Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

18 Maret – Yeh 18:21-28; Mat 5:20-26

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi”
(Yeh 18:21-28; Mat 5:20-26)

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu
 itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas” (Mat 5:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Di dalam hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diberlakukan aneka tata tertib atau aturan tertulis. Apa yang tertulis pada umumnya cukup terbatas jika dibandingkan dengan maksud atau tujuan apa yang tertulis tersebut, dan menghayati apa yang tertulis saja sulit, apalagi yang menjadi maksud atau tujuan utama. Memang ketika kita mampu menghayati apa yang tertulis dengan baik, maka ada kemungkinan kita sampai pada penghayatan maksud atau tujuan utama. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk menghayati maksud atau tujuan utama aneka tata tertib atau aturan. Hemat saya maksud atau tujuan utama aneka tata tertib atau aturan adalah agar orang hidup saling mengasihi satu sama lain. Orang yang marah, menjelek-jelekkan orang lain, memiliki musuh dst, adalah orang yang tidak hidup saling mengasihi. Semua agama hemat  saya mengajarkan agar semua penganutnya hidup dan bertindak saling mengasihi, maka marilah kita
 yang
 mengaku diri beragama hidup dan bertindak saling mengasihi. Aneka perbedaan yang ada di antara kita hendaknya menjadi daya tarik untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat, bukan menjadi alasan untuk saling menjelekkan atau melecehkan. Maka baiklah kita hayati secara mendalam apa yang sama di antara kita, agar apa yang berbeda fungsional untuk memperkuat persahabatan antar kita: yang sama di antara kita antara lain sama-sama beriman, sama-sama manusia ciptaan Allah, dst..
•    “Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati” (Yeh 18:27-28), demikian peringatan Nabi Yeheskiel kepada umatnya, kepada kita semua orang beriman. Kita semua dipanggil untuk bertobat, menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan dan kemudian tidak melakukan lagi dosa-dosa yang sama, serta kemudian ‘melakukan keadilan dan kebenaran’. Kita akan dapat melakukan keadilan dan kebenaran yang baik jika kita menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, menghargai dan menyikapi sesama manusia sebagai gambar atau citra Allah. Marilah kita lihat, temukan dan imani karya Allah dalam diri manusia, yang antara lain “memberi aku ada, hidup, berdayarasa dan berpikiran” (St.Ignatius Loyola, LR no 235). Hidup dan segala sesuatu yang dimiliki, dikuasai dan
 dinikmatui
 manusia adalah anugerah Allah. Kecantikan, ketampanan, kepandaian, kecerdasan, harta benda, uang dst. adalah anugerah Allah. Jika kita mampu menghargai dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, maka hemat saya kita akan mampu menciptakan lingkungan hidup bersama yang enak, nikmat dan menarik serta mempesona, hidup bersama yang dijiwai oleh keadilan dan kebenaran. Keadilan secara konkret dapat diwujudkan oleh para pengusaha atau pemberi kerja dengan memberi imbal jasa atau gaji yang layak kepada para pegawai atau buruhnya. Maka kami berharap kepada para pengusaha atau pemberi kerja untuk sungguh adil dalam memperlakukan para pegawai atau buruhnya.

“Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.” (Mzm 130:1-4)

Jakarta, 18 Maret 2011

Incoming search terms:

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.
Category: Renungan Pagi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*