15 Nov

“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."
(2Mak 6:18-31; Luk 19:1-10)
“Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Luk 19:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·     Zakheus adalah orang baik dan berbudi pekerti luhur yang terjebak dalam ‘dosa struktural’ dengan kerja sebagai kepala pemungut cukai atau pajak. Sebagaimana masih terjadi di Indonesia saat ini dimana perpajakan senantiasa menjadi ‘lahan untuk korupsi’, demikian juga pada masa itu. Ia termasuk disebut orang berdosa karena pekerjaannya, namun demikian karena sebenarnya ia adalah orang baik dan berbudi pekerti luhur maka ketika Yesus melintasi kota Yerikho dimana Zakheus bertugas, ia tergerak untuk melihat dan bertemu dengan Yesus. Dalam kenyataan hidup kita bersama kiranya juga kita temukan atau hadapi ‘yang hilang’ atau ‘berdosa’  misalnya: bodoh, nakal, kurang ajar, malas, malu, amburadul/tidak teratur, boros dst.. Mereka menjadi demikian itu hemat saya bukan karena kesalahan mereka, melainkan mereka menjadi korban lingkungan hidup, maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk meneladan Yesus yang “datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”, dengan kata lain marilah kita beri perhatian dan kasihi mereka ‘yang hilang’ tersebut dengan rendah hati dan kerja keras. Secara khusus kami ajak dan ingatkan para orangtua atau guru/pendidik untuk tidak melecehkan atau merendahkan anak-anak atau peserta didik ‘yang hilang’, tetapi didiklah dan dampingilah dengan semngat ‘cinta kasih dan kebebasan’. Secara konkret marilah kita kerahkan atau boroskan waktu bagi yang hilang sehingga ‘yang bodoh menjadi cerdas/pandai, yang nakal menjadi baik, yang kurang ajar menjadi tahu ajaran, yang malas menjadi rajin, yang tak teratur menjadi teratur’ dst..
·    "Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan juga, oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing. Boleh jadi mereka kusesatkan dengan berpura-pura demi hidup yang pendek dan fana ini dan dalam pada itu kuturunkan noda dan aib kepada usiaku” (2Mak 6:24-25). Kutipan ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan, yaitu “berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan”. Memang pada masa kini cukup banyak orang hidup ‘berpura-pura’ atau ‘bersandiwara”, tidak jujur dan terbuka pada diri sendiri. Bodoh pura-pura pandai atau tahu segalanya, pendosa pura-pura suci, miskin pura-pura kaya, dst.; cara hidup dan bertindak pura-pura akan mencelakakan diri sendiri maupun orang lain yang hidup bersama dengan orang yang berpura-pura. Sekali lagi saya berseru dan berharap kepada para orangtua maupun guru/pendidik: hendaknya tidak bersandiwara dalam cara hidup maupun cara bertindak, karena permainan sandiwara kehidupan yang anda lakukan akan mencelakakan diri anda sendiri maupun anak-anak atau peserta didik. Hendaknya anda belajar dari anak-anak kecil yang tak pernah berpura-pura dan bersandiwara dalam kehidupan, melainkan senantiasa jujur dan polos adanya. Anda sendri juga pernah menjadi anak kecil, maka kenangkan sikap hidup yang jujur dan polos pada masa kecil tersebut dan kemudian hayati dan perdalam kejujuran dan kepolosan tersebut untuk masa kini dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Para orangtua maupun guru/pendidik hendaknya dapat menjadi teladan dalam penghayatan kejujuran dan kepolosan bagi anak-anak atau para peserta didiknya.
Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku! Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan?  Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya. Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam” (Mzm 4:2-5)
Ign 15 November 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: