16 Agustus

0
12

"Bagi manusia hal ini tidak mungkin tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."

(Hak 6:11-24a; Mat 19:23-30)

” Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Mat 19:23-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Besi batangan pun jika digosok terus-menerus dengan keteguhan hati akan menjadi sebatang jarum yang tajam”, demikian salah satu motto promotor Indonesia, Andrie Wongso . Hati adalah pusat diri pribadi manusia, yang juga disadari dan dihayati dimana Allah menyampaikan sabda dan perintahNya, maka sering kita dengar tentang ‘suara hati tidak lain adalah suara Allah, tentu saja suara yang baik dan menyelamatkan jiwa’. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua umat beriman untuk mawas diri perihal keimanan kita: apa artinya beriman. Beriman berarti mempersembahkan dan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya dimanapun dan kapanpun senantiasa dijiwai oleh dan bersama dengan Allah. Bersama dan bersatu dengan Allah segala sesuatu menjadi mungkin, antara lain kesulitan, tantangan dan masalah apapun dapat kita atasi atau selesaikan. Maka hendaknya kita sungguh hidup dijiwai oleh iman kita atau spiritualitas/charisma lembaga dimana kita berada atau menjadi anggotanya; dengan kata lain hendaknya dengan rela hati dan siap berkorban untuk meninggalkan ikatan-ikatan phisik beserta akibat-akibatnya seraya mengimani sabda Yesus “Setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal”. Sabda ini memang menjadi inspirasi dan jiwa bagi mereka yang terpanggil untuk tidak menikah dengan hidup sebagai imam, bruder atau suster. Bukankah hidup imam, bruder atau suster, yang nota bene tidak menikah atau berkeluarga sering menjadi pertanyaan: mungkinkah itu? Jawabnya tidak lain adalah “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin”.

·   "Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” (Hak 6:23), demikian firman Tuhan kepada Gideon, yang dipanggil untuk berperang melawan orang-orang Midian dalam rangka menyelamatkan bangsanya. Dalam ‘dialog’ dengan Tuhan Gideon merasa kecil dan tak mampu melaksanakan tugas panggian tersebut, apalagi jumlah bangsanya kecil dibandingkan jumlah bangsa Midian. Jumlah orang sungguh menentukan pada masa itu dalam hal berperang, karena berperang dengan senjata sederhana seperti pedang atau panah. Secara harafiah ada kesan kurang baik dalam kisah ini, karena ajakan Tuhan untuk berperang alias memusnahkan bangsa atau orang. Maka baiklah firman Tuhan kepada Gideon di atas kita renungkan dan hayati untuk masa kini, yang berarti bersama dan bersatu dengan Allah kita pasti akan selamat, meskipun harus menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan berat. Maka hendaknya jangan takut menghadapi aneka macam tantangan, hambatan atau masalah; tidak takut berarti kinerja syaraf dan metablisme darah berfungsi optimal, dan dengan demikian hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita dalam keadaan segar dan prima  sehingga ada keterbukaan untuk aneka pembaharuan. Dengan kata lain kita dapat menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah dengan semangat ‘licik seperti ular dan tulus seperti merpati’, artinya marilah kita fungsikan secara optimal kecerdasan otak dan hati kita dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Kami juga berharap kepada para orangtua dan pendidik untuk membina anak-anak dan peserta didik agar memiliki kccerdasan otak dan hati secara terpadu atau integral. Marilah kita setia pada iman kita kepada Allah, yang telah mengasihi kita dengan luar biasa. 

“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.”(Mzm 85:11-14)

Ign 16 Agustus 2011

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here