18 Feb – Ul 30:15-20; Luk 9:22-25

"Setiap orang yang mau mengikut Aku harus memikul salibnya setiap hari”

(Ul 30:15-20; Luk 9:22-25)

 

“Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri” (Luk 9:22-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Salib hidupku” adalah apa yang menjadi tugas/panggilan  utama atau pokok bagi diriku, maka memikul salib setiap hari berarti menghayati panggilan atau melaksanakan tugas utama dengan penuh kesetiaan, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka macam  godaan, hambatan maupun tantangan. Setia pada panggilan dan tugas utama pada masa kini memang tak akan terlepas dari godaan, hambatan dan tantangan, maka untuk itu harus dengan jiwa besar dan rendah hati untuk berkorban dan berjuang. Dalam rangka menghayati panggilan atua melaksanakan tugas kepada kita telah dianugerahi bekal atau rahmat yaitu ‘spiritualitas/kharisma’ atau ‘visi’, maka marilah kita setia pada spiritualitas atau visi kita masing-masing, entah secara pribadi atau kelompok. Untuk itu kita memang harus berani melepaskan ‘nyawa’ kita masing-masing, gairah, semangat, dambaan, cita-cita dst.. untuk selanjutnya dijiwai oleh spiritutalitas atau visi yang terkait dengan hidup, panggilan atau tugas kita masing-masing. Dengan kata lain kita tidak dapat hidup dan bertindak seenak sendiri, mengikuti selera pribadi, melainkan harus mengikuti dan melaksanakan aneka tatanan dan aturan yang melengkapi  atau menyertai spiritualitas atau visi tersebut. Kita juga diingatkan untuk tidak bersikap mental materialistis, hidup dan bertindak dengan motto ‘material investment’, melainkan lebih ke ‘human investment’, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut ke ‘spiritual investment’, bukan demi keselamatan tubuh atau harta benda melainkan demi keselamatan jiwa. Keselamatan jiwa hendaknya menjadi barometer atau tolok-ukur keberhasilan hidup, panggilan dan tugas pengutusan.

·   “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya” (Ul 30:15-16). Sebagai orang beriman dan berakal sehat kiranya kita lebih memilih ‘kehidupan dan keberuntungan’ daripada ‘kematian dan kecelakaan’. Konsekwensi memilih kehidupan dan keberntungan adalah “mengasiihi Tuhan, dengan hidup menurut jalan yang telah ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya”. Perintah, ketetapan dan peraturan Tuhan hemat saya telah dicoba diterjemahkan ke dalam berbagai aturan dan tatanan hidup, yang terkait dengan hidup, panggilan, tugas pengutusan, kewajiban serta daerah atau wilayah masing-masing, maka marilah kita taati dan laksanakan sesempurna dan sebaik mungkin aturan atau tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas kita masing-masing. Jika kita setia mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan yang tertulis dengan jelas tersebut, maka kita juga akan memperoleh kemudahan untuk mengasihi Tuhan alias berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan. Aneka aturan dan tatanan hidup dibuat dan diberlakukan dengan dasar dan demi kasih, maka hendaknya dengan dan dalam kasih juga menyikapi aneka aturan dan tatanan hidup. Aturan dan tatanan diharapkan dapat menjadi petunjuk atau tuntunan untuk saling mengasihi satu sama lain, dan ketika kita mampu saling mengasihi satu sama lain dengan demikian kita juga mengasihi Tuhan. Ungkapan dan perwujudan terimakasih dan syukur kita kepada Tuhan adalah hidup saling mengasihi.  

 

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin

 (Mzm. 1:1-4)

 

Jakarta, 18 Februari 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: