18 Feb – Kej 11:1-9; Mrk 8:34-9:1

"Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

(Kej 11:1-9; Mrk 8:34-9:1)

 

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus. Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa." (Mrk 8:34-9:1), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang  beriman kita tidak dapat berbuat seenaknya hanya mengikuti selera pribadi, demi enaknya sendiri. Kita dipanggil untuk ‘menyangkal diri atau menyerahkan nyawa’. Nyawa adalah gairah, semangat atau cita-cita, maka marilah kita persembahkan gairah, semangat atau cita-cita kita kepada Tuhan, secara konkret berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan setiap hari dengan mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Cukup banyak tata tertib, entah itu berupa undang-undang, peraturan, kebijakan dst.. yang harus kita taati dan laksanakan. Rasanya orang-orang Indonesia masih cukup sulit untuk mentaati dan melaksanakan tata tertib, antara lain hal itu nampak di jalanan, dimana para pengendara mobil atau motor maupun pejalan kaki sering melanggar rambu-rambu lalu lintas seenaknya. Apa yang terjadi di jalanan merupakan cermin kwalitas kepribadian warga masyarakat atau bangsa.  Maka juga tidak mengherankan para penegak hukum melaksanakan tugasnya tidak jujur atau tidak sesuai dengan kebenaran karena tergiur oleh uang. Sabda hari ini mengajak kita semua untuk setia pada tugas pengutusan atau panggilan kita masing-masing setiap hari, masing-masing dari kita berfungsi secara optimal dalam fungsi atau peran kita dalam hidup atau bekerja bersama, sebagaimana terjadi dalam anggota tubuh kita. Kebiasaan untuk ‘menyangkal diri dan memikul salibnya sendiri’ hendaknya sedini mungkin dididikkan pada anak-anak dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu.

·   "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”(Kej 11:6-7), demikian firman Tuhan. Hukuman dari Tuhan ini terjadi karena manusia hidup dan bertindak seenaknya sendiri atau sesuai selera pribadi, sehingga tidak ada kebersamaan. Masing-masing merasa dan menghayati dirinya yang benar secara mutlak dan yang lain salah. Semangat egois secara pribadi maupun kelompok atau golongan/partai hemat saya juga masih terjadi di Indonesia masa kini, antara lain nampak dalam kasus Bank Century maupun Gayus. Entah di DPR maupun dip roses pengadilan terjadi kekacauan karena masing-masing hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya. ‘Menyelesaikan kasus atau masalah dengan melahirkan kasus atau masalah baru’ itulah yang terjadi, sehingga hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kacau balau, krisis kepercayaan, entah percaya diri maupun percaya terhadap orang lain terjadi dan sungguh memprihatinkan. Karena tidak percaya kepada orang lain maka mereka yang tak bermoral dan terdidik main hakim sendiri, dan dengan demikian kekacauan semakin membesar. Marilah kita memakai bahasa yang sama, bukan bahasa masing-masing, yaitu ‘bahasa cinta’. Cinta pertama-tama bukan untuk diomongkan atau dijadikan bahan diskusi, melainkan dilaksanakan atau dihayati; cinta lebih berarti dalam tindakan atau perilaku. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah ‘buah cinta’ atau ‘yang tercinta’, maka selayaknya bertemu dengan orang lain atau sesama manusia secara otomatis saling mencintai. Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka macam bentuk penyakit dan penderitaan terjadi karena dosa dan kesalahan manusia.

 

“TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi

(Mzm 33:10-14)

Jakarta, 18 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: