14 Feb – Kej 4:1-15.25; Mrk 8:11-13

"Mengapa angkatan ini meminta tanda?”

(Kej 4:1-15.25; Mrk 8:11-13)

 

“Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.” (Mrk 8:11-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Sirilus, pertapa, dan St.Metodius, uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Farisi pada umumnya lebih berpegang pada aneka aturan yang tertulis, dan kurang terbuka terhadap aneka kemungkinan yang muncul di luar jangkauan apa yang tertulis, maka dalam cara hidup dan cara bertindaknya pada umumnya kaku. Mereka kurang atau tidak terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi, bisikan Roh Kudus dalam seluruh ciptaan Allah di dunia ini. Maka ketika mereka bersoal jawa dengan Yesus perihal ‘tanda dari sorga’, Yesus tak menanggapinya, karena pertanyaan mereka lebih bersifat mencobai Yesus. Hari ini kita kenangkan seorang pertapa dan seorang uskup, yang hemat kami dalam iman mereka penuh dengan Roh Kudus. Sebagai umat beriman kita semua kiranya juga percaya pada Penyelenggaraan Ilahi atau bisikan Roh Kudus di dalam hidup sehari-hari, maka marilah kita hayati iman kita tersebut. Mengimani Penyelenggaraan Ilahi berarti memiliki sikap terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan untuk terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehendak Tuhan. Baiklah pertama-tama dan terutama kita lihat dan hayati Penyelenggaraan Ilahi dalam diri kita masing-masing, antara lain menganugerahi kehidupan dan daya bertumbuh dan berkembang atau berubah terus menerus. Rekan-rekan perempuan kiranya lebih dapat menghayati Penyelenggaraan Ilahi tersebut ketika sedang mengandung anak di dalam rahimnya. Jika kita mampu mengimani Penyelenggaraan Ilahi dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, maka dengan mudah kita mengimani Penyelenggaraan Ilahi dalam diri saudara-saudari kita maupun ciptaan Allah lainnya di dunia ini. Sabda hari ini juga mengingatkan kita semua agar tidak bersikap materialistis dalam cara hidup dan cara bertindak kita sehari-hari.


·   "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." (Kej  4:1), demikian kata Hawa ketika mengetahui dirinya mengandung setelah bersetubuh dengan Adam, suaminya. Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita. Anak adalah anugerah Tuhan bagi suami-isteri yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, yang antara lain ditandai dengan persetubuhan atau hubungan seksual. Sebagai anugerah Tuhan anak-anak harus dididik dan dibesarkan di dalam Tuhan atau sebagaimana ditegaskan dalam Konsili Vatikan II dalam Dekrit tentang Pendidikan hendaknya anak-anak dididik dalam semangat ‘kebebasan dan cintakasih injili’. Bukankah anak ada karena cintakasih dan kebebasan suami-isteri, laki-laki dan perempuan? Bukankah cintakasih antar suami-isteri sungguh bebas dan tidak ada paksaan?  Maka selayaknya anak-anak yang lahir dalam kebebasan dan cintakasih kemudian dididik dan dibesarkan dalam kebebasan dan cintakasih juga. Memang tidak mudah mendidik atau mendampingi anak-anak dalam kebebasan dan cintakasih, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orangtua masa kini lebih cenderung memaksa anak-anaknya untuk ini dan itu alias memproyeksikan dirinya pada anak-anaknya begitu saja. Sebagai contoh di kota-kota besar seperti Jakarta, entah karena situasi atau tuntutan, anak-anak kalau di rumah cenderung dikurung dan tidak boleh pergi kemana-mana, antara lain diberi kesibukan mainan computer atau aneka les privat. Anak-anak yang menjadi korban macam itu akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang egois dan kurang sosial atau peduli terhadap sesamanya maupun lingkungan hidupnya. Maka untuk mengimbangsi hal tersebut kami mengingatkan para orangtua atau bapak-ibu untuk mengusahakan waktu khusus bagi seluruh anggota keluarga untuk ‘libur bersama’. ‘Libur bersama’ tidak perlu jauh-jauh dan mahal dan dapat dilakukan di tempat-tempat rekreasi di dalam kota dan sekitarnya. Beri kesempatan anak-anak untuk hidup dalam kebebasan dan cintakasih injili.

 

"Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku” (Mzm 50:16b-17)

 

Jakarta, 14 Februari 2011

“HAPPY VALENTINE DAY”

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: