18 Agt

“Orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."
(Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15)

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ” (Mat 19:13-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Anak-anak jelas lebih suci daripada orangtuanya, generasi muda lebih suci daripada generasi tua, karena pada umumnya orang tambah usia dan pengalaman juga bertambah dosa-dosanya. Dalam hidup beriman atau beragama orang yang selayaknya dihormati dan dijunjung tinggi adalah mereka yang lebih suci, maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini, yaitu “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga”. “Yang empunya Kerajaan Sorga” berarti yang dikuasai oleh Sorga atau Allah alias yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau hidup suci, mempersembah-kan diri seutuhnya kepada Allah. Sabda Yesus di atas ini mengajak dan mengingatkan kita agar kita memberi perhatian yang memadai bagi anak-anak, dengan jiwa besar dan hati rela berkorban memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak. Anak-anak hendaknya memperoleh pendidikan atau pembinaan yang memadai, maka kami harapkan orangtua sungguh memperhatikan pendidikan anak-anaknya, antara lain mengalokasikan dana dan waktu yang memadai bagi pendidikan anak-anak. Umat Allah di lingkungan paroki, masjid atau umat beragama lainnya, kami harapkan memberi waktu dan tenaga maupun dana yang memadai bagi pembinaan iman anak-anak. Entah orangtua maupun para guru atau pendidik hendaknya lebih takut dan prihatin terhadap anak-anak daripada terhadap atasan atau pimpinan, artinya prihatin dan takut jika anak-anak tidak tumbuh-berkembang menjadi pribadi cerdas beriman. Berilah kesempatan dan kemungkinan sedini mungkin bagi anak-anak untuk belajar aneka kebiasaan baik, mulia, bermoral dan berbudi pekerti luhur, antara lain dengan teladan konkret dari orangtua maupun para guru/pendidik.

·   Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!” (Yeh 18:32), demikian firman Allah kepada bangsa terpilih melalui nabi Yeheskiel. Allah tidak menghendaki bahwa umatNya mengalami kematian, terutama mati dalam hal hidup baik, mulia, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Para orangtua maupun guru atau pendidik hemat saya memiliki tugas berat  dan mulia dalam menjaga, membina dan mendampingi anak-anak atau para peserta didiknya. Karena tugas yang begitu berat dan mulia ini kami harapkan para orangtua maupun pendidik sungguh baik adanya, membaktikan diri seutuhnya kepada Allah alias senantiasa mengusahakan hidup suci bagi dirinya sendiri. Hidup suci berarti senantiasa bersama dan bersatu dengan Allah dimana pun dan kapan pun, dan dengan demikian akan mampu melaksanakan tugas berat dan mulia dalam mendidik atau mendampingi anak-anak atau peserta didik. Cukup menarik bahwa kata lain dari murid atau peserta didik, yang berarti para murid berpartisipasi sebagai peserta dalam proses pembelajaran atau pendidikan. Maka dengan ini kami harapkan para guru atau pendidik sungguh menyadari  diri sebagai yang sedang diikuti atau disertai para murid atau peserta didik: apa yang ada katakan dan kerjakan sungguh didengarkan dan dilihat oleh para peserta didik serta berpengaruh dalam perkembangan dan pertumbuhan kepribadian mereka. Maka dengan ini kami sungguh mengharapkan anda semua menghayati motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro, yaitu “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” (keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). Keteladanan pada masa kini sungguh memprihatinkan. Pendidikan nilai atau budi pekerti, yang menurut hemat saya merupakan yang harus diutamakan dalam proses pembelajaran atau pendidikan, sungguh butuh teladan-teladan konkret dari para guru/pendidik. Semoga para guru/pendidik dapat menjadi teladan atau inspirator bagi para peserta didik dalam hal melakukan apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur.

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (Mzm 51:12-15).
Ign 18 Agustus 2012
 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: