17 Feb – Kej 9:1-13; Mrk 8:27-33

"Engkau adalah Mesias!"

(Kej 9:1-13; Mrk 8:27-33)


“Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi." Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”(Mrk 8:27-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Konsekwen atau setia pada apa yang dikatakan atau dijanjikan rasanya tidak mudah. Cukup banyak orang dengan mudah mengatakan atau menjanjikan sesuatu, namun tidak ada pelaksanaannya sedikitpun, sebagaiimana dijanjikan oleh para pemimpin bangsa atau tokoh-tokoh politik dalam kampanye atau kunjungan resmi: mereka menjanjikan hal-hal yang baik, indah dan menghibur, namun tak ada pelaksanaan sedikitpun. Kebohongan itulah yang sering terjadi. Dialog antara Yesus dengan para murid sebagaimana diwartakan hari ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita. Atas nama para murid Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, namun Yesus tahu bahwa pengakuan tersebut hanya di bibir saja, belum merasuk ke dalam hati dan tubuh. Ketika Yesus menceriterakan bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan “Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia”. Petrus hanya memikirkan apa yang dipikir manusia, bukan yang dipikirkan oleh Allah. Kiranya kita tidak terlalu jauh dengan Petrus, yang hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia saja, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita lebih dijiwai oleh kenikmatan manusiawi belaka, belum sampai ke spiritual atau rohani, demi keselamatan tubuh melulu belum sampai ke keselamatan jiwa. Sebagai orang beriman kita diharapkan senantiasa hidup dan bertindak demi keselamatan jiwa, dan dengan demikian ada kemungkinan kita harus mengalami banyak penderitaan, penderitaan phisik atau tubuh. Setia pada janji baptis, janji perkawinan, janji imamat atau kaul akan berbuahkan keselamatan jiwa, maka marilah kita setia atau konsekwen dengan apa yang pernah kita janjikan atau katakan dengan penuh bangga dan gembira tersebut.

·   "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi“(Kej 9:12-13). Busur sungguh tajam, maka siapapun yang kena busur pasti akan menderita sakit. Allah membuat perjanjian dengan bumi seisinya dengan perantaraan awan. Awan berada di tengah-tengah di antara bumi dan Allah yang berada di atas bumi. Dari awan dapat turun hujan/ air yang mengairi atau merasuki bumi. Maka karena busur Allah berada di awan dengan demikian di dalam air hujan yang merasuki bumi ada ‘busur Allah’. Yang dimasudkan dengan busur Allah antara lain adalah keselamatan jiwa, maka dengan turunnya air hujan diharapkan terjadi keselamatan jiwa manusia di bumi, tentu saja ketika air hujan sungguh merasuki bumi. Namun apa yang terjadi masa kini adalah air hujan dihalang-halangi merasuki bumi dengan pembetonan tanah serta pembangunan rumah, hotel, losmen, villa dst.. yang tak mengindahkan keseimbangan lingkungan hidup. Akibatnya air hujan merusak dan menghancurkan bumi seisinya, termasuk manusia. Air hujan yang  bersih yang merasuki bumi menjadi komersial dan tidak sosial lagi. Bukankah semuanya itu menunjukkan bahwa tiada kesetiaan manusia di bumi terhadap perjanjian. Kepada nabi Nuh Allah memberi perintah untuk beranak-cucu, bukan merusak dan menghancurkan bumi. Maka meskipun jumlah manusia di bumi semakin banyak, ketika setiap manusia hidup sederhana, hemat saya tidak pernah ada yang kekurangan pangan atau makanan dan minuman. Gara-gara ada manusia yang berusaha menumpuk harta benda untuk tujuh turunan, maka banyak orang menderita, dan pada gilirannya keselamatan jiwa diabaikan.

 

Bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm 102:16-21)

Jakarta, 17 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: