16 spt

“Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia”
(1Tim 6:2c-12; Luk 8:1-3)

“Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota
dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas
murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan
yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit,
yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh
roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak
perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan
kekayaan mereka.” (Luk 8:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Kornelius,
Paus, dan St.Siprianus, Uskup, hari inin saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•        Terpanggil sebagai rasul berarti berpartisipasi dalam ‘memberitakan
Injil Kerajaan Allah’ , kabar gembira atau apa-apa yang menggembirakan
dan menyelamatkan, terutama jiwa manusia. Hari ini kita kenangkan
St.Kornelius dan St.Siprianus, Paus dan Uskup, yang tidak lain adalah
penerus tugas para rasul. Mereka berbeda jabatan atau fungsi dan juga
berjauhan tempat tinggal dan tugas, namun kita kenangkan bersama-sama,
yang mengingatkan kita semua yang memiliki tugas merasul atau
missioner agar melaksanakan tugas bersama-sama, bergotong-royong,
saling membantu satu sama lain. Kebersamaan para rasul juga didukung
oleh para perempuan yang ‘melayani rombongan itu dengan kekayaan
mereka’. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri:
sejauh mana kita, tanpa pandang bulu, berpartisipasi dalam kerasulan
serta bekerjasama satu sama lain? Kami berharap kepada semuanya untuk
berpartisipasi dalam tugas merasul, mewartakan kabar baik, sesuai
dengan kemampuan dan kesempatan serta kemungkinan yang dimilikinya.
Bukan besar atau hebatnya perbuatan atau tindakan yang utama,
melainkan yang utama dan pokok adalah dalam kasih melakukan apapun
bagi orang lain. Perbuatan atau tindakan sederhana dalam dan dengan
kasih yang besar itulah yang hendaknya menjadi opsi atau perhatian
kita semua dalam melaksanakan tugas merasul atau karya missioner.
Secara khusus kami berharap kepada segenap gembala umat, entah pastor
atau uskup, untuk bekeerjasama dalam melaksanakan tugas dan
panggilannya, tidak sendiri-sendiri. Tentu saja secara konkret kami
berharap kepada rekan-rekan pastor, entah yang berkarya dalam pastoral
paroki, social maupun pendidikan untuk menjadi teladan kerjasama dalam
merasul bagi segenap umat Allah.
•       “Engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan,
ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah
dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.
Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar
yang benar di depan banyak saksi” (1Tim 6:11-12), demikian ajakan
Paulus melalui Timotius kepada kita semua segenap Umat Allah atau Umat
Beriman. Kita diajak untuk berpartisipasi dalam pertandingan iman yang
benar dan perebutan hidup kekal, antara lain dengan mengejar atau
mengusahakan ‘keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan
kelembutan’. Silahkan anda pilih sendiri keutamaan mana dari enam
keutamaan di atas ini yang sesuai dengan situasi anda sendiri maupun
lingkungan hidup anda, yang mendesak atau up to date untuk dihayati
dan disebarluaskan. Pertama-tama tentu saja ibadah kita kepada Tuhan
harus kita tingkatkan dan perdalam, tidak hanya secara liturgis saja,
tetapi juga menjadi nyata dalam cara hidup dan bertindak, artinya
menghayati tugas belajar atau bekerja bagaikan sedang beribadah.
Selanjutnya mungkin saya angkat kesabaran dan kesetiaan. “Sabar adalah
sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan  dalam mengendalikan
gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam
menghadapi berbagai rangsangan atau masalah”, sedangkan “setia adalah
sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan da atas kepedulian
atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit:
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997,
hal 24). Kita semua juga diingatkan untuk memberantas dan menjauhkan
diri dari aneka bentuk percekcokan atau permusuhan serta kebencian.
Maka kepada mereka yang masih saling cekcok, bermusuhan maupun
membenci untuk segera berdamai dan bersahabat kembali. Untuk itu
hendaknya dihayati apa yang sama antar kita secara mendalam dan
handal, sehingga apa yang berbeda antar kita akan fungsional untuk
memperdalam dan meneguhkan kebersamaan atau persaudaraan. Hendaknya
jangan membesar-besarkan apa yang berbeda antar kita.
“Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh
kejahatan pengejar-pengejarku, mereka yang percaya akan harta
bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka? Tidak
seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada
Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya,
dan tidak memadai untuk selama-lamanya — supaya ia tetap hidup untuk
seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur”
(Mzm 49:6-10)

Ign 16 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: