19 Feb – Ibr 11:1-7; Mrk 9:2-13

“Betapa bahagianya kami berada di tempat ini”
(Ibr 11:1-7; Mrk 9:2-13)

“Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus  seorang diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.”(Mrk 9:2-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Di dalam psikologi agama dikenal adanya pengalaman mempesona (‘fascinosum’) dan menghentak (‘tremendum’). Entah pengalaman mempesona atau menghentak pada umumnya akan mempengaruhi hidup orang yang mengalami, bahkan yang mengalami sering kemudian menyatakan niat atau kehendak tertentu. Tiga rasul: Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami hiburan rohani yang mendalam atau pengalaman ‘fascinosum’ di sebuah gunung dan kemudian mereka akan membuat sesuatu. Dalam perjalanan turun gunung Yesus berpesan kepada mereka agar mereka tidak menceriterakan pengalaman tersebut ‘sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati’. Dari peristiwa di gunung ini sampai bangkit dari antara orang mati Yesus harus menghadapi aneka penderitaan dan tantangan, dan para murid belum siap sepenuhnya diajak menghadapi penferitaan dan tantangan tersebut. Kita semua kiranya pernah memiliki pengalaman mempesona dalam perjalanan hidup kita, misalnya saat melakukan latihan rohani atau retret, saat saling menerimakan sakramen perkawinan, ditahbiskan menjadi imam atau kaul kekal/akhir, dst.. Kami percaya pada saat-saat macam itu dari kedalaman lubuk hati kita muncul niat atau cita-cita mulia dan indah, meskipun belum tahu persis bagaimana mewujudkan niat atau cita-cita tersebut. Namun demikian baiklah kami mengingatkan kita semua: ketika kita berada dalam keadaan lesu, frustrasi dan takut dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan, marilah kita kenangkan atau hadirkan kembali pengalaman mempesona tersebut, agar kita tetap bergariah, ceria dan dinamis dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan.


•    “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”(Ibr 11:1). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita sebagai umat beriman. Sebagai umat beriman kita diharapkan dalam dan dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan. Salah satu perintah Tuhan bagi kita adalah ‘saling mengasihi satu sama lain’, maka marilah kita hidup saling mengasihi dengan siapapun dan dimanapun, karena kita semua mengakui diri sebagai orang beriman. Kita juga diingatkan bahwa iman adalah ‘bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat’.  Kami percaya kita semua memiliki pengalaman ini, misalnya ketika sedang menikmati makanan enak. Bukankah kita tidak pernah mau tahu atau melihat jenis dan macam apa saja bumbu-bumbu  masak  yang dicampur dalam makanan tersebut , melainkan kita percaya sepenuhnya serta langsung menyantap saja. Maka dengan rendah hati kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah pengalaman iman/percaya dalam hal makanan tersebut juga kita hayati dalam bidang kehidupan lainnya setiap hari. Marilah kita tingkatkan saling percaya kita satu sama lain. Kami merasa pada masa kini sungguh terjadi ‘krisis kepercayaan antar kita’, karena kebanyakan dari kita tidak dapat dipercaya lagi. Maka untuk meningkatkan saling percaya satu sama lain, antara lain saya pribadi harus berusaha keras untuk menjadi orang yang dapat dipercaya.  Menjadi orang dapat dipercaya berarti bermoral dan berbudi pekerti luhur, tidak pernah korupsi, berbohong, menyakiti orang lain dst…


“Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.
Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan” (Mzm 145:2-5)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. TAFSIRAN MRK 9:2-13
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: