16 Juli

“Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana”

(Kel 12:37-41; Mat 12:14-21)

” Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.  Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.  Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.  Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia,  supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.  Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.  Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.  Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap." (Mat 12:14-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kedatangan Yesus di dunia adalah pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan seluruh bangsa di dunia, karena Ia adalah Penyelamat Dunia. Maka ketika ada ancaman untuk membunuh Dia sebelum waktuNya, yaitu dengan paripurna menyelesaikan tugas pengutusanNya, Ia menghindari mereka yang akan membunuhNya. Ia harus memenuhi ramalan nabi Yesaya, yaitu “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang”. Yang dimaksudkan dengan hukum di sini kiranya kehendak Allah bahwa pada waktunya Ia harus menyerahkan Diri dengan menderita karena disiksa dan wafat di kayu salib. Kita yang beriman kepadaNya kiranya dapat belajar dari atau meneladan Dia. Kami yakin kita semua memiliki cita-cita yang luhur, mulia dan baik, dan untuk mewujudkan cita-cita tersebut harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Ada masalah, tantangan dan hambatan yang tak mungkin kita atasi atau selesaikan, maka baiklah ketika mengalami hal itu kita dengan rendah hati mengakui kelemahan dan kerapuhan kita serta menyingkir dari masalah, tantangan dan hambatan tersebut. Tantangan, hambatan atau masalah tersebut mungkin berasal dari mereka yang bersikap mental seperti orang-orang Farisi. Percayalah bahwa yang bersikap mental Farisi hanya segelintir saja jumlahnya, sedangkan yang baik dan mendukung cita-cita kita lebih banyak jumlahnya. Maka baiklah kita berpaling kepada mereka yang baik dan mendukung usaha kita untuk mewujudkan cita-cita.  Sebagaimana terjadi dalam Diri Yesus, percayalah bahwa banyak orang berharap terhadap pemenuhan cita-cita kita yang baik, luhur dan mulia.

·   Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan Tuhan dari tanah Mesir. Malam itulah malam berjaga-jaga bagi Tuhan, untuk membawa mereka dari tanah Mesir” (Kel 12:41-42a). Selama empat ratus tiga puluh tahun berada di pengasingan kiranya sungguh berat bagi bangsa yang terpilih untuk memenuhi janji Tuhan. Pengalaman dari bangsa terpilih ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau permenungan kita. Sekiranya cita-cita atau dambaan kita tidak segera terwujud atau tercapai, hendaknya tetap setia mengusahakannya dengan segala kerendahan hati dan kesabaran. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Orang sabar akan disayang Tuhan, demkian kata orang bijak. Memang untuk sabar dalam masa kini cukup berat, apalagi semakin maraknya budaya instant yang dihayati oleh banyak orang di lingkungan hidup kita. Jika kita dapat hidup dan bertindak sabar, maka secara otomatis kita juga akan memiliki keutamaan-keutamaan lainnya seperti ketahanan, keuletan, ketekunan dan rendah hati, dst..  Kami berharap para orangtua atau guru/pendidik dapat menjadi teladan dalam hal kesabaran bagi anak-anak atau para peserta didiknya. Salah satu perkembangan dari kesabaran yaitu ketekunan akan berkembang menjadi kesalehan dan cintakasih. Saleh yang dalam bahasa Jawa-nya ‘sumeleh’, berarti puas dengan  keadaan atau situasi yang dialami saat ini, tidak mengeluh dan menggerutu menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, melainkan tetap tenang, ceria dan penuh senyuman.

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya. …Dia yang mengingat kelemahan kita, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya. Dia yang telah membebaskan kita dari pada lawan kita, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”

(Mzm 136: 1.23-24)

Ign 16 Juli 2011

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: