau…, kita toh tak mungkin mengetahui dengan utuh dan logis. Jika kita mengetahui atau menguasai siapa itu Allah/Tuhan secara logis saja, jangan-jangan kita berada di atas Tuhan”. Beriman memang berarti mempercayakan atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada sesuatu yang tak mungkin kita mengerti atau fahami sepenuhnya.

·   "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mi 6:8). Kita diingatkan untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati. Keadilan yang paling mendasar hemat saya adalah hormat terhadap harkat martabat manusia, manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. “Sikap adil adalah perilaku yang tidak berat sebelah dalam mempertimbangkan keputusan, tidak memihal dan menggunakan standar yang sama bagi semua pihak” (Prof Dr Edi Seedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur , Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 25), “setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (ibid. hal 24), sedangkan “rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan diri” (ibid hal 24). Baiklah tiga tiga keutamaan atau nilai kehidupan di atas kita hayati setiap hari dimanapun dan kapanpun, dan kiranya pertama-tama dan terutama di keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua/bapak-ibu. Yang mungkin mendesak dan up to date masa kini kiranya kesetiaan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang kurang atau tidak setia pada panggilan atau tugas pengutusannya dan ada kecenderungan untuk hidup dan bertindak mengikuti keinginan atau kemauan pribadi saja. Para bapak-ibu atau suami-isteri kami harapkan dapat menjadi teladan dalam hal kesetiaan, sebagaimana pernah diikrarkan ketika mengawali hidup berkeluarga, yaitu setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati.

 

"Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!" Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim.  Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu” (Mzm 50:5-6.8-9)

Jakarta, 19 Juli 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply