17 sept – 1Kor 15:12-20; Luk 8:1-3

“Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”

(1Kor 15:12-20; Luk 8:1-3)

 

“Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Luk 8:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam budaya patrialistis seperti mayoritas suku bangsa di dunia, termasuk Indonesia, pada umumnya kaum laki-laki lebih tampil di permukaan daripada kaum perempuan, namun ketika ada acara bersama seperti pesta atau pertemuan akbar kaum perempuan sungguh berpengaruh, sebagaimana diwartakan dalam kisah hari ini, yaitu “melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”. Tanpa pelayanan ini kiranya acara bersama dapat kacau balau atau berlangsung tidak lancar sebagaimana didambakan. Menjadi ‘orang kedua’ itulah yang terjadi. Ada orang yang merasa minder atau dilecehkan ketika menjadi ‘orang ke dua’ dan tidak menjadi ‘orang pertama atau utama’, padahal menurut pengamatan dan pengalaman kami menjadi ‘orang kedua’ sungguh membahagiakan dan memuaskan. Menjadi ‘orang kedua’ antara lain memiliki kesempatan untuk melihat dan mencermati segala sesuatu dengan tajam dan cermat, bagaikan menjadi ‘intel’, pergi ke sana kemari kurang diperhatikan. Pada umumnya masukan dari ‘orang ke dua’ kepada ‘orang pertama/utama’ akan didengarkan dan mempengaruhi kebijakan dan cara bertindak orang pertama beserta para pembantu lainnya maupun rombongannya. Sebagai contoh konkret: perhatikan saja beberapa kepala Negara seperti di Indonesia, dimana sang isteri begitu mempengaruhi kebijakan suaminya yang menjadi kepala Negara, dan tentu saja sebaliknya ketika yang menjadi kepala Negara adalah sang isteri. Menjadi ‘orang kedua’ pada umumnya dapat ‘bermain’ dengan bebas, tanpa beban. Maka dengan ini kami mengingatkan anda semua yang menjadi ‘orang kedua, ketiga dan selanjutnya kami harapkan tidak minder atau kecil hati, melainkan berbahagialah dan berbangga karena boleh melayani, meneladan Yesus yang datang ke dunia untuk melayani bukan dilayani. Kami berteima kasih banyak kepada rekan-rekan perempuan yang sungguh berjasa dalam berbagai kegiatan bersama.

·   “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:19-20), demikian kesaksian iman Paulus. Kesaksian Paulus ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita bahwa ketika kita dalam keadaan lesu, frustrasi, tak bergairah dst.., hendaknya tetap percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi alias masih memiliki harapan terhadap Tuhan. Ada kemungkinan bahwa harapan terhadap sesama manusia atau saudara-saudari kita tidak ada lagi atau tipis sekali. Harapan akan sungguh menjadi harapan ketika terjadi dalam ketidak-pastian, keraguan, kelesuan, frustrasi dst.. Ingat dan hayati bahwa ketika kita merasa kurang diperhatikan oleh orang lain yang berarti tiada harapan lagi dari mereka, kita masih hidup, meskipun kurang bergariah. Bukankah bahwa kita masih hidup ini merupakan Penyelenggaraan Ilahi, yang harus kita syukuri dan terimakasihi. Dia yang telah wafat di kayu salib telah menjadi pengharapan bagi banyak orang, maka percaya kepadaNya antara lain berarti ketika kita berada dalam penderitaan, sakit, lesu dan tak berdaya, hendaknya tetap percaya dan berharap kepada Tuhan, sehingga keberadaan kita dapat membangkitkan pengharapan bagi orang lain. Dengan kata lain usahakan tetap tampil dengan ceria dan cerah ketika kurang memperoleh perhatian dari orang lain, ketika sedang menderita, ketika dilecehkan atau direndahkan, dst.. Ajakan dan peringatan kami tujukan juga kepada mereka yang merasa bodoh: milikilah keteguhan hati bahwa anda dapat berubah alias bangkit dari kebodohan menuju ke kecerdasan. Maka hadapi dan fungsikan berbagai kemungkinan dan kesempatan untuk berubah dan berkembang di dalam hidup sehari-hari, agar cara hidup dan cara bertindak anda selanjutnya dapat membangkitkan mereka yang kurang bergairah karena kebodohannya. 

 

“Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak., .. sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mzm 17:6-7.8b)

 

Jakarta, 17 September 2010 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply