18 Jan – 1Sam 15: 16-23; Mrk 2:18-22

“Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

(1Sam 15: 16-23; Mrk 2:18-22)

 

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Mrk 2:18-22), demkian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengawali Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai  berikut:

·   Mereka yang  baru saja mengikrarkan atau berjanji untuk menempuh cara hidup baru, misalnya hidup berkeluarga, baru saja dibaptis, tugas atau jabatan baru, rumah baru, dst… pada umumnya bergembira dan berpesta pora, ceria serta penuh dengan harapan dan cita-cita. Semangat hidup baru sungguh menyala dan membara dalam hati mereka, sehingga membakar seluruh tubuh dan dengan demikian ceria dan berbahagia. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dan bertindak dalam dan dengan semangat baru, yang menjiwai hidup baru tersebut: semangat baru tidak hanya dalam hari-hari, minggu-minggu atau bulan-bulan pertama sebagai pengantin baru, baptisan baru, pejabat baru, dst.. melainkan terus menerus dihayati dalam perjalanan hidup dan tugas dan panggilan sampai mati. Semangat baru tersebut tidak lain adalah hidup sesuai dengan kehendak Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri“(Gal 5:22-23). Untuk membantu agar semangat baru tersebut dapat dihayati lebih baik, kiranya baik bahwa rumus-rumus janji yang kita ikrarkan untuk menempuh hidup atau tugas baru tersebut ditempatkan di meja kerja kita, di daun pintu kamar mandi/toilet, di kamar tidur dst..agar setiap saat kita dapat membacanya serta merenungkannya kembali. Sekiranya anda saat ini dalam cara hidup dan cara bertindak tidak atau kurang sesuai dengan janji yang pernah diikrarkan, hendaknya bermatiraga alias mengendalikan kebutuhan raga dan gerak raga sedemikian pula sehingga kita dapak kembali setia pada janji yang pernah kita ikrarkan.

·   "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1Sam 15:22), demikian jawaban Samuel kepada Saul, yang melaporkan bahwa “rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN” (1Sam  15:21). Jawaban tersebut kiranya juga menjadi peringatan bagi kita semua akan pentingnya “mendengarkan dan memperhatikan suara Tuhan”. Suara, kehendak dan karya Tuhan kiranya dapat kita dengarkan dan perhatikan melalui ciptaan-ciptaanNya, dan terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. Dengan kata lain kita dipanggil untuk lebih melihat, mendengarkan, mencermati dan memperhatikan apa yang  baik, indah, luhur dan mulia dalam diri saudara-saudari kita daripada apa yang buruk, jorok, hina dst.. Baik dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita kiranya lebih banyak apa yang baik, indah, luhur dan mulia daripada yang sebaliknya, entah itu dalam bentuk tubuh, omongan maupun perilaku, seperti buah-buah Roh yang saya kutipkan di atas. Untuk itu memang dari diri kita masing-masing diharapkan hidup dan bertindak.dengan rendah hati; dan hanya dalam kerendahan hati kita akan mampu ‘mendengarkan dan memperhatikan suara Tuhan’. Jauhkan aneka macam bentuk cara hidup dan cara bertindak sombong atau angkuh. Marilah kita saling mendengarkan dan memperhatikan.

 

Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,…. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya."(Mzm 50:8-9.23)

Jakarta, 18 Januari 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: