14 Mei – Kis 1:15-17.20-26; Yoh 15:9-17

“Kamu adalah sahabatKu jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”.

(Kis 1:15-17.20-26; Yoh 15:9-17)

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh 15:9-170, demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Matias, Rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Rasul memang sungguh menjadi sahabat Yesus, dan karena Yesus adalah Tuhan maka bersahabat denganNya mau tidak mau pasti dikuasaiNya atau harus berbuat sebagaimana diperintahkan olehNya. Jabatan atau fungsi rasul ini pada masa kini diemban oleh para uskup. “Para Uskup, yang berdasarkan penetapan ilahi adalah penggani-pengganti para rasul lewat Roh Kudus yang dianugerahkan kepada mereka, diangkat menjadi gembala-gembala dalam Gereja agar mereka sendiri menjadi guru dalam ajaran, imam dalam ibadat suci, dan pelayan dalam kepemimpinan” (KHK kan 375.1). Jabatan rasuli masa kini berarti menjadi guru, imam dan pelayan. Kiranya tidak hanya para Uskup saja yang memiliki fungsi tersebut, kita semua yang beriman dan bersahabat dengan Yesus juga dipanggil untuk menjadi rasul , sebagai guru, imam dan pelayan tetapi secara fungsional bukan jabatan. Sebagai guru pada umumnya mengajar dengan kata-kata, entah itu berupa hal baru, nasihat, saran dst.., maka hendaknya sebagai umat beriman kita senantiasa berkata-kata apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan orang lain. Menghayati imamat umum kaum beriman berarti cara hidup dan cara bertindak kita dapat menjadi korban persembahan kepada Tuhan sekaligus berkat bagi sesama. Sedangkan menghayati semangat pelayanan berarti cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa membahagiakan orang lain dengan rendah hati, lemah lembut, sabar, dst..  Maka sebagai sesama umat beriman marilah kita saling berbuat baik, berkorban dan membahagiakan dimanapun dan kapanpun.

·   "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya." (Kis 1:24-25), demikian doa para rasul dalam rangka penggantian jabatan rasul, yang ditinggalkan Yudas. Pilihan akhirnya jatuh pada seseorang bernama Matias, yang kita rayakan hari ini. Cara pemilihan pengganti atau penerus ini kiranya bagi kita lakukan atau hayati dalam hidup maupun kerja kita ketika harus memilih pengganti jabatan atau fungsi. Hendaknya dalam pemilihan kita tidak hanya mengandalkan aneka informasi manusiawi belaka, tetapi juga mengandalkan Tuhan. Dengan kata lain mereka yang memiliki hak untuk memilih kami harapkan lebih banyak berdoa: berdoa mohon pencerahan atau petunjuk dari Tuhan agar pilihan yang kita jatuhkan sesuai dengan kehendak Tuhan, yang terpilih sungguh dapat menghayati fungsi rasuli atau menjadi ‘man or woman with/for others’.  Pemilihan jabatan atau fungsi yang diselenggarakan secara terbatas alias melalui perwakilan sebagaimana terjadi dalam konggres organisasi atau partai atau yayasan, hendaknya mereka yang menjadi wakil-wakil penuh iman dan dijiwai oleh doa, sebagaimana terjadi dalam pemilihan Paus atau Konklaf.  Mereka yang terpilih menjadi pemimpin hendaknya menghayati kepempimpinan partisipatif dengan semangat melayani: berani berkorban bagi yang dipimpin, dan senantiasa dengan sepenuh hati dan kerja keras berusaha membahagiakan mereka yang dipimpin. Untuk itu seorang pemimpin hendaknya sering ‘turba’/turun ke bawah alias mendatangi atau mengunjungi mereka yang dipimpin secara adil dan penuh cintakasih. Pemimpin hendaknya rela memboroskan waktu dan tenaga bagi yang dipimpin.

 

“Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN. TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.” (Mzm 113:1-4).

         

Jakarta, 14 Mei 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: