17 spt

“Berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan”
(1Tim 6:13-16; Luk 8:4-15)

” Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang
yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia
dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk
menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh
di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara
memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,
dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh
bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di
tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat."
Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk
mendengar, hendaklah ia mendengar!" Murid-murid-Nya bertanya
kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: "Kepadamu
diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada
orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya
sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar,
mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah
firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah
mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari
dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang
jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah
mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu
tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan
mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah
mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka
terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga
mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang
baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya
dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk
8:4-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Robertus
Bellarmino, Imam Yesuit dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       Salah satu tujuan atau tugas pengutusan Serikat Yesus sebagaimana
tertulis dalam Surat Kegembalaan Paus Julius III ‘Exposcit debitum’
atau Formula Institute SJ, tertanggal 21 Juli 1550 adalah “mengajar
agama kristiani kepada anak-anak dan orang-orang sederhana”. Hemat
saya untuk mengajar agama macam itu harus dengan
perumpamaan-perumpamaan atau contoh-contoh hidup sehari-hari
sebagaimana dialami oleh para pendengar, anak-anak dan orang-orang
sederhana. Orang bijak dan pandai sejati memang orang yang dapat
menyederhanakan apa yang sulit dan berbelit-belit, sehingga dapat
dimengerti difahami oleh semua orang. Begitulah juga yang dilakukan
oleh Yesus dalam mewartakan Kabar Gembira; dalam kisah hari ini Ia
menggunakan perumpamaan penabur yang sedang menaburkan benih. St
Robertus Bellarmino yang kita kenangkan hari ini juga dikenal sebagai
‘penulis karya teologi, ketekismus kecil dan besar, yang kemudian
diterjemahkan kedalam berbagai bahasa”, suatu usaha untuk mewartakan
Kabar Baik agar mudah dimengerti dan diterima oleh banyak orang. Maka
dengan ini kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan guru/dosen atau
pengajar maupun para pengkotbah untuk meneladan Yesus atau St.Roberto
Bellarmino: mengajar atau berkobah hendaknya memperhatikan para
pendengar serta kemudian menyesuaikan cara pengajaran atau kotbah
sesuai dengan situasi dan kondisi para pendengar, agar apa yang
diajarkan atau dikotbahkan dapat diterima dan diresapkan dengan baik
oleh para pendengar.
•       “Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela,
hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu
saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang
penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala
tuan”(1Tim 6:14-15), demikian pesan Paulus kepada kita semua umat
beriman melalui Timotius. Kita diajak dan diingatkan untuk senantiasa
mentaati dan melaksanakan perintah Allah sampai kematian kita atau
kita dipanggil Tuhan. Semua perintah Allah kiranya dapat dipadatkan ke
dalam perintah untuk saling mengasihi satu sama lain, sebagaimana
Allah telah mengasihi kita. Maka marilah kapanpun dan dimanapun serta
dengan siapapun kita senantiasa saling mengasihi. Ingatlah, sadarilah
dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita dapat tumbuh berkembang
sebagaimana adanya saat ini hanya karena dan oleh kasih, dan
masing-masing dari kita telah menerima kasih Allah melimpah ruah
melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan atau hidup dan
bekerja bersama dengan kita. Kita tanggapi kasih tersebut dengan
senantiasa hidup dan bertindak penuh syukur dan terima kasih. Kami
berharap anak-anak sedini mungkin dibina dan dididik hidup dan
bertindak penuh syukur dan terima kasih di dalam keluarga melalui
teladan dan aneka nasihat orangtua/bapak-ibu.
“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya
dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang
menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba
gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian
syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah
kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya
untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mzm
100:2-5)

Ign 17 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: