18 Nov – Why 5:1-10; Luk 19:41-44

“Engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

(Why 5:1-10; Luk 19:41-44)

 

“Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”(Luk 19:41-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sabda hari ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa masing-masing dari kita tidak tahu kapan dipanggil Allah atau meninggal dunia; kita dapat dipanggil Allah setiap saat, kapan saja dan dimana saja. Jika kita dipanggil Allah kiranya kita mendambakan kemudian hidup damai sejahtera dan mulia selama-lamanya di sorga bersama Allah yang telah menciptakan kita. Karena kita tidak tahu kapan meninggal dunia, maka hendaknya kita senantiasa siap sedia, tahu dan menghayati apa yang perlu untuk hidup damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur kapanpun dan dimanapun. Kami berharap masing-masing dari kita secara pribadi dengan bersungguh-sungguh berusaha hidup baik dan berbudi pekerti luhur, namun karena keterbatasan kita masing-masing baik kita bekerjasama, terutama dan saudara-saudari atau mereka yang hidup dan bekerja dekat dengan kita setiap hari, misalnya dengan segenap anggota keluarga atau rekan kerja/belajar. Di dalam keluarga hendaknya orangtua dapat menjadi teladan hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga dapat mendampingi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan. Anak-anak adalah anugerah Tuhan maka selayaknya dididik dan didampingi sesuai dengan kehendak Tuhan. Pengalaman hidup baik dan berbudi pekerti luhur di dalam keluarga kemudian dapat dikembangkan dan diperdalam baik di sekolah maupun tempat kerja. Jika kita sungguh dalam keadaan siap sedia sewaktu-waktu dipanggil Allah alias meninggal dunia, maka pada detik-detik terakhir hidup kita, kita akan berdoa seperti penjahat yang disalibkan bersama Yesus:”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."(Luk 23:42), dan menerima jawaban “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”(Luk 23-43)

·   "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."(Why 5:9-10), demikian nyanyian baru bagi mereka yang telah hidup mulai kembali di sorga, setelah meninggal dunia. Nyanyian ini kiranya juga menjadi nyata atau terwujud dalam diri orang yang sungguh baik dan berbudi pekerti luhur selama hidup dunia ini. Orang baik dan berbudi pekerti luhur ‘telah dibeli bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa‘ alias hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah bukan tradisi-tradisi atau kebiasaan-kebiasaan suku maupun bangsa yang tidak baik. Orang-orang baik dan berbudi pekerti luhur juga ‘menjadi imam-imam bagi Allah dan akan memerintah sebagai raja di bumi’, dengan kata lain ia dapat menjadi penyalur rahmat, anugerah dan kasih karunia Allah kepada sesama manusia dimanapun dan kapanpun. Maka marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Allah kita hayati panggilan imamat umum kaum beriman, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun dapat menjadi berkat atau rahmat bagi sesama, dan kita sendiri semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Orang baik dan berbudi pekerti luhur dengan enak dan gembira dapat membuka ‘gulungan kitab’, artinya dengan enak dan gembira melakukan apa yang baik dan berbudi pekerti luhur. Kehadiran, sepak terjangnya dimanapun dan kapanpun senantiasa menarik, mempesona dan memikat, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. Marilah kita hidup dan bertindak dalam dambaan hidup damai sejahtera, sehat wal’afiat baik seeara phisik maupun spiritual.

 

“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” (Mzm 149:1-4)

   

Jakarta, 18 November 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: