14 Feb – Yer 17:5-8; 1Kor 15:12.16-20; Luk 6:17.20-26

"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Mg Biasa VI : Yer 17:5-8; 1Kor 15:12.16-20; Luk 6:17.20-26


Deso mowo coro, negoro mowo toto” (= desa memiliki adat istiadat, negara memiliki hukum), demikian kata pepatah Jawa. Pepatah tersebut menggambarkan bahwa hidup bersama dimanapun dan kapanpun terikat pada aturan, entah tertulis atau lisan. Di dalam kehidupan bersama masing-masing pribadi harus mentaati dan melaksanakan aturan yang telah disepakati dan dimaklumkan jika mendambakan kebahagiaan dan keselamatan. Aturan-aturan tersebut merupakan pedoman atau petunjuk untuk hidup bahagia, damai sejahtera dan selamat. Sebagai orang/kelompok yang beriman kepada Yesus Kristus kita juga dipanggil untuk melaksanakan atau menghayati pedoman yang diajarkan oleh Yesus. Ada banyak ajaran dan kutipan sabdaNya hari ini, sabda bahagia, hemat saya dapat menjadi acuan atau pedoman hidup kita, maka baiklah secara sederhana saya sampaikan refleksi atas sabda-sabda  Yesus hari ini:

 

·        "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6:20).

Kemiskinan adalah benteng dan ibu hidup membiara”, demikian kata St.Ignatius Loyola. Kata ‘hidup membiara’ kiranya juga dapat diganti dengan ‘hidup beriman’, maka semangat hidup miskin adalah benteng dan ibu hidup beriman. Sikap mental hidup miskin berarti lebih mengandalkan diri pada Allah atau Penyelenggaraan Ilahi daripada harta benda duniawi. Maka apa yang dikatakan dengan “Berbahagialah, hai kamu yang miskin” dalam sabda bahagia hari ini kiranya dapat diartikan sebagai ajakan untuk memfungsikan harta benda duniawi sedemikian rupa sebagai sarana untuk semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin suci, semakin dirajai atau dikuasai oleh Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindaknya. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua: marilah kita tinggalkan dan berantas semangat materialistis dalam kehidupan bersama kita, jika kita mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera sejati. .   

 

·        “Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk 6:21).

Lapar dan menangis berarti sedang mengalami kekurangan sesuatu, dan pada umumnya mereka yang sedang lapar dan menangis senantiasa siap untuk dibantu. Marilah hal ini kita fahami secara spiritual, yang berarti mengalami kekurangan dalam ilmu-ilmu atau nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan untuk hidup bahagia dan damai sejahtera lahir batin. Dengan kata lain maksud sabda bahagia diatas adalah “Berbahagialah mereka yang dengan penuh pengorbanan dan perjuangan siap sedia untuk dibina dan dididik, ditumbuh-kembangkan terus menerus”. Sebagai orang beriman menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan berdosa serta dipanggil oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia. Sebagai manusia menyadari dan menghayati diri sebagai ‘tanah liat yang senantiasa siap dibentuk’ oleh orang lain melalui berbagai kesempatan dan kemungkinan (pendidikan/ sekolah, pergaulan, kerja, dst..). Lapar dan menangis tetap berbahagia berarti berbahagia dalam perjuangan dan pengorbanan.   

 

·        “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi  “.(Luk 6:22-23)

Hidup sungguh beriman, baik, berbudi pekerti luhur sering merasa berada ‘di ujung tanduk’, dalam ancaman dan bahaya terus-menerus di tengah-tengah kehidupan bersama yang masih sarat dengan aneka bentuk kemerosotan moral  masa kini. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk meneladan Dia, yang awal kedatanganNya di dunia ini mengalami aneka penderitaan dan pada akhir tugas perutusanNya dalam rangka menyelamatkan dunia harus menderita dan wafat di kayu salib. “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1Kor 15:22-23), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Kesaksian Paulus ini kiranya senada dengan pepatah Jawa “Jer basuki mowo beyo” (= Untuk hidup bahagia, damai sejahtera, orang harus berjuang dan berkorban).

Kami berharap pada kita semua, umat beriman, untuk tidak takut dan malu menghayati imannya di mana saja dan kapan saja. Iman lebih berarti untuk dihayati daripada dibicarakan, maka penghayatan iman merupakan cara utama dan pertama dalam pewartaan kabar baik. Biarlah karena kesaksian iman kita dengan tetap setia pada iman meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, orang akan tertanya-tanya dalam dirinya “Ada kekuatan apa dalam diri mereka?”. Sebagai orang yang telah dibaptis dan mengenakan nama baptis, kami ajak untuk hidup dan bertindak meneladan santo atau santa yang menjadi pelindung kita masing-masing, yang namanya kita abadikan dalam diri kita.

     

·         “Celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”(Luk 6 24-26) 

 

Ada pepatah “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.  Pepatah ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup penuh pengorbanan dan perjuangan demi kebahagiaan abadi. Sayang cukup banyak orang terbalik, bukan bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian, melainkan bersenang-senang dahulu dan sakit berlama-lama atau selama hidup. Hal ini nampak dalam aneka macam jenis penyakit yang muncul saat ini, misalnya: HIV, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kurang gizi, dst.., yang menunjukkan bahwa orang hidup berfoya-foya seenaknya dan kemudian baru berhenti setelah muncul penyakit yang mengancam hidupnya.

 

Kami berharap kepada mereka yang gila akan kekayaan, makanan dan minuman maupun kehormatan duniawi untuk menyadari diri dan bertobat. Mereka yang bersikap mental materialistis dan duniawi kami harapkan menyadari diri bahwa hal itu akan membawa masa depan anda ke penderitaan berkepanjangan, dimana masa tua atau lansia akan menderita karena penyakit yang ada dalam dirinya maupun karena menyaksikan anak cucu yang juga sakit-sakitan. Sabda Yesus di atas cukup keras bagi mereka yang bersikap mental materialistis. Marilah kita renungkan seruan Yeremia ini : "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN” (Yer 17:5-7)   

 

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”(Mzm 1:1-3)

Jakarta, 14 Februari 2010.

“Gong Xi Fa Chai”

Happy ‘Valentine day’

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: