15 spt

“Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya”
(1Kor 12:31-13:13; Luk 7:31-35)

” Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari
angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama
anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup
seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung
duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia
tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia
kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan
kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat
pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua
orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan SP Maria
Berdukacita hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
•       Mendengarkan dan menerima serta kemudian meresapkan ke dalam hati
apa yang diajarkan atau dibicarakan memang butuh pengorbanan dan
perjuangan serta keutamaan rendah hati. Dalam warta gembira di atas
dikisahkan tentang angkatan orang-orang yang menolak aneka macam
ajaran dan ajakan untuk pembaharuan hidup, bahkan mereka malah
melecehkan mereka yang mengajak dan mengajarkannya. SP Maria dikenal
sebagai teladan umat beriman yang ‘mendengarkan dan merenungkan ke
dalam hati alias menerimanya dengan sepenuh hati’ apa-apa yang
disampaikan kepadanya. Memang pada saat mendengarkan belum faham atau
jelas apa maksudnya, maka perlu direnungkan dan diresapkan kemudian.
Orang yang dapat mendengarkan dan menerima aneka ajakan dan ajaran
untuk pembaharuan hidup pasti akan berhikmat alias bijak, sehingga
selamat dan bahagia serta damai sejahtera perjalanan  hidup dan
panggilannya, serta yang bersangkutan dapat  menjadi teladan dalam
hidup beriman bagi saudara-saudari di lingkungan hidupnya.  Jika anda
mendambakan diri berhikmat dan bijak, marilah kita buka telinga hati,
jiwa dan akal budi serta tubuh kita terhadap suara dan karya Tuhan
yang hidup dan berkarya dalam seluruh ciptaanNya di bumi ini, dalam
diri manusia, binatang maupun tanaman/tumbuh-tumbuhan; dengan kata
lain marilah kita temukan dan jumpai Tuhan yang hidup dan berkarya di
dalam segala sesuatu di dunia ini. Seperti saya katakan diatas untuk
itu memang butuh pengorbanan, perjuangan dan kerendahan hati. Orang
harus siap sedia berdukacita karena kesetiaan dan ketaatan pada
panggilan dan tugas pengutusan, jika mendambakan diri sebagai yang
berhikmat dan bijak.
•       “Berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan
aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi” (1Kor 12:31),
demikian saran atau nasihat Paulus. Jalan yang lebih atau paling utama
untuk berhikmat dan bijak adalah ‘kasih’, dan “Kasih itu sabar; kasih
itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak
sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari
keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan,
tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala
sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”
(1Kor 13:4-7). Ajaran kasih dari Paulus di atas ini menurut Danah
Zohar dan Ian Marshall, penulis buku Spiritual Quotient (SQ)
/Kecerdasan Spiritual, merupakan syair kasih yang terbaik dan luar
biasa tiada duanya di dunia ini, maka jika kita mendambakan diri
tumbuh berkembang menjadi pribadi yang cerdas secara spiritual marilah
kita hayati ajaran kasih Paulus tersebut sebagai jalan atau cara hidup
dan bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Yang mungkin baik saya
angkat disini adalah ‘tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan
orang lain’, mengingat dan memperhatikan masih cukup banyak orang
mudah marah dan menyimpan kesalahan orang lain, yang kemudian
berkembang menjadi permusuhan dan kebencian serta rusaknya hidup
persaudaraan sejati. Marah berarti mendambakan apa yang membuat marah
hilang musnah atau tidak ada lagi, dengan kata lain jika kita memarahi
saudara-saudari kita berarti kita mendambakan mereka segera mati alias
melecehkan dan menindas hak-hak azasi manusia atau harkat martabat
manusia sebagai ciptaan termulia di dunia ini. Memang yang menjadi
akar atau menyuburkan kemarahan adalah kebiasaan menyimpan kesalahan,
kekurangan atau kelemahan orang lain. Maka marilah kita tidak
menyimpan kesalahan, kekurangan dan kelemahan orang lain, apalagi
mengingat dan memperhatikan bahwa diri kita sendiri penuh dengan
kesalahan, kekurangan dan kelemahan. Menghayati kasih sebenarnya
mudah, jika masing-masing diri kita menghayati diri sebagai yang
terkasih, sehingga bertemu dengan siapapun berarti kasih bertemu
dengan kasih dan dengan demikian otomatis saling mengasihi.
“Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan
gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah
kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!Sebab firman TUHAN itu benar,
segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada
keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN” (Mzm 33:2-5)

Ign 15 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: