15 Tahun IGCN di Indonesia

IMG-20150707-WA013PETANG hari di Rabu (8/7) lalu dan bertempat di Penthouse Gedung Datascrip, Kemayoran, Jakarta Pusat, Dr. Martha Tilaar tampak ayu dan resik seperti biasanya. Berbalut busana kebaya modern dengan kain tenun hijau lumut, pengusaha jamu dan ramuan kosmetika tradisional, demikian kadang dia memplesetkan diri sendiri, yang telah berusia 77 lebih ini tetap enerjik dan mengagumkan. Acara peringatan ulang tahun ke-15 Indonesia Global Compact Network (IGCN) berlangsung sederhana namun khidmat. Harap diketahui, Dr. Martha Tilaar adalah pendiri IGCN di tahun 2000. Berawal dari Martha Tilaar Martha Tilaar yang mendirikan usaha kosmetika dan jamu di tahun 1977 dari usaha salon yang berpusat di garasi rumahnya, berhasil mengembangkan bisnis kecantikannya menjadi salah satu industri kosmetika terbesar di Indonesia. “Supaya bisnis bisa sustainable, perlu kearifan budaya Indonesia. Yaitu hidup harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan,” demikian kiat sukses Martha Tilaar yang dibagikan kepada para hadirin sore itu. Menjiwai hal tersebut, maka berbagai program pelayanan sosial kemasyarakatan dikembangkan perusahaan, termasuk di antaranya pelatihan kaum perempuan di pedesaan yang tidak memiliki ketrampilan. “Suatu ketika tempat training kami di Bali dikunjungi oleh sebuah NGO Perancis. Mereka terheran-heran ketika tahu bahwa semua kursus yang diberikan tidak perlu bayar malahan peserta kursus diberi sangu. Lalu saya diajak bergabung dalam Global Compact Network yang diinisiasi oleh Kofi Annam, Sekjen PBB saat itu,” cerita Martha Tilaar tentang awal keterlibatannya dengan GCN. Berkembang bersama YW Junardy Selanjutnya Martha Tilaar mencoba mengajak para pebisnis lain untuk menjadi anggota IGCN, tetapi rupanya sulit sekali meyakinkan orang lain akan pentingnya masuk IGCN. Jalan akhirnya terbuka ketika setelah enam tahun hanya berhasil mendapatkan 30 anggota, dia berbincang dengan Hermawan Kertajaya, sang pakar pemasaran Indonesia. Hermawan serta merta mengusulkan nama YW Junardy sebagai orang yang tepat diajak untuk mengembangkan niat baik tersebut. Gayung pun bersambut, profesional ulung yang belasan tahun berkiprah di perusahaan multinasional IBM ini meyakini IGCN merupakan hal mendesak untuk dikembangkan di Indonesia. “Bisnis yang baik dan bertahan perlu melihat tiga aspek, ekonomi, sosial, dan lingkungan,” kata YW Junardy yang sekarang menjabat sebagai Presiden Komisaris Rajawali Group dan aktif di berbagai yayasan sosial. Anggota Board of Global Compact Network dunia Pendekatan dan sosialisasi mengenai IGCN berbuah manis dengan telah bergabungnya 115 anggota sampai sekarang. Keaktifan dan keberhasilan IGCN diakui internasional. Junardy yang menjabat sebagai Presiden IGCN pun diangkat menjadi Presiden Global Compact regional Asia, dan akhirnya pada 25 Juni lalu di New York, Junardy diangkat sebagai anggota Board Global Compact baru oleh Ban Ki-moon, Sekjen PBB saat ini. “Global Compact merupakan kumpulan private sector terbesar di dunia sekarang ini,” jelas Junardy yang Juni lalu diminta memberikan presentasi di pusat PBB di New York tentang Business for Peace. Sekilas IGCN IGCN merupakan bagian dari United Nations Global Compact yang diluncurkan atas inisiatif Sekretaris Jenderal PBB Kofie Annan pada tanggal 26 Juli 2000 sebagai gerakan sukarela dari para pemimpin perusahaan, lembaga akademis, dan LSM yang berkomitmen untuk menerapkan 10 Prinsip Global Compact. 10 prinsip Global Compact Sepuluh Prinsip Global Compact PBB meliputi: Hak Asasi Manusia (HAM) Bisnis harus mendukung serta menghormati perlindungan internasional yang ada dalam deklarasi HAM; Memastikan mereka tidak berkolaborasi dalam penyalahgunaan HAM. Ketenagakerjaan Bisnis seharusnya mendukung kebebasan dalam berserikat dan mengenalkan secara efektif hak tawar kolektif; Mereduksi semua bentuk yang mengintimidasi pekerja; Penghapusan secara efektif pekerja anak; Menghapuskan diskriminasi pekerja anak dan profesi. Lingkungan Bisnis harus mendukung pendekatan preventif yang mengancam lingkungan hidup. Mengambil langkah-langkah inisiatif untuk memromosikan tanggung jawab lingkungan yang lebih luas; Mendukung pembangunan dan menyebarkan teknologi yang ramah lingkungan. Anti Korupsi 1. Bisnis harus bekerja melawan segala bentuk korupsi termasuk pemerasan dan penyuapan. Untuk keterangan lebih jelas bisa melihat website resmi https://www.unglobalcompact.org/ Untuk bergabung dengan IGCN, bisa menghubungi sekretariat IGCN dengan email igcn@indonesiagcn.org.

IMG-20150707-WA013

PETANG hari di Rabu (8/7) lalu dan bertempat di Penthouse Gedung Datascrip, Kemayoran, Jakarta Pusat, Dr. Martha Tilaar tampak ayu dan resik seperti biasanya. Berbalut busana kebaya modern dengan kain tenun hijau lumut, pengusaha jamu dan ramuan kosmetika tradisional, demikian kadang dia memplesetkan diri sendiri, yang telah berusia 77 lebih ini tetap enerjik dan mengagumkan.

Acara peringatan ulang tahun ke-15 Indonesia Global Compact Network (IGCN) berlangsung sederhana namun khidmat. Harap diketahui, Dr. Martha Tilaar adalah pendiri IGCN di tahun 2000.

Berawal dari Martha Tilaar

Martha Tilaar yang mendirikan usaha kosmetika dan jamu di tahun 1977 dari usaha salon yang berpusat di garasi rumahnya, berhasil mengembangkan bisnis kecantikannya menjadi salah satu industri kosmetika terbesar di Indonesia.

“Supaya bisnis bisa sustainable, perlu kearifan budaya Indonesia. Yaitu hidup harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan,” demikian kiat sukses Martha Tilaar yang dibagikan kepada para hadirin sore itu. Menjiwai hal tersebut, maka berbagai program pelayanan sosial kemasyarakatan dikembangkan perusahaan, termasuk di antaranya pelatihan kaum perempuan di pedesaan yang tidak memiliki ketrampilan.

IMG-20150707-WA017
IGCN di sesi sidang PBB di New York (Dok. IGCN)

“Suatu ketika tempat training kami di Bali dikunjungi oleh sebuah NGO Perancis. Mereka terheran-heran ketika tahu bahwa semua kursus yang diberikan tidak perlu bayar malahan peserta kursus diberi sangu. Lalu saya diajak bergabung dalam Global Compact Network yang diinisiasi oleh Kofi Annam, Sekjen PBB saat itu,” cerita Martha Tilaar tentang awal keterlibatannya dengan GCN.

Berkembang bersama YW Junardy

Selanjutnya Martha Tilaar mencoba mengajak para pebisnis lain untuk menjadi anggota IGCN, tetapi rupanya sulit sekali meyakinkan orang lain akan pentingnya masuk IGCN. Jalan akhirnya terbuka ketika setelah enam tahun hanya berhasil mendapatkan 30 anggota, dia berbincang dengan Hermawan Kertajaya, sang pakar pemasaran Indonesia.

Hermawan serta merta mengusulkan nama YW Junardy sebagai orang yang tepat diajak untuk mengembangkan niat baik tersebut.

Gayung pun bersambut, profesional ulung yang belasan tahun berkiprah di perusahaan multinasional IBM ini meyakini IGCN merupakan hal mendesak untuk dikembangkan di Indonesia.

“Bisnis yang baik dan bertahan perlu melihat tiga aspek, ekonomi, sosial, dan lingkungan,” kata YW Junardy yang sekarang menjabat sebagai Presiden Komisaris Rajawali Group dan aktif di berbagai yayasan sosial.

Anggota Board of Global Compact Network dunia

Pendekatan dan sosialisasi mengenai IGCN berbuah manis dengan telah bergabungnya 115 anggota sampai sekarang. Keaktifan dan keberhasilan IGCN diakui internasional. Junardy yang menjabat sebagai Presiden IGCN pun diangkat menjadi Presiden Global Compact regional Asia, dan akhirnya pada 25 Juni lalu di New York, Junardy diangkat sebagai anggota Board Global Compact baru oleh Ban Ki-moon, Sekjen PBB saat ini.

“Global Compact merupakan kumpulan private sector terbesar di dunia sekarang ini,” jelas Junardy yang Juni lalu diminta memberikan presentasi di pusat PBB di New York tentang Business for Peace.

Sekilas IGCN
IGCN merupakan bagian dari United Nations Global Compact yang diluncurkan atas inisiatif Sekretaris Jenderal PBB Kofie Annan pada tanggal 26 Juli 2000 sebagai gerakan sukarela dari para pemimpin perusahaan, lembaga akademis, dan LSM yang berkomitmen untuk menerapkan 10 Prinsip Global Compact.

10 prinsip Global Compact
Sepuluh Prinsip Global Compact PBB meliputi:

Hak Asasi Manusia (HAM)

  1. Bisnis harus mendukung serta menghormati perlindungan internasional yang ada dalam deklarasi HAM;
  2. Memastikan mereka tidak berkolaborasi dalam penyalahgunaan HAM.

Ketenagakerjaan

  1. Bisnis seharusnya mendukung kebebasan dalam berserikat dan mengenalkan secara efektif hak tawar kolektif;
  2. Mereduksi semua bentuk yang mengintimidasi pekerja;
  3. Penghapusan secara efektif pekerja anak;
  4. Menghapuskan diskriminasi pekerja anak dan profesi.

Lingkungan

  1. Bisnis harus mendukung pendekatan preventif yang mengancam lingkungan hidup.
  2. Mengambil langkah-langkah inisiatif untuk memromosikan tanggung jawab lingkungan yang lebih luas;
  3. Mendukung pembangunan dan menyebarkan teknologi yang ramah lingkungan.

Anti Korupsi
1. Bisnis harus bekerja melawan segala bentuk korupsi termasuk pemerasan dan penyuapan.

Untuk keterangan lebih jelas bisa melihat website resmi https://www.unglobalcompact.org/

Untuk bergabung dengan IGCN, bisa menghubungi sekretariat IGCN dengan email igcn@indonesiagcn.org.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply